Awas! Pseudo Teaching Penyebab Terjadinya Loss Learning

0
37
Dr Nurwidodo MKes.

Oleh: Dr Nurwidodo MKes

KLIKMU.CO

Loss learning bukanlah isapan jempol belaka. Statemen ini dikuatkan oleh pakar kajian pembelajaran senior dari Tokyo University Prof Manabu Sato PhD dan Prof Pete Dudley dari Cambridge University. Beliau berdua menyatakan bahwa pasca-pandemi Covid-19, dunia pembelajaran dihadapkan pda tantangan loss learning gaya baru.

Loss learning gaya baru ini akibat dari pseudo teaching yang berlangsung di dunia pendidikan dan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi sudah mendunia. Apakah pseudo teaching itu?

Pseudo teaching adalah pembelajaran “seolah-olah”. Seolah-olah telah melakukan aktivitas sebagaimana syntax. Seolah-olah telah melakukan pembelajaran sebagaimana materi yang seharusnya dipelajari. Akan tetapi, semuanya itu tidak membawa pencapaian tujuan peningkatan keterampilan belajar dan penguasaan materi ajar pada siswa.

Menanggapi hal ini, pakar pembelajaran yang tergabung dalam International Conference on Innovative Learning (ICLIM), melalui hasil survei yang dilakukan menyatakan bahwa 70-80 persen siswa tidak paham terhadap konten pelajaran dan langkah langkah belajarnya. Sebaiknya pemahaman konten pelajaran mencapai lebih dari 70 persen, begitu pula penguasaan terhadap cara belajarnya. Seharusnya konten pelajaran terintegrasi dalam cara mempelajarinya (langkah belajar), sebagaimana syntax yang diprogramkan oleh model pembelajarannya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Tim LMT FKIP UMM menunjukkan bahwa 80-90 persen guru di lapang tidak menerapkan langkah-langkah pembelajaran sebagaimana model pembelajaran yang direkomendasikan dalam Kurikulum Merdeka. Survei juga menunjukkan bahwa para guru dalam menerapkan langkah sebagaimana model pembelajaran yang dipilih menunjukkan ketidakpedulian –apakah benar ataukah salah–  atas apa yang dilakukannya.

Kondisi seperti ini menunjukkan telah terjadinya gejala pembelajaran yang abai terhadap akuntabilitas proses dan abai pula terhadap perolehan belajar siswa. Kondisi ini mirip sekali dengan sinyalemen yang menyatakan telah terjadi pseudo instruction, sebagaimana dinyatakan oleh Prof Manabu Sato. Bilamana kondisi ini dibiarkan berkelanjutan, loss learning akan meluas dan masif kejadiannya.

Perlunya Pembinaan Profesi

Upaya yang disebut sebagai pembinaan profesi melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan terus-menerus untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menjadi urgen dan perlu dilakukan. Hal ini menjadi kebutuhan setiap sekolah dan dinas pendidikan agar mendapatkan guru yang peduli atas kualitas proses pembelajaran yang dilakukannya dan atas hasil belajar siswa yang dididiknya. Melalui pengkajian pembelajaran yang dilakukan secara kolegial ini akan diperoleh pemahaman yang holistik atas integrasi materi atau konten dengan langkah-langkah belajar yang seharusnya dilakukan.

Di mana kuncinya? Prof Ibrohim menyatakan bahwa kunci dari pembinaan profesi ini ada di ekosistem pendidikan yang komponennya meliputi guru, sekolah, dinas pendidikan, dan unsur pendukung seperti para pegiat pembinaan profesi. Sebagaimana ekosistem, bilamana komponennya memiliki ciri matang atau dewasa, akan terwujudlah ketahanan dan keberlanjutan (sustainable).

Pembinaan profesi guru bilamana ia berada dalam ekosistem yang dewasa akan terjaminlah inisiasinya, penguatannya, dan pemeliharaannya hingga terwujud pembudayaannya. Pembudayaan ini merupakan akulturasi praktik baik ke dalam perilaku personal sehari-hari dalam tugas profesi.

Tidak dilupakan bahwasanya hal ini berlaku dalam konteks ekosistem pendidikan yang memiliki komunitas belajar. Setiap komponen dalam ekosistem ini saling bersinergi dan memperkuat perilaku yang mendukung terwujudnya guru profesional di tingkat frontiers. Itulah hakikat pembinaan profesi yang mengarah pada penjaminan mutu secara berkelanjutan (continues quality improvement).

Upaya pembinaan profesi ini terkenal dengan sebutan lesson study. Lesson study adalah pembinaan profesi guru yang dilakukan melalui pengkajian pembelajaran yang dilakukan secara kolegial dengan prinsip kolaboratif dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Lesson study bertujuan membentuk komunitas belajar yang saling bersinergi mewujudkan pembelajaran berkualitas (lesson study for learning community atau LSLC).

Sumar Hendayana, mantan presiden ALSI, menyatakan bahwa pseudo teaching dengan sendirinya akan musnah dan tergantikan oleh quality teaching bilamana diterapkan lesson study dalam dukungan semua komponen ekosistem pendidikan yang terintegrasi.

Sementara itu, Arif Hidyat, presiden ALSI yang baru, menambahkan bahwa loss learning akan terhindarkan dan berganti menjadi meaningful learning bilamana perilaku profesi para guru berkomitmen terhadap pembelajaran berkualitas. Tentu kita berharap demikian adanya. (*)

Dr Nurwidodo MKes
Dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Pengurus ALSI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini