Wawancara dengan Seniman cum Filmmaker Indonesia: Kelak Adik-Adik Harus Bisa Jadi Pengarang

0
259
Insan Indah Pribadi, seniman dan filmmaker Indonesia, saat diwawancarai di MIM 10 Rejosopinggir Tembelang, Jombang. (Zuly/Klikmu.co)

KLIKMU.CO

Insan Indah Pribadi adalah seniman asli Cilacap yang menjadi filmmaker dan memenangkan banyak penghargaan untuk karya film pendek. Insan waktu kecilnya punya cita-cita yang berubah-rubah. Awalnya mau jadi tentara, polisi, kemudian berubah ingin menjadi dokter. Semuanya itu tidak ada yang tercapai. Insan sekarang berprofesi sebagai seniman, tapi lebih banyak di multimedia seperti desain grafis, film, dan seni pertunjukan.

Nana dan Cintia, wartawan cilik MI Muhammadiyah 10 “Madrasah Penghafal Al-Qur’an” Rejosopinggir Tembelang, Jombang, berkesempatan mewawancarai Insan Indah Pribadi Selasa lalu (10/12/2019).

Apa saja tugas menjadi seorang seniman?

Saya kan mengelola komunitas Sangkanparan. Sangkanparan itu lebih ke dunia multimedia, lebih ke seni pertunjukan kayak teater, sastra. Terus kalau ke film, lebih ke produksi film, pembuatan film. Multimedia lebih kepada proses bagaimana cara mengatur lampu dan mengatur peralatan buat syuting. Itu kegiatannya.

Sangkanparan itu apa?

Sangkanparan itu nama komunitas. Kalau dalam falsafah Jawa, ada sangkanparan ing dumadi yang artinya asal mula terjadinya. Sangkanparan ini berdiri pada 2004 ketika saya masih di Solo kuliah ambil desain grafis dulu. Anggotanya hanya ada 4 di Cilacap.

Apa pendapat Mas Insan tentang Festival Film Santri di Jombang yang diselenggarakan Maret mendatang?

Festival Film Santri ini keren banget ya, karena kita sering kali menjumpai masyarakat di luar tidak yakin bahwa santri-santri itu bisa melakukan sesuatu. Selama ini kegiatan santri, apa pun bentuknya, selalu dianggap tidak bisa dan tidak terlalu banyak memberikan kontribusi nyata. Nah, dengan adanya Festival Film Santri, karena bentuknya audiovisual, sangat memberikan dampak positif dan memberikan bukti nyata bahwa yang dilakukan santri itu benar-benar bisa memberikan kontribusi. Tidak hanya untuk lingkungan sekitar, tapi juga bangsa dan negara ini. Kegiatan santri jadi lebih detail, bermartabat, bebas dari radikalisme. Lebih dari segalanya kalau kita ngomongin kehidupan sehari-hari.

Ada berapa judul film yang Mas Insan produksi hingga saat ini?

Kalau saya tidak memproduksi, tapi lebih ke mengfasilitasi atau mendampingi. Kalau ditanya berapa, sampai saat ini terhitung dari tahun 2008, mungkin ada sekitar 40-50 judul film. Jadi, dalam satu tahun mungkin lahir 1, 2, atau 3 film. Alhamdulillah rata-rata film itu mendapatkan penghargaan di berbagai ajang festival. Film Marka kemarin juga menjadi film dokumenter terbaik di Sarawak, Malasyia, tentang kehidupan anak-anak ilegal dari Indonesia di Sarawak.

Mungkin bisa cerita sedikit tentang pengalaman menarik selama pembuatan film?

Wah, banyak banget. Saya dan teman-teman pernah dampingi adik-adik di pesantren putri, dan ini memang sangat susah untuk masuk pesantren putri, apalagi saya laki-laki. Saya sampai mendatangkan mentor bernama Nur. Nur ini merupakan salah satu anak didik juga di Sangkanparan yang sekarang sudah dapat beasiswa di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Jadi, dia sekolah di IKJ. Sampai dia saya panggil pulang. Jadi kalau ada materi penyutradaraan, dia yang mengisi. Yang bisa masuk sampai ke dalam ke kamar pondok putri hanya Nur. Nah, hal-hal seperti itu yang akhirnya mungkin, penyesuaian untuk mencari cara bagaimana komunitas ini bisa memberikan workshop di pondok pesantren seperti itu. Kadang ada juga pondok pesantren yang tidak boleh membawa HP, padahal direncana awal bikin workshop peralatannya memakai HP.

Pesan untuk MI Muhammadiyah 10 “Madrasah Penghafal Al-Qur’an” Rejosopinggir, Tembelang, Jombang, yang mempunyai ektrakurikuler wartawan cilik dan teater di tingkat MI?

Ini sesuatu yang menarik ya. Zaman saya dulu kecil mungkin tidak sempat terpikirkan bahwa ada wartawan di tingkat MI. Adanya mungkin pelajaran mengarang. Nah, ini saya di Jombang dikejutkan dengan adik-adik yang notabene mewawancarai. Kalau di dunia saya dulu ada mading, pelajaran mengarang. Sekarang ini jujur sangat minim hal-hal seperti itu. Kalau bisa adik-adik ini terus mengembangkan potensi kreatifnya. Wawancara ini mungkin saat ini menjadi tugas, tapi saya yakin adik-adik nanti bisa mengembangkan proses dan caranya. Mungkin tidak hanya dengan wawancara, tapi bisa mengarang sesuatu, menciptakan sesuatu yang mungkin bisa sebagai sarana berbagi informasi untuk orang lain di luar. (Zuly Ahsanul Bariyyah/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here