Unik, Mahasiswa Pascasarjana Ini Pilih Pembelajaran Luar Kelas dengan Dress Code Yellow

0
248
Foto para mahasiswa pascasarjana UMSurabaya sesaat setelah perkuliahan dengan konsep outdoor diambil oleh ahmad

KLIKMU.CO – Berawal dari unek-unek yang “liar”, kuliah di luar kelas itu akhirnya terlaksana juga. Pembelajaran luar ruangan (outdoor) pun menjadi penutup perkulian semester III mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya). Pembelajaran ini juga semacam menjadi gerbang pembuka untuk semester IV yang tinggal tugas akhir tesis.

“Kami kan perlu banyak konsultasi dengan dosen mengenai tesis yang akan kami ambil. Kami juga butuh kebersamaan karena kebetulan ini juga pertemuan terakhir semester III ini. Jadi, kuliah di luar lebih asyik sepertinya,” kata Tya, salah seorang mahasiswa, ketika ditanya alasan mengadakan perkuliahan outdoor oleh Klikmu yang sekaligus menjadi bagian dari sekelompok mahasiswa itu.

“Selama itu positif, mau kuliah di mana saja, kapan saja, saya oke. Saya selalu mendukung apa saja yang diinginkan mahasiswa asal semua itu tidak mengabaikan tujuan pembelajaran,” sambung Dr Ali Nuke Affandy, dosen pengampu mata kuliah metodologi penelitian, sekaligus kepala Pascasarjana PBSI UMSurabaya.

Persetujuan Pak Ali barangkali juga karena menurut BAN-PT Dikti perkuliahan tidak mesti dilakukan di dalam ruangan. Harus ada sekali atau dua kali pertemuan yang diadakan di luar. Demikian itu hasil dialog pada visitasi akreditasi sebelumnya yang juga diberitakan Klikmu.

Akhirnya, Ahad lalu (17/2) diputuskanlah lokasi pertemuan tersebut. Karena pembelajaran luar kelas, suasana pun dibuat lebih santai, intim, dan menyenangkan, tetapi tidak kehilangan esensi. Atas petunjuk Bu Asih dan Bu Retno, lokasi yang dipilih adalah Rumah Makan dan Pemancingan Anda, Sidoarjo. Menurut beberapa mahasiswa, tempat ini menjadi pilihan karena kenyamanan yang dapat mendukung terciptanya kebersamaan. Klop dengan alasan dalam pertemuan terakhir ini.

Foto suasana diskusi diambil oleh ahmad

Ada 11 mahasiswa plus seorang dosen yang terlibat dalam perkuliahan bertopik “konsultasi draf proposal penelitian”. Memang, 11 mahasiswa ini semester depan akan melakukan penelitian guna penyusunan tesis.

Hubungan antara dosen dan mahasiswa tampak terjalin begitu baik pada pertemuan itu. Apalagi, dosen wali yang dikenal begitu ramah dan berpenampilan “nyentrik” ini memang menjadi idola mahasiswa. Karena itu, baik di dalam maupun di luar kelas seperti Ahad lalu, pembelajaran senantiasa berlangsung gayeng.

Hal itu sejalan dengan apa yang tercantum dalam standar 5 BAN-PT Dikti tentang kurikulum dan suasana akademik. Dalam borang standar tersebut, disebutkan bahwa suasana akademik adalah kondisi yang dibangun untuk menumbuhkembangkan semangat dan interaksi akademik antara mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan maupun pihak luar untuk meningkatkan mutu kegiatan akademik.

Masih dalam koridor terbentuknya suasana akademikE yang kondusif, outdoor learning yang dinisiasi mahasiswa Pascasarjana PBSI UMSurabaya ini sekurang-kurangnya mencakup tiga tujuan. Pertama, setiap mahasiswa mampu mengeluarkan gagasan dan pendapat secara (lebih) terbuka dan memperoleh tanggapan dalam suasana yang luwes. Kedua, memberikan kesempatan bagi dosen untuk lebih mengenali minat mahasiswa terhadap topik-topik yang akan dijadikan penelitian sehingga dapat memberi arahan yang bersifat “touch heart”. Ketiga, memberikan ruang untuk membangun hubungan yang lebih baik antara dosen dan mahasiswa sehingga ada ikatan kekeluargaan yang berimbas pada kontribusi mahasiswa setelah menjadi alumni kelak.

“Mahasiswa PBSI UMSurabaya memang selalu kompak. Apalagi angkatan ini. Mereka sangat smart, menyenangkan, dan kompak, baik dalam hal akademik maupun nonakademik. Lihat saja, jarang-jarang ada kuliah pakai dress code,” tutur alumnus doktoral Unesa yang juga ahli ilmu sosial itu. Ya, guna memperlihatkan keserasian dan keakraban, para mahasiswa tersebut mengenakan dress code warna kuning. Sang dosen pun tak ketinggalan.

Seperti niat semula, para mahasiswa tak hanya ingin bersenang-senang. Mereka juga berharap mendapat ilmu yang bermanfaat. Maka, mereka pun sudah membawa draf proposal tesis untuk dikonsultasikan kepada Pak Ali Nuke sebelum kemudian beberapa di antaranya beralih ke pemimbing lain.

“Kami selalu saling memberi semangat. Kalau ada teman yang belum selesai mengerjakan tugas, padahal esok sudah deadline, kami selalu men-support walaupun dengan ikut melekan dan memantau lewat WhatsApp group,” cerita Mira, yang langsung diiringi salam kompak dari sederet mahasiswa dengan nuansa pakaian kuning ini.

Pembelajaran di luar kelas semacam ini setidaknya dapat menggabungkan dua hal, yaitu edukatif dan rekreatif. Dengan tercapainya dua hal itu, tujuan utama pembelajaran akan mudah diraih. Dalam perkuliahan kali ini, misalnya. Sejalan dengan topiknya, yaitu diskusi draf proposal, suasana perkuliahan yang kondusif menjadi hal utama dalam pembelajaran.

Bagaimana tidak, dalam pertemuan ini, masing-masing mahasiswa harus mengonsultasikan ide dan rancangan penelitian yang mendasari penulisan tesisnya. Konsultasi perorangan ini membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kurang efektif dan mungkin juga menjemukan jika hanya dilangsungkan di dalam kelas. Pembelajaran di luar kelas dengan suasana santai seperti inilah, kadang-kadang, yang sesuai sebagai metode pembelajaran.

Setelah bertungkus lumus dengan draf tesis yang penuh coretan dosen, pertemuan diakhiri dengan sesi foto bersama. Ya, momen foto ini seperti menjadi “jeda” bagi kesebelas mahasiswa yang bakal menjalani proses tugas akhir tesis dengan dosen pembimbing masing-masing. “Semoga bisa foto bareng-bareng lagi semuanya pada waktu wisuda ya,” celetuk salah seorang mahasiswa. (Mira/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here