Uniknya Pembelajaran Seni Budaya Melalui Pentas Drama di Sekolah Ini

0
118
Foto suasana pembelajaran kreatif diambil oleh choir

KLIKMU.CO

Nisa : “Mau ke kantin gak?“
Mauren: “Engga ah, gak nafsu makan gua.“
Indri : “Mendingan kita gangguin anak baru itu.“
Mauren, Indri dan Nisa : “Hei, bagi duit dong.“
Qamalia : “G..gua ngak punya uang (sambil menundukan kepalanya).”
Nisa : “Mana mungkin loe ngak punya duit!”
(Qamalia yang terdiam)
Mauren : “Cepat serahin duit loe kampungan!” (sambil mendorong Qamalia dengan kasar)
Fadel, Nasir, dan Yasin yang melihat Qamalia didorong Mauren langsung pergi menghampiri Mereka berempat.
Fadel : “Eh, ada apa ini ?”
Nasir : “Hei, kalian tidak boleh lakukan itu!”
Indri : “Bukan maslah lo ya! Jadi diem!”
Fadel : “Tapi kalian gak bisa gitu dong. Ngebentak dia seenaknya.”
Yasin : “Walaupun masi baru dia kan teman kita juga.”

Dialog drama di atas ialah dialog naskah berjudul Pembullyan di lingkungan sekolah. Drama itu dipentaskan saat inovasi pembelajaran bahasa Indonesia dan seni budaya dengan membuat pertunjukan drama dan musik ansamble lagu daerah di gedung SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya, Jumat (3/5).

Inovasi pembelajaran ini diikuti oleh seluruh kelas VIII. Setiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok musik setiap satu kelas dibagi menjadi tiga kelompok dan kelompok drama dimainkan semua anak satu kelas.
Pada cerita drama ada yang mengambil tema pendidikan, wisata alam, dan kenakalan remaja.
Salah satu contoh pertunjukan drama yang dipentaskan oleh siswa kelas VIII-A, ia mengangkat cerita tentang kenakalan remaja. Di ceritanya tersebut, kenakalan remaja masih terus terjadi dengan masih maraknya bullying terhadap teman sendiri. Kisah tentang orang jahat dengan orang baik itu tetap menarik menjadi tontonan para siswa dan guru dalam pentas drama yang digelar oleh anak Spemma.

Berikut sedikit ulasan cerita pada kisah pembullyan di lingkungan sekolah. Pada suatu hari ada anak siswa baru yang pindah sekolah. Kemudian selang beberapa waktu,anak baru itu masuk kemudian mendapat gangguan dari teman barunya tersebut. Pembullyan itu dilakukan dengan cara mengejek bahkan meminta makanan yang dibawa anak baru tersebut.

Begitu inti ceritanya. Menurut Chacha yang memerankan Indri yang menjadi peran jahat ini, dirinya mendapatkan pengalaman baru menjadi orang jahat. “Saya baru kali ini mendapatkan peran jahat. Sebelumnya selalu peran baik yang saya dapatkan,” ujar Chacha.

Pertunjukan drama seperti ini akan selalu dipentaskan tiap tahun. Tahun lalu juga ada pementasan drama yang diwakili oleh teater esa. Dan sekarang dilanjut dan dikembangkan tidak hanya anak teater, melainkan anak-anak seluruh kelas VIIII juga wajib memainkan dan bisa bermain drama.

Teguh Prasetyo, guru seni budaya, mengatakan kegiatan ini merupakan inovasi pembelajaran supaya anak-anak punya pengalaman pentas. “Mereka punya basic tidak hanya sekadar di depan buku, tapi juga basic percaya diri berani pentas di depan teman-temanya,” katanya. (Choir/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here