Yang Tak Boleh Hilang dari Muhammadiyah

0
150
Foto oleh Fahd Pahdepie (diambil dari laman Facebook-nya)

Oleh Fahd Pahdepie

KLIKMU.CO

Senin malam (18/11) digelar resepsi milad ke-107 Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Sekitar 20.000 orang berkumpul untuk merayakan momen istimewa itu. Mereka datang dari berbagai daerah.

Meski cuaca sempat hujan, tak sedikit pun menyurutkan langkah ribuan warga Muhammadiyah untuk berkumpul. Banyak di antara mereka ibu-ibu yang membawa anak-anak atau orang tua yang sudah sepuh. Tapi tak ketinggalan juga para remaja belia dan pemuda-pemudi yang berjalan bangga mengenakan jas almamater dan seragam ortom. Saya terharu ketika melihat jas kuning IPM atau jas merah IMM yang mereka kenakan menjadi lebih pekat warnanya–basah karena hujan.

“Sang Surya memanggil,” ujar sahabat saya ketika saya tanya mengapa rela jauh-jauh datang dari Jakarta untuk menghadiri acara milad ini? Saya tersenyum mendengar jawaban itu, ada perasaan hangat di dada saya ketika mendengarnya.

Setelah acara dibuka dengan lantunan ayat suci al-Quran yang dibacakan secara luar biasa oleh seorang mahasiswi UMY peraih beasiswa hafidz Muhammadiyah, hadirin kemudian dimohon berdiri. Tak lama layar-layar LED raksasa yang memenuhi area sportorium megah itu menampilkan gambar bendera merah putih. Diiringin UMY Philarmonic Orchestra, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Selalu ada haru dan bangga ketika lagu itu dinyanyikan bersama.

“Muhammadiyah tidak perlu sibuk mengatakan NKRI harga mati, karena kiprahnya sudah menunjukkan bukti yang tak bisa ditolak.” Ujar Prof. Muhadjir Effendy, Menko PMK, dalam testimoninya, “Pengabdian Muhammadiyah untuk Bangsa dan Negara ada dan nyata, melalui puluhan ribu sekolah, ribuan universitas, ratusan rumah sakit dan lainnya. Bagi Muhammadiyah, Indonesia adalah Darul ‘Ahdi Wasy-Syahadah. Tak ada konsep negara lain yang diterima di Muhammadiyah kecuali Negara Kesatuan Republik Indonedia.” Hadirin bergemuruh bertepuk tangan. Saya kira malam itu sekaligus menjadi selebrasi nasionalisme a la Muhammadiyah.

UMY adalah kampus Muhammadiyah pertama di Indonesia yang memiliki tim orkestra dengan standard Internasional. Rasanya tak banyak juga kampus lain di negeri ini yang memilikinya. Saat sebagian kalangan masih sibuk berdebat soal fiqh alat musik, sebagaimana coraknya sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah sudah bergerak ke masa depan. Malam itu mars Muhammadiyah, Sang Surya, dibawakan dalam format orkestra!

Sang Surya tetap bersinar
Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau berseri
Membuatku rela hati

Nuansa magis segera menghipnotis seluruh ruangan ketika ribuan orang menyanyikan lagu itu bersama-sama. Saya selalu gagal menahan bibir yang gemetar dan mata yang menghangat. Beta dalam saya mencintai gerakan ini, sejak brlajar di TK ABA Ujungberung, Bandung, 28 tahun yang lalu.

Berapa juta atau bahkan puluh juta anak Indonesia yang menjadi alumni TK Aisyiah Bustanul Athfal seperti saya? Tak akan bisa dihitung apalagi dibayar kontribusi para ibu dan perempuan Muhammadiyah bagi bangsa ini. Malam itu, refleksi 100 tahun kiprah TK Aisyiah Bustanul Athfal dipersembahkan dalam bentuk sendra tari yang sangat memukau. Melibatkan ratusan penari dewasa dan anak-anak kecil. Semua elemen gerak, elemen teater, elemen musik, elemen visual, dikemas secara apik dengan cita rasa tinggi. Ah, nuansa kebudayaan semacam ini yang tak boleh hilang dari Muhammadiyah.

Ya Alllah Tuhan Rabbiku
Muhammad junjunganku
Al-Islam agamaku
Muhammadiyah Gerakanku

Malam itu menjadi semakin lengkap dengan diluncurkannya Muhammadiyah Online University dan Iuran Online Muhammadiyah. Dua inovasi teknologi yang dengan elegan menujukkan bahwa Muhammadiyah selalu relevan dan mengikuti semangat zaman. Bagi gerakan ini, dakwah dan gerakan Islam harus bisa melintasi segala zaman.

Namun, dakwah Muhammadiyah yang sebenarnya, sesungguhnya digerakkan oleh para warganya. Mereka yang bergerak di bawah dengan penuh keikhlasan dan pegabdian yang luar biasa. Untuk itulah malam itu Muhammadiyah memberikan Muhammadiyah Award untuk para penggerak ini, yang bekerja dan berkhidmat di berbagai bidang kehidupan.

Salah satu penghargaan bergengsi itu diberikan kepada atlet panjat dinding puteri yang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Aris Susanti Rahayu, kader puteri Muhammadiyah yang berhasil menjadi juara panjat dinding dunia, memecahkan rekor dunia, dan mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di berbagai ajang bergengsi, termasuk di Asian Games lalu.

Prestasi yang ditunjukkan Aris serta penghargaan yang diberikan Muhammadiyah ini begitu simbolis memberi tahu kita banyak hal tentang organisasi ini. Di sana ada pendidikan, kesetaraan, nasionalisme, dan lainnya.

Di timur fajar cerah gemerlapan
Mengusik kabut hitam
Mengubah kaum muslimin
Tinggalkan peraduan

Lihatlah matahari telah tinggi
Di ufuk timur sana
Seruan ilahi robbi
Sami’na wa atho’na

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan mengutip pesan penting yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, ketua umum PP Muhammadiyah, dalam sambutannya malam tadi.

“107 tahun telah berlalu dan Muhammadiyah tetap selalu berkiprah untuk kemajuan umat, bangsa dan kemanusiaan semesta. Usaha mencerdaskan tidak kenal berhenti. Ribuan sekolah, dua puluhan ribu TK ABA, ratusan universitas dan perguruan tinggi, dan seluruh amal usaha Muhammadiyah adalah bagian dari gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita berharap, setelah perjalanan 107 tahun ini Muhammadiyah akan tetap bersinar, menyinari zaman dan semesta, membawa suara pencerdasan kehidupan umat, bangsa dan kemanusiaan universal.”

Akhirnya semua keindahan ini, semua rasa ini, semua hal istimewa dan luar biasa yang ada di tubuh dan ruh persyarikatan ini, tak boleh hilang. Tugas kita menjaga dan mempertahankannya, memastikan Sang Surya terus bersinar menerangi dan melintasi zaman. Sampai beratus tahun kedepan dan selama-lamanya.

Pulanglah. Sang Surya memanggil!

Fahd Pahdepie
Alumni TK ABA Ujung Berung Bandung 1991-1993

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here