Umat Islam: Eksklusif dalam Iman, Inklusif dalam Pergaulan

0
252
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Saya eksklusif dalam iman, tapi inklusif dalam pergaulan antariman.

Siapa bisa membantah tentang dua mainstream saling menjauh, saling melawan, dan saling mengalahkan: benarkah jika keberadaan agama mulai dipertanyakan karena pemeluk agama dan pengguna iman gagal membuktikan?

Pertama, mainstream yang ingin menjadikan agama sebagai identitas, benar salah, jumlah pemeluk mayoritas dan minoritas, atas dan bawah dalam memandang relasi dengan kekuasaan, dan puncaknya adalah menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menjalankan syariat agama.

Kekuasaan untuk mengintimidasi, menindas, dan menghilangkan siapapun yang berbeda.

Kedua, menjadikan agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi, meletakkan agama dalam kesetaraan, komunikasi yang sehat, dan harmoni antariman, moderasi untuk menciptakan ruang dialog dan afirmasi perbedaan dan keragaman dalam konteks humanitas. Bahwa tidak ada paksaan dalam beragama sebagai wujud moderasi dan sikap tengahan (wasath al awsath).

Anda berdiri pada yang mana?

***

Identitas dan agama dipolitisi, dijadikan kuda tunggangan untuk merebut kekuasan, bukan kedamaian yang didapat. Tapi, kekacauan di mana-mana. Umat terbelah, dicabik puluhan aliran mazhab dan sekte.

Kristen pernah luluh lantah dan merasakan betapa sakit dan menderitanya selama puluhan abad, ketika gereja menjadi alat untuk membunuh dan menghilangkan siapapun yang berbeda dan ‘melawan Tuhan’.

Pun dengan imam Ahmad bin Hanbal yang harus jibaku mempertahankan pendapat di depan khalifah Al Mu’tashim yang kebetulan berbeda mazhab tentang Quran itu makhluk atau bukan. Tegas menjelaskan bahwa perbedaan dan perang bisa terjadi dalam seiman, jika kekuasaan dijadikan pendekatan.

Setiap agama punya sejarahnya sendiri. Ketika identitas dijadikan alat pandang yang terjadi adalah perpecahan permusuhan dan berakhir perang. Tak satupun masalah bisa diselesaikan dengan perang, kecuali kesengsaraan umum. Buya Hamka menjelaskan dalam tafsir Al Azhar bahwa titik temu agama dalam iman adalah pada substansi ajaran, bukan pada bentuk formalnya.

***

Lantas, bagaimana meletakkan agama dalam perbedaan? Di manakah moderasi dan wasathiyah bisa diletakkan proporsional dan berperan signifikan? Pertanyaan klasik dan tak mudah diurai, sebab realitasnya masing-masing agama punya watak destruktif dikarenakan sifatnya yang ofensif.

Di sinilah reduksi ajaran agama bermula. Perang suci atau perang sabil mendapatkan bahan bakarnya, untuk menyalakan amuk karena iman. Lantas, kaum ateis bertanya sinis: masih perlukah agama jika adanya hanya membuat kacau dan penyebab semua konflik? Tidak perlu repot-repot bikin jawaban, para pemeluk agama dan pengguna iman cukup membuktikan bahwa agama yang dipeluknya masih diperlukan.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here