Uji Petik Protokol Kesehatan, Masjid Al Mufidah Ketintang ”Lulus”

0
168
Andi Hariyadi (kanan) bersama takmir Masjid Al Mufidah Ketintang saat uji petik protokol kesehatan. (Andi/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – “Perjuangan dan pengorbanan para takmir masjid Muhammadiyah agar masjidnya bisa digunakan kembali beribadah yang sesuai protokol kesehatan sungguh luar biasa,” kata Andi Hariyadi, sekretaris MCCC Kota Surabaya, saat uji petik di Masjid Al Mufidah Ketintang Surabaya, Rabu kemarin (24/6/2020).

Ya, MCCC Surabaya memang telah melakukan sosialisasi dan visitasi dan kemarin dilakukan uji petik pada 42 masjid yang sudah sesuai protokol kesehatan untuk melihat konsistensi dan kedisiplinan dalam penerapan protokol kesehatan masjid.

Andi melanjutkan, tim uji petik dari MCCC Kota Surabaya telah terjun langsung ke masjid dan mendapat beberapa temuan masjid yang tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan. Meski begitu, juga ada masjid yang terlihat kurang maksimal dalam penerapan protokol kesehatan masjid.

”Misalnya, petugas thermo gun, petugas pengatur shaf, data kehadiran jamaah masjid, dan lainnya. Karena itu, diharapkan untuk tetap disiplin mematuhi protokok kesehatan masjid. Masjid Muhammadiyah harus bisa menjadi teladan dalam jihad kemanusiaan di saat pandemi Covid-19,” tegasnya.

Sementara itu, Ustadz Tohari Ibnu Rachmat, ketua Takmir Masjid Al Mufidah Ketintang, menyampaikan bahwa masjid ini berada di pinggir jalan raya. Karena itu, pihaknya bersama takmir lainnya harus mematuhi protokol kesehatan di masjid guna meminimalkan persebaran Covid-19.

“Masjid Al Mufidah Ketintang berada di wilayah RW 01 yang termasuk zona hijau dan menjalin kerja sama dengan RW dan tokoh masyarakat untuk disiplin dalam penerapan protokol kesehatan. Saya berharap bisa shalat Idul Adha di jalan seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Andi Hariyadi menambahkan, kesiapan takmir dan kesigapan para petugas jaga patut diberi penghargaan. Saat masuk pintu gerbang masjid, petugas jaga langsung menanyakan apakah membawa sajadah. Terus dipersilakan masuk pintu di samping masjid yang sudah ada pemuda dengan APD-nya untuk mengukur suhu badan.

Setelah dinyatakan normal, jamaah diberi tas untuk menyimpan sandal dan tangan disemprot disinfektan. Lalu, masuk masjid mengisi buku kehadiran dan dipersilakan mengisi shaf yang sudah berjarak.

”Dilanjut shaat Isya berjamaah dengan bermasker. Habis shalat berzikir, tanpa shalat sunah di masjid tetapi dilaksanakan di rumah. Ketika keluar, tangan disemprot disinfektan oleh petugan dan meninggalkan masjid tanpa berkerumun,” tandas Andi Hariyadi. (Andi/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here