Beasiswa Penghafal Kitab Suci Terobosan Progresif Dunia Pendidikan

0
213
Dr Sholikh Al Huda MFilI, pengamat sosial agama UM Surabaya. (KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Beasiswa penghafal kitab suci oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendik) Surabaya adalah terobosan progresif dari praksis moderasi beragama di Indonesia. Dispendik Kota Surabaya layak mendapatkan apresiasi atas terobosan program Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP jalur beasiswa penghafal kitab suci bagi siswa penganut 6 agama resmi yang diakui oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Hal itu disampaikan oleh Dr Sholikh Al Huda MFilI, pengamat sosial agama UM Surabaya, kepada KLIKMU.CO, Ahad (6/6/2021).

Sebagaimana diberitakan, program jalur beasiswa penghafal kitab suci ini diperuntukkan bagi semua siswa, terutama bagi siswa penghafal juz, ayat, dan doa dalam kitab suci dan terbuka untuk semua agama.

Adapun tujuan dari program ini adalah perlu memberikan apresiasi bagi siswa penghafal kitab suci, karena tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk mendaras. Selain itu, dengan hafal kitab suci, pelajar menjadi pribadi agamis (berakhlak). Sebab, pelajar tidak hanya membutuhkan ilmu, namun agama juga dapat menjadi penuntun kepribadian yang baik.

Dikutip dari Jawa Pos (5/6/2021), skema beasiswa penghafal kitab suci sebagai berikut: bagi pelajar Islam hafidz 5 juz Al Qur’an. Pelajar Kristen 30 Ayat Al Kitab. Pelajar Katolik pilih ayat Kitab Mazmur pada hari raya Pantekosta, Natal, Paskah, Jumat Agung dan Harian Pelindung. Pelajar Hindu 10 Sloka Kitab Suci Weda. Pelajar Buddha bisa memilih, 5 Ayat Kitab Suci Dammapada, 5 Paritta pada Paritta Kitab Suci Tripitaka, 10 Sutra Pendek Mahayana, Doa Berkah Maitreya. Pelajar Khonghucu 8 Pengakuan Iman dan keimanan pokok agama Khonghucu (Jawa Pos, 5/6/2021).

Sholikh menyebutkan, terobosan di atas memberi angin segar dan inspiratif di tengah kebuntuan mencari formula praksis-implementatif atas diskursus moderasi beragama di Indonesia. Terutama pada praksis formula pendidikan berkarakter moderat. Terobosan ini masuk pada wilayah kebijakan politik pendidikan.

Terobosan kebijakan politik pendidikan Dispendik Kota Surabaya tersebut, lanjut dia, mempunyai makna dan posisi penting bagi kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia yang multiagama (majemuk).

“Menurut saya, minimal ada dua kontribusi yang luar biasa atas terobosan tersebut yang patut diapresiasi oleh semua kalangan,” terangnya.

Pertama, terobosan tersebut dapat berkontribusi untuk mengeliminasi tradisi intoleransi-ketegangan-konflik antarumat beragama di masyarakat. Kondisi tersebut salah satunya disebabkan ada ruang diskriminasi, sehingga memunculkan prasangka dan iri hati, hal ini dapat menjadi benih konflik dan intoleransi antarumat beragama.

“Mengingat, saat ini aksi intoleransi dan ketegangan (konflik) relasi sosial-keagamaan di kalangan umat beragama di Indonesia semakin menguat,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari data laporan yang dikeluarkan oleh The Wahid Institut terkait Kemerdekaan Kebebasan (KKB) Tahun 2019 secara umum menemukan peningkatan pelanggaran KKB oleh aktor Kelompok, individu dan negara. (https://wahidfoundation.org/index)

Karena itu, dengan memberikan peluang, tempat dan apresiasi yang sama (egaliter) bagi semua penganut agama yang ada, tanpa diskriminasi akan mendorong relasi toleransi, rukun dan harmoni sosial antar umat beragama di Indonesia.

Kedua, terobosan tersebut dapat dijadikan rule model dalam kebijakan politik pendidikan, terutama dalam rangka membangun pola praksis moderasi beragama pada wilayah pendidikan, yaitu pendidikan moderat.

“Selain itu, pola tersebut dapat dijadikan model baru dalam penerimaan siswa didik baru (PPDB) pada tingkat SMP-SMA bahkan dapat pula diterapkan pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di tingkat Perguruan Tinggi (PT) terutama pada Perguruan Tinggi Negeri ( PTN) di seluruh Indonesia,” terang direktur Institut Studi Islam & Keindonesiaan/InSID itu. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here