Untuk Para Pengusaha yang Masih Memikirkan Karyawannya di Tengah Pandemi Korona

0
186

Oleh: Fahd Pahdepie

Cendekiawan muda Muhammadiyah

KLIKMU.CO

Di tengah gelombang badai PHK yang begitu besar, usaha-usaha yang hampir gulung tikar, denyut perekonomian yang melambat, masih banyak sebenarnya para pengusaha yang memikirkan karyawannya. Mereka yang tidak melihat karyawan sebatas jumlah angka di tabel akuntansi perusahaan, yang masih melihat karyawannya sebagai manusia.

Kali ini, izinkan saya bercerita tentang seorang sahabat sekaligus rekan bisnis. Saya tak akan menyebut namanya. Yang jelas, jika ia membaca tulisan ini, saya yakin ia hanya akan mengirim sebuah pesan atau menelepon sambil mengumpat dan tertawa. Kami sudah saling mengetahui ‘dapur’ masing-masing, berbagi cerita di kala suka maupun duka.

Sore kemarin ia mendatangi saya. Seperti biasa, wajahnya ceria dan penuh optimisme. Kami tahu bisnis sedang susah di masa-masa pandemi seperti sekarang ini. Orang-orang terpukul, gelisah, cemas, bahkan hampir putus asa.

Banyak yang sudah kehilangan pekerjaan. Menurut riset terakhir yang dilakukan SMRC, 77% masyarakat Indonesia merasa berkurang penghasilannya gara-gara korona. Sambil tertawa, teman saya ini menyodorkan layar handphone-nya untuk saya lihat, menunjukkan jumlah saldo di rekening pribadinya. Seperti biasa.

Saya tertawa. Setengah mengejek. Sebagai sesama pengusaha, kami biasa saling ejek. “Tenang, konon korona hanya mengincar orang kaya. Kalau miskin jadi aman. Masih cukuplah untuk seminggu lagi,” ujar saya. Saldo di rekening pribadinya tinggal 870 ribu rupiah.

Ia tertawa terpingkal-pingkal. “Kang Fahd ini kok jadi kurang percaya sama Allah?” timpalnya. Sebelumnya kami berdiskusi tentang betapa susahnya bisnis di situasi seperti sekarang ini. Bagaimana nasib perusahaan-perusahaan kami di masa depan? Bagaimana nasib karyawan?

Saya mengerutkan dahi saya. “Lho? Kok?” Saya mengonfirmasi pertanyaannya.

Ia terus tertawa. “Bagi seorang pengusaha pejuang seperti kita, punya uang 800 ribu hari ini itu biasa aja. Besok bisa aja jadi 800 juta,” katanya. “Lha wong kemarin di rekening saya ratusan juta sekarang jadi ratusan ribu aja gampang aja bagi Allah. Tring. Biasa aja,” sambungnya. Tertawa lagi.

Saya tersenyum. Mengangguk mengiyakan. “Tapi kali ini situasinya berbeda.” Saya berusaha agak serius.

“Sama aja, kok. Sama seperti kita memulai bisnis-bisnis kita di awal. Penuh perjuangan. Bahkan mungkin lebih parah dari situasi sekarang ini. Apa yang sedang kita hadapi ini biasa aja, baru sebulan juga, belum apa-apa.” Teman saya menjelaskan.

Saya sepakat dengannya. Kita tahu situasi sekarang ini sangat berat. Tetapi menyerah dalam waktu satu atau dua bulan, memang terasa seolah mengerdilkan perjuangan bertahun-tahun. Jatuh dan bangun.

“Yang penting, sekarang, gimana saya menolong karyawan-karyawan saya? Saya nggak mau ninggalin mereka,” kata sahabat saya itu. Saya mulai melihat ada kesedihan di matanya.

“Apa yang bisa saya bantu?” Saya kemudian berusaha mengulurkan tangan.

Ia menatap saya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. “Nggak ada. Aman. Gaji karyawan bulan ini, Insya Allah aman,” jawabnya.

“Beneran?” kejar saya.

“Iya. Tadi bagian keuangan saya telepon. Kas perusahaan kosong, katanya. Saya pindahin dana ke sana semua. Insya Allah gaji karyawan besok tanggal 25 aman. Mereka bantu saya bertahun-tahun, di saat sekarang mereka sangat butuh bantuan, saya nggak bisa ninggalin mereka gitu aja, Kang. Apalagi mengusirnya dari perusahaan, seolah mereka nggak punya jasa sama sekali?” katanya.

Saya mengangguk. “Kita akan melewati masa-masa sulit ini, Bro.” Saya berusaha memberi dukungan. Padahal kalimat itu juga saya tujukan untuk diri saya sendiri.

“Tenang, ada Allah,” timpal sahabat saya. Kalimatnya menenangkan. “Untuk besok-besok, saya lagi jual motor saya di OLX. Udah saya posting.” Tiba-tiba tawanya meledak. Seperti biasa.

Orang di depan saya ini memang orang gila. Bukan orang biasa. Saya tahu motor itu adalah motor kesayangannya. Kalau ia sampai menjualnya, ini bukan hanya hitung-hitungan matematika, ada hati yang besar di sana.

Saya yakin, di luar sana masih banyak pengusaha-pengusaha hebat seperti sahabat saya ini. Yang berjuang mati-matian untuk membela nasib tim dan karyawannya. Yang tak mau menyerah karena masalah wabah. Yang tak melihat karyawan hanya sebatas angka-angka statistik di neraca keuangan perusahaan.

Ada teman saya yang lain yang rela menggadaikan perhiasan istrinya untuk menggenapkan gaji karyawan di bulan ini. Ada yang sedang menjual rumahnya agar usahanya terus bertahan dan karyawan bisa bekerja.

Ada yang mengumpulkan karyawannya di rapat terakhir sambil berkata, “Ndes, aku nggak bisa bayar full gaji kalian bulan ini. Sepurane. Aku ngutang dulu sama kalian. Nanti dilunasi. Kalau kalian butuh belanja, kasih aku daftarnya aja. Aku belikan dulu pake kartu kreditku, masih banyak limitnya, jarang dipake. Yang penting kalian aman.” Teman saya ini pedagang kecil. Karyawannya hanya lima orang. Tapi daya juangnya luar biasa.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman pengusaha yang masih memikirkan karyawannya di tengah wabah korona ini. Mereka yang diberi hati yang luar biasa lapang oleh Tuhan, mereka yang diberi berkah akal yang bijaksana untuk tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan angka-angka neraca usaha. Mereka yang tidak mau menyerah pada keadaan.

Karena kalianlah saya pun masih bertahan. Mengupayakan segala apa yang bisa saya lakukan untuk tetap berjuang menjaga orang-orang yang bekerja pada saya. Mereka tentu sedang bingung, cemas, khawatir dan takut di masa-masa seperti sekarang ini… Tetapi saya tak akan meninggalkan mereka.

Semalam saya bermimpi indah sekali. Saya bermimpi menyajikan makanan banyak sekali di atas meja. Ada daging, sup yang enak, minuman-minuman segar, buah-buahan beraneka warna, nasi yang banyak. Saya tahu mimpi ini bermakna perubahan dan harapan. Kita akan melewati masa-masa sulit ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here