Vonis Haram Rokok dan Bacaan Iftitah yang Tertukar

0
469
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Pak A.R. Fakhruddin (mantan Ketua PP Muhammadiyah) dan Ustadz Abdul Qadir Hasan (mantan Ketua Persis Bangil) dua ulama terkemuka yang tak pernah lepas dari udud yang belakangan divonis haram.

Saya bukan perokok. Hanya saya suka bau tembakau atau cengkih atau kertas manisnya. Ada aroma yang bikin ‘sesuatu’, mungkin itu yang ada di pikiran Pak A.R. Fakhrudin dan Ustadz Abdul Qadir Hasan Bangil.

Apa yang hilang setelah vonis haram rokok: kedekatan mungkin, atau jarak yang kian jauh dengan saudara kita NU. Karena perbedaan makin banyak dan harapan untuk bisa bersatu makin susut. Berbanding terbalik dengan produsen pabrik rokok yang terus menggila dan petani tembakau pribumi kolaps.

Ada dua golongan manusia perokok: sebelum jatuh vonis haram dan pascavonis haram. Ada NU yang makruh dan ada Muhammadiyah yang haram. Apakah berlaku untuk seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia atau di internal pemberi fatwa sendiri.

Apakah ada korelasi antara merokok dengan umur pendek? Apakah ada korelasi hidup sehat tidak merokok dengan hidup sakit karena keseringan merokok? Mana lebih berbahaya bagi tubuh: asap dua Pak Djie Samsu sehari atau semangkok jerohan, babat, dan usus dimakan bareng? Kenapa vonis haram rokok baru sekarang, padahal sudah puluhan abad tidak disoal.

Saya tak hendak bicara fikih kenapa rokok divonis haram, apakah minyak jelantah bisa divonis haram karena penyebab kolestrol paling tinggi. Apakah gadget setara dengan narkoba sebagai penyebab kecanduan. Bukankah gadget punya daya rusak yang luar biasa, bahkan lebih mengerikan dibanding narkoba atau miras karena laten.

Bagaimana nasib doa berbuka yang sudah puluhan tahun saya amalkan mendadak divonis daif. Setelah ditemukan doa baru yang katanya lebih valid, lebih mendekati kebenaran, tapi apa ada jaminan bahwa doa baru ini tidak di-cancel lagi, setelah siapa tau ditemukan doa baru yang lebih sahih?

Atau silang sengkarut UAH dan Kiai MM menakar keabsahan doa iftitah. Jadi, bagaimana nasib shalat yang sudah puluhan tahun saya lakukan karena bacaan iftitahnya ternyata palsu tidak berasal dari Nabi saw.

Mungkinkah bacaan iftitah sengaja dipalsukan agar terjadi kekeliruan massal. Bagaimana mungkin para ulama bisa alpa secara kolektif: doa usai menyembelih kurban dipakai sebagai doa iftitah dalam shalat—ini kesengajaan atau kealpaan?

Bukan tak setuju dengan vonis haram atas rokok. Bukan kaget ketika bacaan iftitah tertukar dengan bacaan usai sembelih kurban atau doa berbuka yang di-cancel karena ditemukan yang lebih sahih. Tapi apa pentingnya bahas yang beginian di depan publik?

Merokok adalah salah satu tanda ketakziman kepada Pak A.R. Fakhrudin dan Ustadz Abdul Qadir Hasan. Sementara pendapat bahwa bacaan doa iftitah (inni wajah tu…. ) adalah bacaan usai menyembelih kurban adalah tanda hilangnya sebagian ketakziman kepada para imam mazhab yang empat, hilangnya ketakziman dan tumbuhnya sikap jemawa.

Atau mungkin ini kutukan bagi para pemegang gadget, pengetahuan yang diterimanya justru menjadi semacam kotak pandora yang mengeluarkan asap hitam dan menjadi racun bagi yang menggenggamnya tanpa kata kenapa? Jangan baper, senyumin saja jika ududmu divonis haram atau bacaan iftitahmu dibilang tertukar.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here