Bagi Muhammadiyah, Mengabdi pada Kemanusiaan Jauh Lebih Penting daripada Publikasi

0
1179
Pradana Boy ZTF saat memberikan tausiah pada Kuliah Ahad Subuh. (Tangkapan layar Achmad San/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Ada banyak sekali nilai positif yang telah dikembangkan oleh Muhammadiyah, tapi minim publikasi. Demikian menurut pandangan seorang profesor asal Korea Selatan, Hyung Jun Kim, pada sebuah kesempatan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sebagaimana disampaikan kembali oleh Dr Pradana Boy ZTF dalam tausiahnya di Kuliah Ahad Subuh UMM (20/6/2021).

Dengan capaian seperti itu, menurut Hyung Jun, Muhammadiyah ini harusnya bisa lebih sombong. Sombong di sini maksudnya adalah lebih berani “memamerkan” kebaikannya secara luas.

“Tentu pernyataan ini mengejutkan kalau tidak memahami konteksnya,” kata Pradana Boy.

Menurutnya, pernyataan ini muncul dalam konteks pembicaraan tentang praktik-praktik baik yang dijalankan oleh Muhammadiyah dalam berbagai bidang kehidupan atau istilah bekennya best practices.

Best practices yang dijalankan Muhammadiyah itu jarang terdengar secara luas. Karena itu Muhammadiyah harus lebih sombong,” ujar Pradana Boy masih mengutip pernyataan profesor asal Korea itu.

Bukan dalam arti negatif, tapi Muhammadiyah seharusnya lebih agresif memublikasikan best practices yang dijalankan itu agar gaungnya lebih luas. “Menurut Kim kebaikan Muhammadiyah tak banyak terdengar karena pemimpin Muhammadiyah kurang berani membicarakan hal-hal baik yang dilakukan itu,” lanjut Boy.

Mengenai tesis itu, Pradana Boy punya penilaian tersendiri. Yakni, bagi para aktivis Muhammadiyah, membicarakan kebaikan sendiri di pulik adalah sesuatu yang kurang elok. Ia lantas mengutip pernyataan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti: Baik pimpinan maupun anggota jarang sekali mengungapkannya karena khawatir ada unsur ketidakikhlasan. Keengganan tokoh atau pimpinan menyampaikan secara terbuka itu dalam Muhammadiyah dimanifestasikan dengan ungkapan “sedkit bicara banyak kerja.”

Tak hanya oleh Kim, kata Pradana, Prof Masdar Hilmy, guru besar sekaligus rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, juga mengakui segala kebaikan dan kepeloporan di berbagai lini kehidupan. Khususnya pendidikan. Masdar Hilmy mengaku selalu menunggu apa yang lahir dari Muhammadiyah untuk kelak diikuti.

Di luar wilayah akademik, ada juga di media sosial seorang penulis bernama Andriawan yang cukup heran melihat segala sesuatu yang dilakukan Muhammadiyah. “Di tulisan itu ia memberi judul “Lagi-Lagi Muhammadiyah, Saya Jadi Curiga,” terang Pradana yang juga menjabat asisten rektor UMM itu.

Dalam tulisan ringkas itu, kata Pradana, si Andriawan ini mengaku keheranan bahwa segala hal yang dilakukan Muhammadiyah selalu berkaitan dengan aksi-aksi kemanusiaan. Namun, di sisi lain dia melihat ironi karena di tengah gegap gempita dunia politik, Muhammadiyah selalu mengambil posisi netral. Namun, ketika terjadi bencana dan sebagainya, Muhammadiyah justru selalu menjadi yang terdepan.

“Tapi, selalu yang dilakukan Muhammadiyah itu miskin publikasi,” ujar Pradana sambil menerangkan bahwa yang bersangkutan agaknya belum mengenal betul Muhammadiyah karena sempat menyebut sebagai LSM.

“Bagi kalangan warga Muhammadiyah, kenyataan ini adalah nilai-nilai dasar,” tegasnya. Artinya, Muhammadiyah memang tidak perlu sombong dan menyombongkan diri. Sak madya kalau kata Prof Amin Abdullah. ”Sak madya itu artinya adalah seadanya atau sederhana saja,” ucap Pradana.

Contohnya, perilaku hidup tokoh-tokoh Muhammadiyah jauh dari kesan kemewahan. Lihat saja bagaimana laku keseharian KH AR Fakhruddin, Prof Ahmad Syafii Maarif, hingga Prof Haedar Nashir.

“Kenapa Muhammadiyah tidak perlu publikasi? Karena bagi Muhammadiyah, mengabdi pada kemanusaiaan itu jauh lebih penting daripada penghargaan formal atau publikasi semata,” tutur tokoh yang sempat menjabat sebagai Asisten Staf Khusus Kepresidenan Bidang Keagamaan Internasional itu. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here