Vaksin AstraZeneca Halal dan Tayib Menurut MUI Jatim, Simak Alasannya

0
135
Ketua MUI Jatim KH Hasan Mutwakkil Alallah (tiga dari kiri) bersama Presiden Jokowi di Sidoarjo, Senin (22/3/2021). (Jawa Pos)

KLIKMU.CO – Vaksinasi massal dengan vaksin AstraZeneca telah dilaksanakan di Pendapa Delta Wibawa, Kabupaten Sidoarjo, Senin (22/3/2021). Dari 150 peserta vaksinasi, seorang di antaranya adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.

Keikutsertaan ketua umum MUI Jatim dalam vaksinasi AstraZeneca didasarkan pada sidang Komisi Fatwa MUI Jatim. Kajian yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, KH. Makruf Chozin, menghasilkan tiga poin fatwa.

Pertama, MUI Jatim berupaya meminimalkan pandemi Covid-19 dengan ikut serta mendorong pemerintah untuk mengoptimalkan vaksinasi. Kedua, MUI Jatim mengharuskan seluruh masyarakat untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 sebagai upaya menghindari penularan dan mengakhiri pandemi.

“Ketiga, vaksin Covid-19 dalam rangkaian uji penemuan dan produksinya menggunakan bahan yang sudah mengalami proses perubahan bentuk (istihalah/istihlak). Sehingga sifatnya menjadi halal dan tidak najis,” katanya.

KH Makruf Chozin berharap masyarakat tidak ragu lagi atas kehalalan dan kesucian vaksin dalam kategori yang dimaksud. “Apalagi hal ini berkaitan dengan vaksinasi yang sudah menjadi kebutuhan darurat nasional,” lanjut Kiai Makruf.

Lebih kanjut, dia menjelaskan bahwa fatwa kehalalan vaksin yang dimaksud didasarkan pada sejumlah dalil. Pertama, perihal keputusan keadaan darurat wabah. Kedua, ada fatwa ulama Mesir Mufti Al-Azhar, yakni Syekh Hasanain Makhluf. Suatu ketika ditanya soal penyebaran wabah kolera. Beliau menjawab atas dasar firman Allah, “Jangan kau jatuhkan dirimu pada kebinasaan” (QS. Al-Baqarah 195).

“Atas dasar itulah, wajib hukumnya menghindarkan bahaya wabah itu (kolera) dari manusia. Setiap cara yang dapat mengantarkan kepada upaya pencegahan penularan, juga wajib secara syari,” katanya.

Ketiga, perihal kesucian benda najis yang mengalami proses perubahan. Komisi Fatwa MUI Jatim mengungkapkan, ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa benda najis bisa suci dengan mengalami perubahan. Sebab, agama menentukan sifat najis pada hakikat benda tadi.

“Hakikat benda najis bisa berubah karena perubahan sebagian saja. Apalagi jika perubahan terjadi pada seluruh bagian dari benda tersebut,” katanya.

Contohnya adalah embrio janin. Ketika masih berwujud sperma dan darah, hukumnya najis. Namun, ketika berubah menjadi daging manusia, menjadi suci. Perasan anggur adalah suci. Namun, ketika menjadi khamar (minuman memabukkan), menjadi najis. Ketika menjadi cuka dan tidak memabukkan, anggur bersifat suci lagi.

“Dengan begitu perubahan sebuah benda akan menghilangkan sifat pada benda tersebut secara otomatis. Ini tertera dalam Mausuah Fiqhiyyah, 20/108,” ungkap Kiai Makruf. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here