Akhir Hayatmu Adalah Cerminan Kebiasaanmu

0
185
Ilustrasi kematian/CNN

Oleh: Ainul Yakin

KLIKMU.CO

Jika kematian selalu terbayang-bayang dalam pikiran kita, maka hal-hal negatif yang mengarah pada perbuatan dosa akan kita hindari, dan hal-hal positif yang menghasilkan pahala akan kita tekuni. Namun, tidak banyak yang bisa demikian, butuh iman yang kuat, yang ajeg untuk mencapai derajat itu.

Semakin sering mengingat kematian, maka akan semakin gencar memperbaiki dan mengevaluasi diri. Karena faktor utama yang mendorong kita untuk ingat mati adalah iman.

Ajal tak memandang muda atau pun tua, semuanya telah ditetapkan oleh sang Pencipta. Manusia tidak tahu kapan ajal menjemput dan tidak bisa negosiasi untuk dimaju-mundurkan walau sedetik pun. Tugas manusia hanya berusaha, hasil akhir pasrahkan pada Yang Maha Kuasa.

Allah akan mencabut nyawa sesuai kebiasaan hamba-Nya. Jika perilaku sehari-harinya baik, besar kemungkinan baik pula akhir hayatnya (husnul khâtimah). Sebaliknya, bila kebiasaannya buruk, maka akan berpotensi saat mengembuskan nafas terakhirnya dalam kondisi buruk juga (sû’ul khâtimah). Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

Jadi tidak sepatutnya menyepelekan kebiasaan kita, sekecil apapun itu. Sebab, itulah salah satu faktor yang menentukan baik-buruknya akhir hayat kita.
Sudah banyak contoh orang yang meninggal sebagaimana kebiasaannya. Ada yang meninggal dalam keadaan beribadah (shalat, puasa, dan sebagainya). Ada juga yang mati dalam keadaan maksiat (mabuk-mabukan, berzina, dan sebagainya).

Kita tidak tahu bagaimana nasib kita kelak di akhirat. Bahagiakah? Atau sebaliknya? Perihal ini, bisa kita jawab dan dijadikan renungan bersama.

Sudah saatnya kita tangisi dan sesali dosa-dosa yang telah kita lakukan. Terutama di waktu-waktu tenang dan sunyi, supaya lebih khusyu’ dan menjiwai. Dengan cara begitu akan membuat diri kita lebih baik dan waspada dari sebelumnya. Karena sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang segera bertaubat atas kesalahannya.

Beberapa abad lalu Nabi Muhammad SAW telah menyampaikan bahwa pada diri umat Islam, suatu saat akan muncul penyakit yang bernama wahn, yaitu “Hubbud dun-yâ wa karâhiyatul maût” (cinta dunia dan takut mati). Penyakit itulah yang menghambat perkembangan dan peradaban ummat Islam.

Di samping itu, umat Islam diibaratkan seperti makanan yang diperebutkan oleh pemangsanya. Bukan karena umat Islam yang sedikit, bahkan jumlahnya sangat banyak tapi kualitasnya rendah dan menjadi tak berdaya akibat penyakit wahn tersebut.

Kematian itu sangat dekat dan pasti akan datang pada diri kita. Sudahkah kita bersiap diri?

Sungguh, merupakan karunia besar dari Allah SWT bila menghadap-Nya dalam keadaan husnul khâtimah. Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Aamiin.

Ainul Yakin adalah anggota KM3 (Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah) PC IMM Surabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here