Bisakah Politisi Islam Bangun Kekuatan Sendiri tanpa Kaum Nasionalis?

0
88
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Studi tentang perilaku politik umat Islam dalam rebutan kekuasaan lima tahunan.

Bolehkah saya pesimistis? Bahwa perilaku politik umat Islam dalam politik kekuasaan lima tahun ke depan tidak akan berubah? Greg Barton bahkan sudah pesimistis semenjak 20 tahun yang lalu. Pada sebuah tulisan yang sangat menarik, ‘Menjerat Gus Dur’ bahwa politik umat Islam adalah politik konflik, perpecahan, dan perselisihan, katanya pendek. Demikian Greg Barton menyikapi gaduh politik ketika Gus Dur yang merepresentasi politisi santri juga tak luput dari amuk.

Habibie dan Gus Dur dijatuhkan sesama santri—paradoks di tengah ambigu kekuasaan politik santri. Apakah Habibie dan Gus Dur kurang santri, lantas siapa yang berhak memverifikasi bahwa rezim ini layak dipertahankan atau dijatuhkan?

Desain politik umat Islam 2019 adalah desain paling buruk. Koalisi yang sarat kepentingan dan jauh dari nilai Islam selain jargon politik identitas yang terus digemakan nirkonsep idealitas sebagai ‘philosophische groundslaach’ yang mengemuka hanya jualan agama begitu kental terlihat dan berakhir habis tanpa sisa.

Jadi, benarkah perilaku politik umat Islam masih sebatas symbol, bukan substansi? Saya menjawab itu realitas. Daniel Bell bahkan lebih sarih menyebut politik identitas makin dominan di kalangan politisi muslim. Mungkin semacam perasaan minder dan kurang percaya diri sehingga kerap menjadikan agama sebagai baju dan kendaraan dalam berpolitik.

Politisi muslim gagal menjadi alternatif dan tidak mampu mendesain tema-tema aktual yang menjadi kebutuhan publik. Tema-tema tentang kesejahteraan sosial, keadilan, stabilitas, keselamatan justru luput dari perhatian dan bergeser menjadi isu permusuhan atas suku, agama, dan ras yang di-blow up habis.

Membangun kebencian atas agama lain dan permusuhan terhadap suku menjadi arus utama. Paradoks di tengah ajaran Islam yang rahmatan lil alamie. Akibatnya, Islam menjadi sangat menakutkan dan ancaman yang harus dienyahkan.

Realitasnya politik umat Islam justru berbanding terbalik dengan kekuatan politik nasionalisme sekuler, di mana Megawati suka tidak suka masih menjadi tokoh sentral. Sebagai the real king maker yang sangat kuat, Megawati adalah representasi politik nasionalis yang kokoh dan berhasil merekatkan semua perbedaan dan konflik menjadi sebuah kekuatan yang kokoh.

Bisakah politisi Islam membangun kekuatan sendiri tanpa dukungan kaum nasionalis? Jawabnya: belum pernah terjadi. Sebaliknya politik Islam justru menjadi second line yang kerap ditinggalkan dalam berbagai peristiwa politik meski tampak bekerja dengan sangat keras pada mulanya.

Partai politik Islam kerap tak bisa bersatu. Meski menabalkan sebagai partai Islam, realitasnya sangat dipengaruhi oleh manhaj dan idelogi. Anies Baswedan, misalnya, sangat tidak mungkin didukung PKB. Rivalitas santri modern dan tradisional masih sangat kuat, dan itu adalah pilihan yang melemahkan.

Faktor kultur politik Islam memang tak cukup siginifikan menjadi rujukan bahkan kerap menjadi cerita buruk. Philip K Hitti juga pesimistis. Politik Islam tak punya imam yang dipatuhi, semua ingin menjadi imam dengan jamaah kecil yang berjalan sendiri-sendiri. Belum lagi faktor kekuatan uang sebagai investor politik dan penggerak tulis marcus mietzner dalam ‘power, money and ideology’  jadi kekuasaan politik Islam sepertinya masih sangat panjang dan perlu kerja keras lagi. Walahu taala allam. (*)

 

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here