Bukan Ujian Kemanusiaan, Ini Ujian Keimanan!

0
42
Bukan Ujian Kemanusiaan, Ini Ujian Keimanan! (Foto internet)

Oleh: Budi Nurastowo Bintriman
Mubaligh akar rumput, pengasuh anak yatim miskin dan telantar. Ber-NBM: 576.926

KLIKMU.CO

Berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 2, terkandung makna bahwa (seluruh) kehidupan ini adalah ujian. Namun, banyak yang belum sadar bahwa ujian apapun itu, ujung-ujungnya adalah ujian keimanan.

Sejak SMP, saya sudah biasa merokok. Merokok yang saya nikmati khusus setelah makan. Antara makan, minum, dan merokok sudah seperti satu rangkaian ritual.

Semakin bertambah usia dan pergaulan, kebutuhan merokok jadi bertambah. Merokok jadi kebutuhan tambahan saat ngobrol, dan atau saat setelah olahraga. Nikmat sekali.

Hingga kuliah dan mengabdi sebagai guru agama pun masih merokok, di mana “jadwalnya” semakin bertambah. Pagi butuh merokok sambil ngopi dan makan cemilan pengganti sarapan. Malam butuh merokok sebagai teman pengantar tidur.

Banyak pihak mulai “mempersoalkan” hobi saya merokok. Dan itu tak mempan 1 persen pun untuk menghentikan hobi merokok saya. Bahkan hati saya justru kasihan terhadap mereka yang tak bisa merasakan nikmatnya merokok.

Suatu ketika saya merenungkan “doktrin” sederhana mengenai memelihara jenggot dan laku mubazir yang sekaligus menzalimi diri sendiri (yaitu merokok). Hanya berdasarkan perenungan sekilas itu, saya mau memelihara jenggot, dan saya mau berhenti merokok.

Saya anggap perenungan sederhana itu adalah hidayah dari Allah. Sejak saat itu, saya berhenti merokok tanpa bak bik buk. Dan saya menganggap ada peningkatan keimanan dalam diri saya, khususnya mengenai laku mubazir dan menzalimi diri sendiri.

Maka satu saran kecil buat siapapun para perokok, “Berhentilah merokok karena dorongan ‘doktrin’, bukan karena dorongan teori-teori profan, yang justru menjauhkan dari kebenaran”.

Begitu pula dalam hal menyikapi konflik Israel-Palestina. Kembalikan perkara itu ke perkara agama. Toh Israel telah jelas-jelas menggerakkan kaum Yahudi yang tercerai-berai untuk kembali ke Tanah Yang Dijanjikan (Palestina) dengan argumentasi doktrinal.

Anehnya, banyak kaum muslim justru mendegradasikan makna perjuangan hanya sebatas dorongan kemanusiaan. Muhammadiyah yang terwakili oleh headline majalah Suara Muhammadiyah pun terkecoh. Muhammadiyah menganggap ini ujian kemanusiaan.

Kita harus berani mengatakan bahwa ini adalah ujian keimanan, bukan ujian kemanusiaan! Apa bedanya landasan filosofi itu? Tentu sangat berbeda!

Mengapa kaum Yahudi begitu kuat militansinya dalam memperjuangkan kepemilikan Tanah Yang Dijanjikan? Itu karena menggunakan argumentasi doktrinal. Perjuangan mereka menjadi perjuangan suci. Begitu pula kaum muslim (milisi HAMAS) dalam mempertahankan Baitul Maqdis pun menggunakan argumentasi doktrinal.

Maka milisi HAMAS meskipun kekuatannya jauh tak sebanding dengan kekuatan pasukan Zionis Israel dan sekutunya, tak pernah surut berjuang demi Baitul Maqdis. Ingat pertempuran dua kekuatan asimetris pada Perang Badar!? Dan ingat peristiwa hijrah yang melahirkan “doktrin” innamal a’malu binniyat!

Maka mari luruskan niat (keimanan bukan kemanusiaan)! Mari argumentasikan aksi kita pada landasan doktrinal (transendental bukan profan)! Hingga perjuangan jadi bernilai ibadah, insya Allah.

Ujian dunia ini ujung-ujungnya adalah ujian keimanan. Jangan terbalik-balik dan linglung hanya karena takut. Takut yang muncul dengan kemasan-kemasan seksi. Padahal sejatinya karena tipisnya iman.

Wallahu a’lam bishshawwab…

Banyudono Boyolali, Jumat 3 November 2023

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini