Cabang dan Ranting The Real Muhammadiyah

0
52
Kiai Nurbani Yusuf, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Mburu uceng kelangan dheleg. Masih ingat peribahasa ini. Maunya mendapat ikan paus, tapi ikan teri di genggaman lepas, ikan pausnya juga mrusut.

Waliyullah Abdurrazaq Fakhrudin atau biasa disapa Kiai Abdul Razaq Fakhrudin atau Pak AR pernah berkata: “Ranting itu The Real Muhammadiyah”. Betapa pedulinya Pak AR ini dengan keberadaan ranting dan cabang.

Pada setiap kunjungan, beliau selalu mampir ke rumah pimpinan cabang dan ranting bahkan beliau menginap meski sudah disediakan penginapan di hotel. Beliau lebih suka nginap di rumah pimpinan Persyarikatan. Bersyukur saya beberapa kali menemani dan mengantar beliau menginap di rumah Pak Malik Fadjar di Jalan Silikat Pandean Malang.

Tahukah antum ribuan masjid dan mushala. Ribuan sekolah dari PAUD hingga sekolah menengah. Klinik sebelum menjadi rumah sakit. Perguruan tinggi sebelum membesar para pendirinya adalah warga Muhammadiyah yang berada di ranting, cabang, dan daerah.

Jamaah yang di ranting dan cabang inilah yang urunan mengumpulkan infak dari hasil panen di kebun, sawah, ternak, dan sebagian penghasilan sebagai pedagang, guru, buruh tani, pekerja kebun untuk membangun mushala, membangun masjid, mendirikan sekokah, dan klinik bersalin.

Jamaah yang ada di ranting ini pula yang mewakafkan tanah, rumah, kebun, dan sawah untuk dikelola
dan diserahkan kepada Muhammadiyah—termausk keluarga kakek buyut saya yang mewakafkan sebagian tanah, kebun, rumah, dan sawahnya untuk mushala, masjid, madrasah klinik bersalin.

Pak AR pernah berkata bahwa Muhammadiyah itu adalah: ‘Islam nyah-nyoh ‘—artinya senang memberi dan tidak menghitung-hitung pemberian meski kadang namanya tidak pernah disebut-sebut.

Jamaah ranting itu kumpulan orang-orang ikhlas, tulus, dan senang memberi. Mereka inilah yang menghidupkan pengajian di muslaha, menyelenggarakan shalat Jumat di masjid bahkan pengajian dari rumah ke rumah warga saat pertama kali merintis ranting sebelum punya amal usaha berupa masjid atau muslaha.

Di ranting, pada pengajian yang sederhana, ustadnya juga sederhana, dengan jamaah yang juga sangat sederhana, tapi hasilnya luar biasa. Bukan ngaji titik, tapi ngaji koma—artinya Kiai Dahlan memberi teladan bahwa ngaji tidak boleh berhenti setelah ilmu didapat, tapi yang lebih penting adalah mengamalkan ilmu dalam bentuk amal saleh.

Ngajinya Muhammadiyah itu ngaji untuk menolong sesama, bukan ngaji untuk menyalahkan orang. Meski hanya Al Maun yang dikaji hasilnya berdiri ratusan bahkan ribuan amal saleh yang tersebar di ranting-ranting Muhammadiyah di seluruh penjuru negeri. (*)

Ketua Ranting Muhammadiyah Talangrejo Gunungsari Kota Batu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini