Yang Saya Impikan tentang Pak Amien

0
62
Detik.com

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Suksesi ’98. Dan Pak Amien tidak punya “trah ratu”: Notonegoro
atau Notobawano dari perspektif mitologi Jawa. Sehingga dua kesempatan emas menjadi orang nomor satu di Indoensia pun dibuang percuma. Tepatnya Pak Amien tidak menyandang “wahyu keprabon”.

Prof Malik bercerita kepada saya tentang Prof Amien saat berkunjung ke rumah delapan belas tahun lalu. Suatu ketika Prof Amien ditawari menjadi ketua komite reformasi dengan kekuasaan penuh, setelah kunjungan para tokoh nasional untuk memohon agar Pak Harto lengser keprabon. Pak Amien menolak dan menyebutnya inkonstitusional dan memilih jalur legal dengan menaikkan Wapres Habibie.

Dua, saat sidang umum MPR di mana hampir mayoritas mendukungnya, Pak Amien menolak halus, takut “kuwalat” karena sudah kadung mendukung Gus Dur di depan para kiai, meski dua setengah tahun kemudian di-impeachment.

Pak Amien justru memilih jalan terjal, jalur konstitusional dengan pilihan presiden langsung dan kalah dari pendatang baru SBY, yang sama sekali di luar kalkulasi politik. Tapi justru SBY, seorang Menko yang tak kelihatan pada riuh perjuangan reformasi, yang memetik buahnya, tapi itulah politik.

Bukan tanpa rasional. Dari yang saya tau, Prof Amien adalah seorang idealis politik: saya tak tahu mana yang lebih dominan sebagai praktisi politik atau ilmuwan politik atau keduanya sekaligus dalam satu dekapan.

Yang beliau inginkan semua harus perfect. Jaminan konstitusi, moral conduct dalam berpolitik, dan karakter perilaku politik demokrasi yang kokoh. Pak Amien adalah seorang idealis di belantara politik ananiyah, banyak kawan juga lawan. Kadang beliau terlihat sendirian mengambil peran antagonis dengan rezim berkuasa, bahkan dengan massa pendukungnya sendiri sekalipun, karena pemikirannya belum sempat dijangkau.

Pemikiran politik Prof Amien sering melampaui zamannya, berintegritas dan futuristik. Meski seorang demokrat, tapi tetap ingin menjadi yang terkuat di partainya. Terbukti beliau tak ingin ada Ketum PAN yang menjabat dua periode.

Yang Saya inginkan dari Prof Amien adalah menjadi guru politik yang agung, pendhita adiluhung yang punya padepokan politik, atau sekolah politik, atau sekolah demokrasi tempat para kader berkunjung, berguru dan belajar demokrasi dan politik.

Tempat di mana para kader politik “ngangsu kaweruh”, kemudian berdiaspora, menyebar di semua partai politik, tersebar di PDIP, Golkar, PSI, Gerindra, Nasdem, PAN, PPP bersatu membangun pikiran-pikiran besar keislaman dan keindonesiaan.

Sayang sekali jika beliau harus bertarung dengan anak kader sendiri berebut partai, seperti kata orang Jawa: “menang ora kondang kalah ngisin-ngisinni”. Saya kawatir nasib politik Pak Amien seperti Bhisma dalam perang Bharatayudha.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here