Antara Warga Muhammadiyah atau Pegawai Muhammadiyah?

0
5367
Ilustrasi salat warga Muhammadiyah. (Panjimas)

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Setiap menjelang Ramadhan tiba, riuh silang saling pendapat selalu muncul di kalangan umat Islam. Ungkapan berbisik terdengar di telinga pembicaraan tentang awal bulan Ramadhan. Terlebih ketika sebulan lebih sebelum Ramadhan Muhammadiyah sudah beredar informasi kepastian hari dan tanggal awal bulan Ramadhan, sebagian umat manusia Islam sudah tidak asing lagi apabila Muhammadiyah sudah memiliki kepastian, karena Muhammadiyah memiliki metode dan pendekatan Hisab Wujudul Hilal dengan titik tekan pada wujudnya Hilal (bulan) sekalipun di bawah dua derajat karena kata kuncinya  bulan sudah muncul (wujud).

Dengan sikap yang konsisten dari dahulu, Muhammadiyah berani ambil risiko di hadapan pemerintah dan masyarakat pada umumnya. Itu semua dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan islam dan pendekatan saintifik dan teknologi modern. Image selalu beda dengan pemerintah sudah menjadi trademark tersendiri bagi Muhammadiyah.

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan islam, fenomena beda awal Ramadhan maupun 1 Syawal Hijriyah beberapa tahun ke belakang sering menjadi arena saling bully. Secara kuantitatif warga Muhammadiyah pada posisi lebih sedikit, sehingga membuat sebagian warga Muhammadiyah apabila menjalankan puasa ketika awal Ramadhan beda dengan pemerintah menjalankan dengan cara diam-diam. Bahkan tidak sedikit yang mengikuti pemerintah karena di lingkungannya mengikuti pemerintah semua. Selain tidak memiliki keilmuan tentang Hilal awal bulan, secara psikologis khawatir dianggap egois-individualistik dan kadang merasa malu berbeda dengan keumuman umat Islam.

Muhammadiyah sebagai organisasi persyarikatan yang sudah memiliki portofolio dan jam terbang luar biasa, bahkan organisasi masyarakat Islam tertua di Indonesia yang lahir sebelum lahirnya Indonesia, dalam mengelola keragaman beragama dalam Islam sudah teruji. Kasus-kasus di atas terindikasi masih banyak warga Muhammadiyah yang masih tidak mengikuti maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah khususnya terkait pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan.

Pertanyaannya apakah benar yang tidak mengikuti maklumat Muhammadiyah itu warga Muhammadiyah? Atau karyawan/staf, guru, dosen Muhammadiyah? Sependek yang diketahui kenapa disebut warga Muhammadiyah? Karena dapat dikatakan hampir 90% staf/karyawan, guru dan dosen di berbagai amal usaha Muhammadiyah memiliki kartu anggota Muhammadiyah, sehingga bisa dikatakan sebagai warga Muhammadiyah. Sejauh mana ketaatan terhadap organisasi persyarikatan Muhammadiyah? Ini menjadi catatan penting bagi pimpinan persyarikatan Muhammadiyah di level masing-masing tingkatan. Kepatuhan tidak menjadi mutlak, namun kesadaran mengikuti dan patuh ada sebuah keniscayaan.

Fenomena ini akan menjadi asyik diperbincangkan dan dicarikam solusi untuk perbaikan dalam pengelolaan organisasi Muhammadiyah kedepan. Controlling kepatuhan dan ketaatan warga dan pimpinan persyarikatan pada organisasi Muhammadiyah bukan hanya soal tata cara ibadah, melainkan seluruh kaidah-kaidah persyarikatan Muhammadiyah yang menyangkut gerak laju roda organisasi dan eksistensi institusi amal usaha Muhammadiyah yang dilahirkan oleh persyarikatan Muhammadiyah.

Benar atau salah, faktanya memang ada dan terjadi bahkan terlihat dan terdengar secara inderawi. Justifikasi tendensius pada seseorang bukan yang dimaksudkan, melainkan menjadi data dan fakta bahwa itu ada dan harus di akui dan di sadari oleh para pimpinan dan aktivis persyarikatan Muhammadiyah di berbagi level.

Sekalipun jam terbang persyarikatan Muhammadiyah melebihi negara, bukan berarti tidak ada yang salah apalagi tidak ada kekurangan! Semakin tua organisasi persyarikatan semakin banyak halang-rintang dan tantangan. Semakin besar kelembagaan organisasi persyarikatan semakin mudah masuk anggota Muhammadiyah dan relatif sulit di kontrol. Sehingga untuk mempermudah hal tersebut masing-masing di tingkat pimpinan harus mengetahui domisili anggotanya, termasuk lebih baik mengetahui aktifitas kemasyarakatannya. Kesungguhan pimpinan persyarikatan dan pimpinan amal usaha benar-benar dipertatuhkan untuk mengetahui anggota pimpinan dan warga persyarikatan secara teroganisasi.

Tidak sedikit staf/karyawan, guru, dan dosen di lingkungan Muhammadiyah sekadar bekerja tidak lebih, bahkan lebih parah lagi aktif di organisasi kompetitor ideologi atau platform organisasi Persyarikatan Muhammadiyah. Bahkan kadang ada membawa paham keagamaan Islam selain ajaran yang ditarjihkan dalam oleh majelis tarjih Muhammadiyah dan menjalankan organisasi amal usaha tidak mengikuti kaidah persyarikatan Muhammadiyah.

Ini menjadi perkerjaan rumah bagi pengelola amal usaha Muhammadiyah dan pimpinan persyarikatan. Tanggung jawab ini ada di pundak para pimpinan persyarikatan, pimpinan amal usaha dan para kader militan persyarikatan Muhammadiyah. Sematan kader atau pimpinan persyarikatan bukan menjadi kebanggan tatkala belum memberikan ketauladanan, apalagi mempertontonkan  sikap yang arogan merasa paling bermuhammadiyah padahal banyak hal yang tidak linear dengan tuntunan dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Semoga di bulan Ramadhan ini menjadi bulan instrospeksi dan evaluasi diri sebagai warga persyarikatan Muhammadiyah. Wallahualam. (*)

Ace Somantri adalah Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Bandung dan dosen UM Bandung. (Pribadi/KLIKMU.CO)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here