Ibrah Kehidupan #173: Umar Bin Abdul Aziz, Legenda Jinggo Jipe, Sungguh Mengharukan (5)

0
226
Republika

KLIKM.CO

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Sungguh banyak serpihan kisah perjalanan hidup sang khalifah (Umar Bin Abdul Aziz) ini, salah satunya adalah keteladanan tentang kesederhanaan dalam hidup.
Al-Kisah dalam salah satu Riwayat disebutkan suatu saat pada hari jum’at sudah terjadwal bahwa yang akan bertindak sebagai khatib dan imam di masjid negara di Damaskus adalah khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Seperti biasanya umat Islam pun sejak pagi sudah siap-siap dan bahkan mulai berdatangan ke masjid agar mendapat shaf depan, atau paling tidak bisa masuk di hall utama atau ruangan utama masjid. Harapan jamaah tidak lain untuk mendengarkan khutbah dari sang khalifah yang biasanya selalu berkaitan dengan tausiyah keimanan, akhlaq dan tata kehidupan berjamaah sehari-hari mereka.
Waktu shalat zduhur akan segera tiba, jamaah sudah memenuhi ruangan-ruangan masjid, bahkan Sebagian harus rela menempati luar area masjid karena meluber.

Tidak seperti biasanya, jika waktu sudah mendekati manjing sang khalifah pun sudah siap di tempat. Tetapi kali ini sang khalifah belum juga datang. Tetapi jamaah tetap optimis bahwa sebentar lagi sang khalifah sebagai khatib akan segera datang.

Tepat manjing waktu zduhur sudah tiba, tetapi sang khalifah belum juga tiba. Para pejabat negara yang ada di situ mulai gelisah, maklum belum ada telpon, belum ada gadged, komunikasinya hanya lewat komitmen kesediaan dan perjanjian.
Kegelisahan pun memuncak karena waktu sudah lewat Panjang dan sang khalifah pun belum datang. Para takmir gelisah, para pejabat pun gelisah. Mereka menyayangkan tingkat keteladanan sang khalifah, masak khutbah jum’at harus ditunda, diundur, atau diganti dengan khatib lain. Sedangkan selama ini Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikenal disiplin dan selalu memberi keteladanan yang baik.
Dalam situasi panik itu, terlihatlah dari kejauhan sang khalifah Umar bin Abdul Aziz berjalan setengan berlari menuju masjid. Sesampainya di masjid, para pengurus dan pejabat pun langsung mempersilahkan naik mimbar karena waktu zhuhur sudah mendekati ambang batas, dan matahari pun lingsir ke arah barat semakin condong.

Usai khutbah dan shalat jum’ah, sang khalifah didudukkan dan “diadili” bersama oleh para pejabat yang ada di situ : Mengapa khalifah terlambat datang untuk berkhutbah? Bukankah sebaik-baik shalat adalah tepat waktu?, pejabat yang lain juga menanyakan komitmen khalifah tentang kedisiplinan dan keteladanan : Kalau pemimpinnya saja tidak bisa memberi teladan lalu bagaimana rakyatnya nanti?
Setelah semua pejabat menyampaikan kritik kepada khalifah, giliran khalifah memberi jawaban : saudara-saudara sekalian sudah menjadi kewajiban saya meminta maaf atas semua kesalahan saya selama ini khususnya keterlambatan berkhutbah pada hari jum’ah ini.

Sekedar saudara tahu saja, bahwa baju saya ini ada dua, jika yang satu saya pakai maka yang satu saya cuci. Begitu yang saya cuci itu kering maka yang saya pakai ini saya lepas untuk dicuci. Jadi ringkasnya “satu saya pakai, satu saya jemur” atau dalam ungkapan bahasa jawa dikenal “Jinggo Jipe” (siji dienggo, siji dipepe).
Saudara-saudara, tadi di rumah, saya betul-betul gelisah, karena baju yang saya pakai sudah kotor saatnya dicuci, sedangkan yang saya jemur belum kering. Saya menunggu agar yang saya jemur sedikit kering biar layak saya pakai, itulah yang menyebabkan keterlambatan saya hadir di masjid ini. Sekali lagi saya mohon maaf atas semua kekhilafan ini.

Mendengar jawaban khalifah Umar bin Abdul Aziz perihal sebab keterlambatannya itu, semua yang hadir di situ menitikkan air mata bahkan Sebagian tidak bisa menahan tangisnya sembari mereka berbalik memohon maaf kepada khalifah karena telah salah duga selama ini.

IBRAH DARI KISAH INI :

Allahu akbar, bagaikan drama singkat, kejadian yang begitu mengharukan dan sekaligus menjadi bahan “sindiran” bagi para pejabat. Betapa kesederhanaan peri kehidupan khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Kesederhanaan dalam kehidupan kesehariannya sungguh-sungguh dibuktikan dengan nyata dan bukan dibuat-buat atau pencitraan, tetapi memang begitulah keadaan yang dilakukan sesungguhnya. Termasuk soal pakaian, beliau hanya memiliki dua baju. Kita bisa membayangkan seorang kepala negara yang pada zamannya beliau termasuk khalifah yang berhasil sukses dalam pengumpulan perbendaharaan negara. Tetapi hanya punya 2 helai baju dan digunakan bergantian.

Jika Khalifah kebingungan (galau dan cemas) memikirkan keringnya baju yang dijemur untuk segera dipakai jum’atan, maka kita sekarang ini sering kebingungan (galau dan cemas) memilih baju yang akan kita pakai lantaran banyaknya baju atau pakaian yang kita miliki.

Di sini kita bukan bermaksud menyuruh agar para pemimpin hanya memiliki dua baju saja, bukan. Tetapi tingkat kesederhanaan itulah kata kunci yang kita ambil, setidak-tidaknya milikilah pakaian yang baik tetapi jangan berlebih-lebihan, jangan berhura-hura, apalagi jika kebetulan menjadi pemimpin, harus memberi keteladanan yang baik.

Jika Khalifah Umar bin Abdul Aziz bingung menunggu keringnya baju, maka kita jangan sampai bingung memilih baju.
Wallahu a’lamu bis-Shawab.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here