Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang

Ramadan datang membawa kabar agung bagi hati yang beriman, kabar tentang rahmat Allah yang melimpah, ampunan yang terbuka luas, dan pembebasan dari api neraka pada setiap malamnya. Kabar ini bukan sekadar harapan, tetapi janji yang ditegaskan oleh Rasulullah, agar setiap muslim bersungguh-sungguh menghidupkan Ramadan dengan iman, amal saleh, taubat, dan ketundukan penuh kepada Allah Ta’ala.
Ramadan adalah bulan yang Allah pilih sebagai musim kemenangan bagi hamba-hamba-Nya. Di dalamnya terdapat peluang besar untuk diselamatkan dari api neraka, sebuah keselamatan yang tidak dapat ditandingi oleh kemenangan dunia apa pun.
Seorang muslim yang memahami hakikat ini tidak akan menyia-nyiakan satu malam pun di bulan Ramadan tanpa usaha mendekat kepada Allah Ta’ala, karena pada setiap malam Ramadan Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka-Nya. Inilah kemenangan sejati yang seharusnya menjadi tujuan utama hidup seorang mukmin.

Janji Rasulullah tentang Keutamaan Ramadan
Rasulullah telah mengabarkan kabar gembira ini dengan jelas dalam hadis yang sahih. Beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
Artinya: “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalang.” (HR Ahmad dan An-Nasa’i)
Dalam riwayat lain, Rasulullah menegaskan secara khusus tentang pembebasan dari api neraka pada setiap malam Ramadan. Beliau bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، يَعْنِي فِي رَمَضَانَ، وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً
Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka pada setiap siang dan malam, yaitu di bulan Ramadan. Dan setiap muslim pada setiap siang dan malam memiliki doa yang dikabulkan.” (HR Tirmidzi, dihasankan dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah Ta’ala di bulan Ramadan. Pembebasan dari neraka bukan hanya terjadi di akhir bulan, tetapi setiap malam. Namun, rahmat ini tidak datang kepada hati yang lalai dan berpaling. Ia diperuntukkan bagi hamba yang berusaha, yang menghadirkan iman, rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah dalam ibadahnya. Karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan Ramadan sebagai bulan kesungguhan, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Allah Ta’ala juga menegaskan tujuan agung dari puasa Ramadan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Jalan Menuju Pembebasan dari Neraka
Takwa inilah yang menjadi sebab keselamatan dari neraka. Takwa adalah perisai yang melindungi seorang hamba dari murka Allah dan azab-Nya. Maka Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang membangun takwa melalui shalat malam, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dzikir, doa, dan menjauhi maksiat lahir maupun batin.
Allah Ta’ala berfirman tentang keselamatan sejati:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
Artinya: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan.” (QS Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan hakiki bukanlah harta, jabatan, atau pujian manusia, melainkan dijauhkan dari api neraka. Inilah makna terdalam dari harapan setiap mukmin di bulan Ramadan. Karena itu para ulama, di antaranya Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah, menekankan bahwa seorang muslim hendaknya berusaha meraih pembebasan ini dengan amal yang ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi.
Kesungguhan di malam Ramadan tampak dalam qiyamul lail, doa yang panjang, istighfar yang tulus, serta air mata penyesalan atas dosa-dosa masa lalu. Rasulullah bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ampunan dosa inilah jalan menuju pembebasan dari neraka. Dosa adalah sebab utama seseorang terancam azab, sedangkan taubat dan ampunan adalah sebab keselamatan. Maka Ramadan adalah bulan membersihkan diri, melunakkan hati, dan memperbarui janji kepada Allah untuk hidup dalam ketaatan setelah Ramadan berlalu.
Semoga setiap malam Ramadan yang kita lalui menjadi saksi kesungguhan kita di hadapan Allah Ta’ala. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dibebaskan dari api neraka sebagaimana janji Rasulullah. Semoga Ramadan benar-benar menjadi bulan kemenangan sejati, bukan hanya di dunia, tetapi di akhirat kelak ketika kita berdiri di hadapan Allah dengan hati yang selamat dan amal yang diterima. (*)








