Wawancara dengan Pengawas Kemenag tentang Kelas Bilingual: Kiat-Kiat Sekolah Unggulan Itu Sudah Ada di MIM Ini

0
346
Wawancara warcil MIMLoe dengan Pengawas Pendidikan Agama Islam Nuryati SPd MPdI.
http://klikmu.co/wp-content/uploads/2018/01/iklan720.jpg

KLIKMU.CO

Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Tembelang sekaligus Kepala Sekolah SDIT Al Adzkiya’ Sentul Tembelang Jombang, Nuryati SPd MPdI, dengan sabar dan ramah melayani wawancara dua wartawan cilik (warcil) MI Muhammadiyah 10 “Madrasah Penghafal Al Qur’an” Rejosopinggir, Tembelang, Jombang. Interview berlangsung saat Nuryati berkunjung ke MIMLoe (MI Muhammadiyah 10) untuk melakukan Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) pada Sabtu (7/12/2019)

Berikut petikan wawancaranya dengan Nana Safinatun Najah (kelas 5) dan Cintia Nur Rahma (kelas 5), dua warcil itu.

Apa cita-cita Ibu sewaktu kecil?

Cita-cita Bu Nur sewaktu kecil adalah menjadi orang yang bermanfaat dan dianjurkan oleh orang tua untuk menjadi guru. Alhamdulillah bisa menjadi guru.

Mengapa Ibu ingin menjadi seorang guru?

Ya, ingin memberikan manfaat bagi orang lain, ingin menularkan ilmu kepada anak didik, ingin membimbing anak didik menjadi anak-anak yang sukses. Sekarang alhamdulillah saya tidak hanya jadi guru, tetapi gurunya guru menjadi pengawas.

Apa profesi Ibu sekarang?

Sekarang menjadi pengawas di Kemenag Kabupaten Jombang. Tugasnya antara lain di Kecamatan Tembelang dan Kecamatan Kesamben.

Apa saja tugas pengawas itu, Bu?

Mengadakan supervisi ke lembaga binaan. Kemudian memberikan bimbingan kepada kepala madrasah dan kepada bapak ibu guru. Kemudian juga punya tugas yang lain, melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk kemajuan lembaga binaan.

Apa keluh kesah menjadi seorang pengawas?

Menjadi pengawas itu menyenangkan. Insya Allah kalau dinikmati akan menjadi ibadah. Karena itu tugas yang sangat mulia. Kalau masalah keluhan yang negatif, tidak ada. Karena di situlah kemudian kita ingin mengabdi, ingin menjadi yang terbaik, ingin mengantarkan lembaga-lembaga binaannya ini menjadi lebih maju. Anak didiknya juga berprestasi. Karena kita memberikan bimbingan kepada kepala madrasah dan bapak ibu guru.

Menurut Ibu, apa abad 21 atau zaman 4.0 itu?

Zaman 4.0 salah saat semuanya serbacanggih menggunakan IT dan insya Allah MIM 10 ini semakin bisa mengikuti arah ke situ. Lalu juga memanfaatkan medsos ini untuk hal-hal yang positif, terutama di dalam dunia pendidikan. Jadi semakin canggih alatnya dan manusianya juga harus berupaya untuk mengikuti. Anak-anak nanti akan berada di zaman sekarang dan juga mengikuti perkembangannya supaya lebih maju dan tidak ketinggalan dengan yang lainnya.

Apa saja kiat-kiat menjadi sekolah unggulan itu, Bu?

Menjadi sekolah unggulan, insya Allah kiatnya sudah ada ya di lembaga MIM 10 ini. Saya lihat dari kedisiplinan, baik itu dari kepala madrasahnya ataupun dengan gurunya itu yang pertama. Kemudian mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan sekolah yang lain. Nilai tambah atau yang diunggulkan oleh madrasah itu ada di sini, yaitu “Penghafal Al-Qur’an”. Tidak semata-mata penghafal Al-Qur’an tetapi, penghafal Al-Qur’an yang siap diuji publik menjadi luar biasa dan itu menjadi pembeda dengan madrasah yang lain. Kemudian juga akan ada bilingual, yaitu kelas dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ini nanti juga akan menjadi keunggulan yang akan dimunculkan pada tahun berikutnya. Selain itu, sarana dan prasarananya, kondisi madrasah yang nyaman menyenangkan, hubungan yang harmonis antara satu dan yang lain. Lalu, harus kerja tim. Karena tidak ada superman atau superwomen. Yang ada adalah super tim untuk menjadikan madrasah itu lebih maju.

Apa pendapat Ibu ketika masuk ke sekolah kami MI Muhammadiyah 10 “Madrasah Para Penghafal Al-Qur’an” Rejosopinggir, Tembelang, Jombang?

Ketika Ibu masuk ke lembaga MIM 10 ini ya, yang pertama dalam benak Ibu itu kata-kata “luar biasa”. Karena dari performance yang kita lihat sampai di halaman membentang di situ banyak piala. Kemudian juga ada banyak kata-kata motivasi dan piagam. Itu sudah menunjukkan bahwa betapa luar biasa prestasi MIM 10. Dan ketika masuk, kemudian ditemui oleh para wartawan cilik ini, ini sesuatu yang beda dan bedanya itu positif. Karena dengan adanya wartawan cilik ini, bisa melatih anak-anak menjadi semakin percaya diri dan mampu berkomunikasi dengan orang lain.

Apa pesan Ibu untuk sekolah kami?

Pesannya terus maju, semangat, songsong masa depan dengan penuh optimistis dan raih visi madrasah bersama-sama dengan stakeholder seluruh madrasah. (Zuly Ahsanul Bariyyah/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here