Wahai Partai Ummat dan KAMI, Belajarlah kepada Muhammadiyah

0
930
Amien Rais dan Gatot Nurmantyo

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Belajarlah kepada Muhammadiyah dan NU. Kenapa dua organisasi besar ini bisa bertahan puluhan tahun, bahkan sudah seabad lebih. Bukan sekadar perkumpulan, Muhammadiyah dan NU adalah “buah karomah” dua ulama sakti, maka jangan diubah bila tidak ingin hilang sirna.

Dalam urusan dakwah, dua nama besar ini jaminan mutu. Sudah teruji dan terbukti. Ribuan masjid, sekolah, pesantren, rumah sakit, bait amal, panti asuhan, berdiri kukuh dengan jumlah pengikut puluhan juta. Lantas, apa lagi yang mau dinafikan?

Ini bukan soal nama. Apalagi sebatas cara. Tapi branding. Ibarat makanan. Mungkin ia adalah gudeg bagi yang tinggal di Jogja atau rawon dan rendang bagi yang tinggal di sekitaran Malang-Surabaya atau Padang. Menu itu tak lekang oleh panas dan tak lapuk karena hujan. Gempuran menu cepat saji tak mampu menggoyang kedigdayaan gudeg, rawon, atau rendang.

Carl Whyterington menyebut bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang diberkati, bukan hanya bisa bertahan, tapi juga terus berkembang membesar melampaui zamannya. Nakamura juga kurang lebih sama ketika menarasikan gerakan Islam yang lahir di Kotagedhe, Kauman, Jogja, ini.

Robbin Bush menulis cerdas tentang kekecualian NU. Tradisi politik NU tidak melulu mengikuti text book. Meminjam analogi Robin Bush (1999), NU pintar bermain dansa sehingga susah dijerat atau dipaku pada posisi tertentu.

***

Saya menyebut Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari adalah “kiai waskito” mampu membaca tanda-tanda zaman dengan tepat. Muhammadiyah dan NU adalah buah karomah dari dua wali besar tanah Jawa—penganjur dan pendakwah Islam dengan jejak fenomenal.

Desain yang digagas dua “kiai besar” tanah Jawa ini cukup ampuh melawan berbagai hambatan, bahkan terus bertahan dan berkembang melampaui pikiran. Seperti sepasang sejoli saling melengkapi dan menggenapi, keberadaannya begitu signifikan dan mewarnai wajah Islam Indonesia yang humanis dan indah dibanding dari negeri asalnya, tutur Dr Alfian ketua LIPI tahun ‘80-an.

HTI bahkan diusir pergi dari negeri asalnya. Pun dengan FPI, tak cukup mampu bertahan karena tidak adaptif dan tak punya daya imun. Keduanya bukan saja ditolak, tapi juga dibubarkan karena tak sehaluan. Butuh waktu lama dan kerja keras untuk kembali menghidupkan. Lainnya juga sama. Tidak ormasnya, tidak partai politiknja, hanya riuh di awal, mati kemudian.

Lantas, bagaimana dengan partai Ummat dan KAMI? Tak berbilang energi dan emosi umat terkuras urap menjadi satu, tapi saya tak sedang membahasnya, meski sejak dulu saya telah meragukannya. Hanya sekadar bertanya,  di mana sekarang keduanya berada?

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here