Apakah Mencintai Muhammadiyah Juga Berarti Memiliki?

0
103
Ilustrasi bendera Muhammadiyah (twitter PP Muhammadiyah)

Oleh: Ace Somantri

KLIKMU.CO

Siapapun mereka yang aktif di organisasi Muhammadiyah sudah pasti ada motivasi. Terlebih saat sudah memiliki kartu anggota Muhammadiyah cukup lama dan menjadi pengurus, rasa memiliki pun relatif menjadi bagian dalam hidupnya. Benarkah hal itu terjadi kepada semua anggota warga persyarikatan Muhammadiyah?

Sangat relatif karena bagi setiap anggota saat aktif dan menjadi pengurus apalagi pimpinan, motivasi dan orientasinya pada umumnya sama untuk mengabdi dan berkhidmat. Semoga niat dan motivasi mengabdi tidak menjadi ukuran dalam arti dan makna yang sangat sempit, karena mengabdi hanya sekedarnya berkreasi. Cukup dengan hadir dan mengikuti acara-acara seremonial semata, menikmati dan berpartisipasi apa yang terjadi tanpa ada aksi-aksi inovasi untuk menggagas gerakan lebih berarti bagi organisasi penuh dinamis dan menginspirasi generasi.

Tidak sedikit warga dan anggota Muhammadiyah menyebar di berbagi penjuru negeri. Kartu anggota sudah dikeluarkan dengan nomor bakunya melampaui ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan kartu. Hanya update data riil sulit diklaim berapa data riil anggota yang benar-benar aktif. Selama ini berbagai opini yang diklaim anggota persyarikatan aktif dan simpatisan belasan hingga puluhan juta sulit dibuktikan dengan data akurat dan valid.

Padahal hari ini, dengan media teknologi dengan berbagai platform digital canggih tidak ada alasan untuk tidak dapat diupdate. Sangat yakin persyarikatan Muhammadiyah mampu membuat profil update data anggota secara terintegrasi. Walaupun faktanya tidak semudah membalikan telapak tangan. Usaha untuk itu bukan tidak dilakukan, melainkan sangat mungkin cara dan strategi update data, teknik komunukasi pihak pemilik data dan yang paling penting kesadaran semua anggota warga persyarikatan saat diminta update data.

Mencintai Muhammadiyah sangat penting yang harus menjadi sikap seorang aktivis Muhammadiyah, karena dengan mencintai akan melahirkan kepedulian dan kepekaan terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam tubuh organisasi Muhammadiyah. Baik yang muncul dari internal maupun eksternal Muhammadiyah, karena sangat mungkin kondisi persyarikatan diterpa mengalami sakit pada aspek-aspek tertentu.

Buktinya sangat  tidak sedikit sistem organisasi bidang-bidang tertentu tidak berjalan dengan baik, eksistensi dan produktivitas di tingkat level pimpinan wilayah, daerah, cabang dan ranting Muhammadiyah sangat bervariasi kondisi sakit dan permasalahannya. Hal itu semua tergantung sikap pimpinan, pengurus dan anggota warga persyarikatan dalam menggerakkan organisasi Muhammadiyah. Andaikan pimpinan dan aktivisnya benar-benar mencintai, maka tidak mungkin membiarkan kondisi persyarikatan berlarut-larut dalam kondisi sakit yang memprihatinkan.

Mencintai Muhammadiyah akan selalu menjaga dan memelihara dengan penuh kasih sayang, berusaha melindungi dari segala hal yang akan merusak tubuh organisasi. Bahkan tidak pernah berhenti terus menerus memberi nutrisi gerakan yang mengandung nilai gizi yang cukup sehingga tubuh organisasi tetap sehat bugar.

Hasil gerakan organisasi yang sehat bugar akan terus bergerak memberi daya dan memberdayakan diberbagai situasi dan kesempatan dimanapun berada. Memberi sikap kasih sayang bukan hanya dipuja dan dipuji, itu bukan sikap yang baik melainkan akan melalaikan kinerja. Apalagi hanya untuk berbangga riya, ujub dan takabur merasa menjadi bagian paling berkontribusi, padahal nyatanya hanya ikut-ikutan tanpa menjadi bagian yang mengerjakan saat dalam berkarya.

Artinya, mencintai organisasi persyarikatan Muhammadiyah berusaha menjaga dengan melibatkan diri berkontribusi waktu untuk berpikir kreatif, berkarya inovatif dalam memproduksi karya cipta, berdaya nilai guna dengan penuh sahaja dalam berbangga terhadap hasil karya. Mencintai dalam bentuk yang lain pun banyak dan cara lain, substansinya senantiasa menggerakan dan memajukan sesuai kebutuhan dan tuntutan anggota dan warga persyarikatan Muhammadiyah.

Mencintai Muhammadiyah apakah boleh juga sekaligus memiliki? Ada istilah dalam bahasa para pujangga cinta pada anak-anak generasi puber, “mencintai tidak mesti harus memiliki”. Begitu pun sama dalam konteks organisasi persyarikatan Muhammadiyah, andaikan mencintai Muhammadiyah berarti memiliki hal itu dapat dikhawatirkan dalam implementasinya salah memaknai, dan sangat memungkinkan terjadi penyipangan atau pelanggaran kaidah-kaidah persyarikatan yang fatal dan faktanya ada beberapa kasus ditempat tertentu ketika dirinya mengklaim mencintai persyarikatan sekaligus memilikinya.

Maka segala tindakan dan perbuatan yang dilakukan sekehendak dirinya karena menganggap hal itu miliknya sendiri dan tidak peduli orang lain. Biasanya kasus tersebut terjadi diamal usaha Muhammadiyah pesantren dan sekolah yang dikelola oleh lingkaran keluarga yang turun temurun seolah-olah mereka paling berhak. Mencintai bisa jadi abadi, dan memiliki itu sifatnya sementara, artinya mencintai Muhammadiyah bisa abadi, namun memiliki Muhammadiyah dalam arti mengelola secara administratif sifatnya sementara harus bergilir sesuai generasi.

Peristiwa dalam kasus diatas boleh jadi sebagian kecil yang diketahui dan dipersoalkan, sangat memungkinkan kasus yang sama banyak terjadi di beberapa tempat hanya saja tidak diketahui oleh persyarikatan secara terbuka. Mencintai Muhammadiyah hal yang wajar bagi setiap kader, karena itu bagian dari sikap yang ditanamkan untuk memiliki rasa peduli dan tanggungjawab menjaga dan memelihara marwah organisasi persyarikatan Muhammadiyah tetap dalam rel kaidah-kaidah organisasi masyarakat Islam yang berdiri kokoh memberi pelayanan kepada umat, bangsa dan negara.

Mencintai persyarikatan ditunjukan dengan konsiaten dengan visi dan misi dakwah amar makruf nahyi munkar, juga senantiasa selalu memaksimalkan diri sebagai kader untuk berusaha keras memajukan persyarikatan dengan berkontribusi sesuai kompetensi, keahlian dan kepakaran yang dimiliki. Dengan rasa cinta kepada persyarikatan Muhammadiyah, maka akan lahir dan muncul sikap rasa peka dan peduli yang selalu ingin membantu pada sesama, terlebih pada saudara seiman dan seorganisasi, bahkan lintas etnis dan agama pun tidak menjadi penghalang untuk tetap saling membantu dalam kebaikan.

Rasa memiliki dalam berorganisasi boleh. Hal itu minimal untuk senantiasa menjaga dan memelihara eksistensi organisasi supaya tidak terkena dampak buruk dari disrupsi zaman yang terjadi kapan saja. Yang harus dihindari rasa memiliki yang mutlak yaitu seperti sikap tidak mau dievaluasi, koreksi dan tidak berkenan dikritisi. Apalagi tidak mau diganti untuk regenerasi, termasuk sekalipun saat siap diganti harus  sesuai kehendak dirinya sendiri baik oleh keluarga dan orang-orang yang berada dilingkungan dirinya tanpa ada pertimbangan prestasi.

Di sinilah langkah-langkah praktis rasa memiliki dibungkus dengan kata mencintai, sekedar untuk menutupi. Term mencintai Muhammadiyah sebenarnya lebih tepat melayani dengan tulus, ikhlas dan bahagia. Sehingga konsekuensinya, setiap warga atau anggota perayarikatan dan bahkan warga masyarakat lainnya merasa dilayani, dihargai, dihormati, dan merasa dimuliakan oleh organisasi persyarikatan dalam hal ini para pimpinan dan pengurus Muhammadiyah diberbagai level tingkatan struktur dan juga diberbagai institusi amal usaha Muhammadiyah. Wallahu’alam. (*)

Bandung, Juli 2023

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini