Berapa Rakaat Tarawih yang Dikerjakan ketika Khalifah Umar Kumpulkan Orang Banyak?

0
146
Nurbani Yusuf. (Dok Facebook)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Belajar fiqih perlu kelapangan hati dalam menerima perbedaan pendapat dan ikhtilaf di antara para ulama. Imam Syafi’i berbeda sebanyak 5.789 ikhtilaf, dengan gurunya Imam Malik, demikian tutur Hudratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari, tapi keduanya tetap saling menghormati dan menghargai serta tidak pernah mencela pendapat dengan menyebut berbagai sebutan yang kurang baik.

***

Saat itu pada suatu malam di bulan Ramadhan, pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab di Masjid Nabawi, banyak orang shalat sendiri-sendiri dan berpencar tidak beraturan. Kemudian semua orang dikumpulkan dan beliau perintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim bin Dari untuk menjadi imam shalat, kemudian beliau berkata usai shalat: “Inilah sebaik-baik bidah” (ni’matu bid’ah hadzihi).

Tapi saya lebih suka dengan penyebutan sunah hasanah.

Perkataan Sayidina Umar ini begitu lazim dan populer untuk melegitimasi shalat Tarawih dengan berbagai varian tafsir dan pemahaman.

Yang kemudian dijadikan hujjah tentang bolehnya mengerjakan shalat Tarawih berjamaah meski pada zaman Rasulullah saw belum dilembagakan seperti sekarang. Inilah shalat Tarawih berjamaah pertama yang dikerjakan hingga sekarang.

Kemudian pertanyaan yang mengemuka adalah: Berapa rakaat shalat Tarawih yang dikerjakan oleh Ubay bin Ka’ab saat ia menjadi imam shalat Tarawih pertama kali itu? Ada beberapa riwayat, baiklah kita simak dengan hati bening dan pikiran bersih.

Selanjutnya Khalifah Umar Ibnul Khattab berketetapan dan mengumpulkan semua orang berjamaah dipimpin Ubay bin Ka’ab. Pada kesempatan malam yang lain, Abdurrahman bin Abdul Qari keluar lagi bersama Khalifah Umar. Masyarakat melakukan salat secara berjamaah mengikuti imamnya (H.R. Bukhari).

Dalam kitab Fathul Bari syarah kitab shahih Bukhari oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani disebutkan, dalam riwayat di atas tidak disebutkan jumlah rakaat yang dikerjakan oleh Ubay bin Ka’ab. Oleh karenanya, terdapat perbedaan. Dalam kitab Al-Muwaththa’ disebut jumlahnya 11 rakaat.

‎الذي يأخذ بنفسي في ذلك الذي جمع عليه عمر – رضي الله عنه – الناس إحدى عشرة ركعة بالوتر، وهي صلاة رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، وإحدى عشرة ركعة من ثلاث عشرة ركعة قريب.

“Yang Aku (Imam Mālik) pilih dalam hal ini (jumlah rakaat tarawih) adalah rakaat yang orang banyak dikumpulkan oleh Umar ra, yaitu 11 rakaat bersama witir, dan inilah shalat Rasulullah saw, 11 rakaat dan 13 rakaat itu hampir (sama saja).”

‎وقال الجوري من أصحابنا: عن مالك أنه قال: الذي جمع عليه الناس عمر بن الخطاب أحب إلي، وهو إحدى عشرة ركعة، وهي صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، قيل له: إحدى عشرة ركعة بالوتر؟ قال: نعم وثلاث عشرة قريب، قال: ولا أدري من أين أحدث هذا الركوع الكثير.

(Al-Qāḍī Abul-Ḥasan) Al-Jūrī dari kalangan aṣḥāb kami berkata: “Dari Mālik, bahwasanya beliau berkata, “yang orang-orang dikumpulkan oleh Umar bin Al-Khaṭṭāb lebih aku sukai, yaitu 11 rakaat dan inilah salat Rasulullah saw.” Beliau ditanya (lagi): “11 rakaat bersama witir?” Jawabnya, “Ya, dan 13 rakaat itu mirip.” Mālik berkata lagi: “Aku tidak tahu dari mana mereka mengada-adakan rakaat yang banyak ini”. ni’matu bidah hadzihi).

***

Itulah fiqih, banyak ragam pendapat dan ikhtilaf. Yang terpenting adalah saling menghargai dan menghormati. Imam Malik dan Imam Syafi’i muridnya tetap saling menghormati tidak saling membidahkan apalagi menyesatkan meski banyak perbedaan pendapat.

Lantas, pertanyaan berikutnya lebih utama shalat Tarawih 8 rakaat atau 20 rakaat? Bagi saya keduanya mendapatkan keutamaan, tapi berbeda. Yang pertama mendapat dua keutamaan mengikuti sunah Nabi saw yang agung dan sunah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk dan yang kedua mendapat satu keutamaan mengikuti sunah khulafaurasyidin yang diberi petunjuk.

Bukankah Buya Hamka sbuhan pakai qunut sebab makmumnya adalah Kiai Idham Chalid. Sebaliknya, Imam Syafi’i tak pakai qunut saat shalat Subuh di masjid gurunya semata saling menghargai. Begitulah para ulama jika berbeda pendapat didasari keluasan ilmu dan hikmah. (*)

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here