Ustadz Shamsi Ali yang Saya Kenal

0
193
Ustadz Shamsil Ali (kanan atas) saat diundang dalam acara Webinar Pesantren Muhammadiyah. (Habib Chirzin/Klikmu.co)

Catatan Habib Chirzin tentang Ustadz Shamsi Ali dari acara Webinar Pesantren Muhammadiyah

KLIKMU.CO

Bersyukur saya dapat terus membersamai sampai webinar ke-12, LP2M, dan menghadirkan Dr Shamsi Ali, Imam Masjid Indonesia di New York, Amerika Serikat.

Ustadz Shamsi, alumni Pesantren Muhammadiyah Gombara, Sulawesi Selatan, melanjutkan pendidikannya ke IIUI (International Islamic University Islamabad), Pakistan. Ia pernah bermukim di Jeddah dan kemudian pindah ke New York pada akhir 1996.

Ustadz Ali Shamsi berbagi ide dan pemikirannya berdasarkan pengalamannya, sebagai ulama dìaspora, memberikan saran yang menarik agar selain memantapkan hard dan soft skillspesantren yang diperlukan di era milenial, juga dikembangkan “international competences” yang berupa penguasaan bahasa asing, kemampuan komunikasi, dan sikap konfidens dalam forum internasional. Salin itu, mengembangkan ilmu yang berkemajuan.

Sebagaimana biasanya, saya diminta memberikan komentar terakhir, setelah dialog, dalam acaraWebinar LP2PPM Pesantren Muhammadiyah sebagai Pusat Kaderisasi Ulama. Saya sangat mengapresiasi berbagai kegiatan dan inisiatifnya, baik sebagai Imam Masjid Indonesia New York, Direktur Jamaica Muslim Center NY, Direktur Nusantara Foundation NY, maupun Pendiri Pesantren Nusantara di Connecticut, antara NY dan Massachussetes.

Saya pernah melewati daerah itu pada Agustus 1990, ketika ke Hartford Seminary, di Connecticut, saat ulang tahun Jurnal The Muslim World ke 100 (seabad). Didirikan pada 1911, ke Williams Town dan ke University of Massachussetes di Amherst.

Beberapa kali saya diundang oleh Ustadz Shamsi Ali mengisi pengajian di masjid Indonesia NY. Saya bertemu Ustadz Shamsi Ali di NY pada 1997. Ketika dia menjadi local staff di Perwakilan Tetap RI (PTRI) di PBB di NY. Setelah diajak oleh Dubes Dr Nugroho Wisnu Murti, pindah dari Saudi ke NY. Hampir setiap kali ke New York, saya selalu menginap di PTRI, kecuali pada 1987, 1990, dan 2002.

Kami beberapa kali Jumatan bersama di kantor PBB lantai 25. Sambil bertemu tokoh Islam. Termasuk Grand Mufti, mantan Menteri Agama Bosnia-Herzegovina Dr Musthafa Cheric bersama Dubes Pakistan untuk PBB. Bakda shalat Jumat di kantor pusat PBB lantai 25, New York, September 2021. Pada saat World Peace Summit of the Religious and Spiritual Leaders in the United Nations, September 2000, sempat bertemu Prof Hossein Nashr, Dr Omar Naseef, Dr Zakky Badawi, dan lain-lain.

Seusai Jumatan saya ajak bersama ke UNICEF, kantor WCRP (The World Conference on Religion on Peace), menemui Sekjen-nya Dr William Fendley, sekarang The Religions on Peace, di 777 the United Nations Plaza di depan gedung PBB. Dr Tajuddin Hammad, Sekjen IIFWP (International Interreligious Federation for the World Peace) yang pernah memberikan penghargaan “Ambassador for Peace”  kepada Hindun Fauziah, istri, dan saya dalam suatu upacara di Seoul, Korea, pada 2003. Seingat saya Ustadz Shamsi Ali juga menerima penghargaan ini di New York.

Setiap saya ke NY, Ustadz Shamsi Ali dan istri selalu berbaik hati menyantuni kami. Dan mengundang ke masjid. Termasuk mengundang kami berdua memperingati HUT Kemerdekaan RI pada 2000 dengan makan siang bersama masyarakat Indonesia di New York. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here