Benarkah Muhammadiyah Antikitab?

0
536
Nurbani Yusuf

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Sambil berkelakar Cak Nur (Dr Nurcholis Madjid) mengatakan: ”NU punya kitab, tapi tidak punya katalog. Muhammadiyah punya katalog, tapi tak punya kitab.”

Jargon kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunah seakan menafikan kitab-kitab klasik karya para ulama besar. Sesuatu yang mungkin kerap disalahpahami sebagian besar awam bahwa kitab- kitab itu kemudian diposisikan tak penting karena dianggap banyak menyimpang. Maka seakan harus ditinggalkan semua dan langsung mengambil kepada sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan as-Sunah tanpa mengerti.

Tapi, benarkah Muhammadiyah anti-kitab kuning? Dan setiap amalnya langsung mengambil kepada Al-Quran dan As-Sunah secara tekstual? Ini juga tidak sepenuhnya benar. Meski realitas juga tak bisa ditampik bahwa Muhammadiyah tak punya kitab baku sebagai rujukan dalam hal aqidah, fiqih, tafsir, apalagi tasawuf.

Ini memang perlu penjelasan rigid, di mana majelis tarjih mengedepankan metodologi ketimbang kitab. Dapat dijelaskan bahwa tarjih adalah metode dalam memutuskan suatu masalah atau kasus adalah memilih atau menguatkan salah satu dalil atau pemikiran dari berbagai dalil atau pemikiran yang saling bertentangan (taʻâruḍ al-adillah).

Substansinya, tarjih adalah metode yang dibutuhkan hanya ketika ada kasus atau perkara yang membutuhkan solusi atau putusan. Sebab itu dinamai ‘putusan tarjih’ atas suatu perkara. Tapi, bagaimana bila dalam kondisi normal yang tidak perlu putusan? Ke mana merujuk? Pada kitab apa bersandar?

Termasuk siapa yang punya kemampuan menarjih? Maka, ia menjadi sangat elitis dan khusus—di situlah rumitnya. Apalagi jika tarjih sebagai metode juga difungsikan sebagai kredo. Dan patut diduga sebagai sebab awal hilangnya khazanah keilmuan dan hikmah dari para ulama pendahulu.

***

Jadi, bagaimana sebenarnya sikap Muhammadiyah memosisikan kitab-kitab pokok karya para ulama besar itu dalam kondisi normal? Apakah langsung pada Al-Quran dan as-Sunah itu atau perlu washilah kitab kitab klasik? Sesuatu yang amat jarang dibahas di Persyarikatan kaum modernis ini.

Realitasnya, para kader dan aktivis juga tak akrab dengan kitab-kitab pokok yang banyak menjadi rujukan semisal kitab Al Umm, kitab Ihya’, kitab Hikam, kitab Jauharut tauhid, dan lainnya. Bahkan ada yang buru-buru mengklaim dan memberi stigma bahwa itu kitabnya orang NU. Sungguh disayangkan.

Seorang karib berkelakar: Salah satu khas ngaji di NU adalah kitab dan asap rokok. Di Muhammadiyah dua-duanya telah tiada, tanpa asap rokok dan kitab. Sebab itu pula pondok-pondok Muhammadiyah juga lebih suka menghafal Al-Quran, bukan ngaji kitab.

Apakah karena kekosongan ini maka Salafi dan Wahabi menemukan tempatnya di kajian-kajian Muhammadiyah? Juga belum tentu benar, meski kitab Shifat Shalat Nabi karya Syaikh al Al Bani rujukan Salafi itu lebih dipatuhi dan populer di Persyarikatan ketimbang buku Himpunan Putusan Tarjih. Wallahu a’lam.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here