Bersahabat tapi Tidak Menjilat, Inilah Dakwah Amar Makruf Nahi Mungkar Muhammadiyah

0
1608
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (dua dari kanan) dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti (kanan) saat dikunjungi Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (kiri) dan Ketua MPR Bambang Soesatyo. (Jawa Pos)

KLIKMU.CO – Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd heran kepada sebagian orang yang menganggap bahwa Muhammadiyah belakangan ini terkesan tidak melakukan nahi mungkar alias mencegah kemungkaran.

“Anggapan yang salah itu muncul karena dua hal. Antara tidak mengetahui khazanah amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah ataupun karena kesalahan memahami konsep amar makruf nahi mungkar itu sendiri,” kata Abdul Mu’ti dalam Pengkajian Ramadhan PWM DKI Jakarta, Ahad (2/5/2021).

Dia menilai selama ini amar makruf nahi mungkar itu dianggap berbeda. Padahal, itu satu kesatuan. “Kalau amar makruf itu bahasa gampangnya ‘jadilah orang baik’, kalau nahi mungkar itu ‘jangan nakal,’ lanjut tokoh yang akjrab disapa Abe tersebut dikutip dari web resmi Muhammadiyah.

Karena itu, bagi Mu’ti, nahi mungkar pun wajib dilakukan dengan cara yang makruf, bukan dengan cara yang mungkar.

Dia menjelaskan, konsep amar makruf nahi mungkar pun memiliki pengertian beragam oleh masing-masing kelompok. Karena itu, membawa penafsiran nahi mungkar kelompok lain kepada Muhammadiyah dianggap tidak tepat dan tidak sesuai.

“Selama ini kita memaknai nahi mungkar dengan cara-cara yang pro kekerasan dan bernuansa kekerasan. Itu bukan pilihan Muhammadiyah. Cara amar makruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara yang makruf,” tegasnya.

Jika nahi mungkar Muhammadiyah di tingkat kultural dilakukan dengan cara musyawarah, kata dia, nahi mungkar Muhammadiyah di tingkat struktural juga menggunakan tiga pendekatan. Yaitu opinion maker (membuat opini), lobi, dan political pressure (tekanan politik).

Pendekatan kultural dan bukan konfrontasi seperti ini, lanjut Mu’ti, telah dilakukan Kiai Ahmad Dahlan ketika menghadap Sultan Hamengkubuwono agar mengubah penentuan waktu Idul Fitri dari hitungan tradisional ke hitungan kalender (hisab).

“Nah cara-cara sepeti ini sudah dilakukan Kiai Dahlan, tapi oleh sebagian orang dianggap cara yang lembek. Tapi, menurut saya bukan lembek karena ini efektif memberikan hasil, seperti yang dilakukan Pak A.R. Fachruddin ketika menyampaikan aspirasi kepada Pak Harto,” imbuhnya.

Bagi Mu’ti, cara-cara persuasif itu lebih berguna daripada cara-cara yang konfrontatif dalam melakukan amar makruf nahi mungkar. “Pendekatan-pendekatan persuasif itu lebih efektif dan dalam beberapa hal itu diikuti (berhasil) walaupun kita semua tidak menyadarinya,” ungkap Mu’ti.

“Bersahabat tapi tidak menjilat. Insya Allah dengan cara itu Muhammadiyah akan selamat,” pungkasnya. (Afandi/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here