21 Februari 2026
Surabaya, Indonesia
Opini

Ali Bin Abi Thalib sang Teladan Ramadhan

Ali Bin Abi Thalib sang Teladan Ramadhan (Ilustrasi AI)

Oleh: Dwi Taufan Hidayat
Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PCM Bergas, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kab Semarang

Ramadhan bagi Ali bin Abi Thalib bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan madrasah keberanian, kesetiaan, dan totalitas ibadah. Di bulan suci itulah tampak jernih keteguhan hati sang singa Allah: khusyuk dalam munajat, lembut pada kaum papa, namun tegas di medan laga. Puasanya menyatu dengan jihad jiwa dan raga.

Di antara para sahabat Rasulullah, nama Ali bin Abi Thalib selalu berpendar dengan cahaya ilmu dan keberanian. Ia tumbuh di rumah kenabian, dididik langsung oleh Rasulullah sejak kecil. Ketika Ramadhan tiba, kepribadiannya yang kokoh justru semakin tampak dalam keseimbangan antara ibadah yang mendalam dan tanggung jawab sosial yang luas.

Ramadhan di Madinah kala itu sederhana. Tidak ada lampu-lampu gemerlap, tidak ada hidangan melimpah. Yang ada hanyalah hati-hati yang rindu pada Allah. Ali menjalani puasanya dengan kesadaran penuh bahwa setiap detik adalah amanah. Ia sering terlihat memanjangkan qiyamullail. Di tengah malam yang hening, ia berdiri lama dalam shalat, membaca ayat demi ayat dengan suara lirih yang kadang bergetar. Air matanya jatuh tanpa suara. Kekhusyukannya bukan dibuat-buat; ia benar-benar merasakan kehadiran Allah dalam setiap sujud.

Dikisahkan bahwa ketika berbuka, hidangan Ali sering kali sangat sederhana. Roti kering dan sedikit garam atau susu sudah cukup baginya. Bahkan, beberapa kali ia memberikan jatah berbukanya kepada fakir miskin, sementara ia sendiri menahan lapar hingga pagi. Baginya, puasa bukan hanya menahan diri dari yang halal, tetapi juga melatih jiwa untuk lebih mencintai orang lain daripada dirinya sendiri.

Kesetiaannya kepada Rasulullah tidak pernah surut, bahkan di bulan Ramadhan yang penuh ujian. Pada Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadhan tahun kedua Hijriah, Ali tampil sebagai salah satu pejuang terdepan. Di usia yang masih sangat muda, ia maju menghadapi para jawara Quraisy. Puasa tidak melemahkan keberaniannya. Justru, rasa lapar dan haus itu menjadi saksi bahwa ia berjuang bukan karena ambisi dunia, melainkan karena iman.

Keberanian dan Keteladanan Sosial

Keberanian Ali bukanlah keberanian yang liar. Ia selalu berpijak pada akhlak. Dalam setiap peperangan, ia tidak pernah melampaui batas. Ia tidak menyerang orang yang sudah tak berdaya. Ia tidak merusak tanpa alasan. Bahkan ketika memiliki kesempatan membalas dendam pribadi, ia menahannya jika itu tidak sejalan dengan nilai keadilan. Puasa membentuknya menjadi ksatria yang bersih hatinya.

Pada malam-malam Ramadhan, Ali sering mengunjungi rumah-rumah janda dan anak yatim secara diam-diam. Ia memikul sendiri gandum di pundaknya. Ketika ditanya mengapa tidak meminta orang lain membawakannya, ia menjawab bahwa ia ingin memikulnya sendiri agar kelak di hadapan Allah ia tidak malu karena menyia-nyiakan amanah. Totalitas ibadahnya tidak berhenti di sajadah; ia mengalir ke jalan-jalan gelap Madinah, ke pintu-pintu rumah yang nyaris tak terdengar.

Sebagai khalifah keempat setelah wafatnya Utsman bin Affan, Ali memimpin umat dalam situasi politik yang penuh gejolak. Namun ketika Ramadhan tiba, ia tetap menjadi hamba yang sederhana. Ia menolak kemewahan dari baitul mal. Pakaiannya sering kali bertambal. Ia pernah menegur gubernurnya yang hidup terlalu mewah, mengingatkan bahwa pemimpin seharusnya merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, terlebih di bulan puasa.

Salah satu momen paling menggetarkan dalam sejarah adalah Ramadhan terakhirnya. Pada malam-malam itu, ia sering terlihat lebih lama berdoa. Wajahnya tampak teduh namun dalam. Seolah ia telah merasakan firasat akan pertemuan dengan Rabbnya. Pada tanggal 19 Ramadhan tahun 40 Hijriah, saat hendak mengimami shalat Subuh di Masjid Kufah, ia diserang oleh seorang pemberontak. Dalam keadaan terluka parah, kata-kata yang keluar dari lisannya bukanlah sumpah serapah, melainkan kalimat ketundukan: “Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung.”

Ucapan itu menunjukkan puncak totalitas ibadahnya. Bahkan dalam detik-detik menjelang wafat, ia melihat kematian bukan sebagai akhir yang menakutkan, tetapi sebagai gerbang perjumpaan dengan Allah yang selama ini ia rindukan dalam setiap sujud Ramadhan. Puasanya telah melatihnya untuk melepaskan dunia dengan ringan.

Keteladanan Ali di bulan Ramadhan mengajarkan bahwa puasa sejati melahirkan tiga hal: khusyuk dalam ibadah, berani dalam kebenaran, dan setia dalam amanah. Ia tidak memisahkan antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Ia tidak menjadikan ibadah sebagai alasan untuk lari dari perjuangan, dan tidak menjadikan perjuangan sebagai alasan untuk lalai dari ibadah.

Bagi generasi hari ini, kisah Ali adalah cermin. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, puasa sering tereduksi menjadi rutinitas tahunan. Namun Ali menunjukkan bahwa Ramadhan adalah ruang pembentukan karakter. Dari sajadahnya lahir keberanian. Dari laparnya lahir empati. Dari kesetiaannya lahir kepemimpinan yang adil.

Ali bin Abi Thalib telah pergi berabad-abad lalu, namun jejak Ramadhannya tetap hidup. Ia mengajarkan bahwa menjadi hamba yang khusyuk tidak berarti lemah, dan menjadi pejuang yang berani tidak berarti keras hati. Dalam dirinya, keduanya menyatu indah. Dan di setiap Ramadhan, kisahnya seperti memanggil kita: sudahkah puasa kita membentuk jiwa setangguh dan setulus itu? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *