Beda Cara Pandang Covid-19: Barat Pakai Pendekatan Ilmiah, Muslim Gabungkan Impiris-Teologis

0
71
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas saat menjadi pembicara pada webinar “Perspektif Kesehatan untuk Pemulihan Kehidupan Masyarakat di Masa Pandemi di Sulawesi Selatan". (MUI Digital)

KLIKMU.CO – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas menyebut penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia harus melihat permasalahan ini tidak hanya soal empiris atau sumber pengetahuan yang diperoleh dari observasi. Melainkan juga melihat hal ini dengan teologis atau keyakinan.

Hal itu disampaikan tokoh Muhammadiyah itu dalam webinar “Perspektif Kesehatan untuk Pemulihan Kehidupan Masyarakat di Masa Pandemi di Sulawesi Selatan”, Sabtu (23/10). Webinar ini dilakukan dari hasil kerja sama MUI dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

“Kalau di Barat sana hanya mendekatinya dengan perspektif ilmiah, tapi kalau bagi kita sebagai seorang muslim, sebagai orang yang beragama, tentu melihat masalah ini tidak hanya masalah empiris, tetapi menyangkut masalah-masalah teologis atau keyakinan kita,” terangnya di laman MUI Digital.

Selain itu, dia mengungkapkan bahwa dalam menghadapi Covid-19 ini, ada orang yang terlalu ekstrem menafsirkan dan melihatnya dalam perspektif agama. Mereka juga mempunyai dasar. Segala sesuatu yang terjadi sudah tercantum di lauhul mahfudz dengan didasari oleh firman Allah dalam Alquran surat Al-Hadid ayat 22.

Dia menjelaskan, memang jutaan tahun silam hal tersebut sudah tertulis di lahul mahfudz. Tetapi, lanjut Buya Anwar Abbas, anggapan kena atau tidak Covid-19 karena alasan tersebut merupakan penafsiran yang ekstrem secara tekstual.

“Jadi, bagi mereka-mereka itu ya kalau (kata) Tuhan kita kena covid ya kena covid, kalau tidak kena covid ya tidak kena covid. Itu cara pendekatan penafsiran yang menurut saya sangat ekstrem secara tekstualitasnya,” paparnya.

Di sisi lain, Buya Anwar Abbas juga melihat ada kelompok yang menghadapi Covid-19 ini dengan perspektif ilmiah, saintifik, dan tidak mengaitkanya dengan masalah keimanan. Untuk itu, menurutnya, empirik dan keimanan harus menjadi satu.

“Bagi saya, masalah ini tidak bisa hanya didekati oleh empirik saja ya, dan tidak bisa juga didekati secara keimanan saja, tetapi keduanya harus menjadi satu dan terintegrasikan,” paparnya.

Dia menuturkan, di antara bentuk-bentuk kebinasaan itu terkena oleh penyakit atau bahkan yang bisa menyebabkan kematian. Untuk itu, kata dia, di dalam ayat ini kita memiliki kewajiban untuk taat pada perintah untuk menghindari terjadinya bencana, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Oleh karena itu, Buya Anwar Abbas menyebut karena Covid-19 ini kategorinya menular, salah satu kaidah dalam fatwa MUI yang harus diperhatikan dalam bertindak di tengah Covid-19 ini prinsipnya adalah la dharara wala dhirara.

“Jangan sampai tindakan yang kita lakukan itu mencederai orang lain atau bahkan kita sendiri yang dicederai,” tuturnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here