Cerdas Baca Berita, Ingat Rumusan Fiqih Informasi Muhammadiyah

0
252
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Edy Kuscahyanto saat memberikan sambutan di acara Muhammadiyah’s Influencer Speak Up. (Den Peyi/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Edy Kuscahyanto turut hadir memberikan sambutan pada acara Muhammadiyah’s Influencer Speak Up yang berlangsung secara luring dan daring di Hotel Horison Gresik Kota Baru (GKB) Sabtu pagi ini (25/9/2021).

“MPI (Majelis Pustaka dan Informasi) sudah tiga kali menyelenggarakan kegiatan kerja sama dengan Kemenko PMK. Pertama di Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya Jabar, kedua di Seamolec Tangsel Banten, dan ketiga di PDM Gresik Jatim,” kata Edy mengawali sambutan.

Menurut Edy, tema Muhammadiyah’s Influencer Speak Up ini tepat dan penting mengingat saat ini kita berada di tengah arus deras informasi dengan segala dampak yang ditimbulkan. Tidak semua informasi layak dikonsumsi karena bersamanya bisa jadi informasi palsu atau sampah yang menyesatkan. Misalnya, disinformasi, hoaks, fake news, dan sejenisnya. Semua itu kini menjadi sebuah industri untuk memenangkan kepentingan politik, ekonomi, maupun pengaruh paham tertentu.

“Kita berada di zaman mulut tidak lagi bicara, diganti  jari tangan, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Quran surah Yaa Siin–surah 36 ayat 65 [QS. 36:65]: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan, ujarnya.

Edy menambahkan, sekarang ini kita masuk era post truth, yaitu era pasca kebenaran. Apa cirinya? Menurut Edy, benar menjadi tidak penting. Yang penting membangun bagaimana masyarakat percaya.

Jair Bolzonaro, presiden Brazil sekarang, saat kampanye meyakinkan bahwa Brazil akan diserang oleh Cina. Orang Brazil percaya akhirnya memilihnya sebagai presiden.

Di Houston Texas, AS, ada demonstrasi gerakan anti-Islamisasi. Di pihak penentang, ada gerakan dari kaum hak asasi manusia yang mendukung siapa pun berhak hidup dengan  agamanya. Tiap hari demo dan hampir bentrok. Setelah diteliti, demo itu digerakkan melalui media social dan dikendalikan dari Saint Petersburg, Rusia. Amerika dikendalikan oleh Rusia.

“Itulah dunia hoaks. Kita akan tersesat kalau tidak cerdas mengenalinya,” tegas chief TV MUI tersebut.

Edy lantas memaparkan ciri-ciri berita hoaks dan disinformasi, antara lain banjir informasi, fakta dan opini kabur, semua platform media dipakai untuk mengirim pesan, setiap kelompok menggalang opini, serta fakta akhirnya tenggelam oleh opini dan diabaikan.

“Mengapa itu terjadi? Karena fakta berjalan pelan, sementara produksi opini sangat gencar digerakkan buzzer dengan cepat. Opini yang disemburkan terus menerus bisa dianggap sebagai kebenaran,” urainya.

Fiqih Informasi

Nah, menurut Edy, salah satu program MPI yang dirumuskan pada Muktamar Ke-47 di Makassar antara lain merumuskan Fiqih Infomasi. Tujuannya, memberikan panduan warga persyarikatan dalam bermedia sosial agar tidak tersesat dan termakan informasi palsu.

Dia menjelaskan, inti dari Fiqih Informasi adalah agar dalam menerima informasi warga Muhammadiyah harus kritis dan menggunakan akal sehat dengan memeriksa berita dan melakukan cek fakta kebenaran sebelum menyebarkannya.

Dasarnya adalah perintah Al-Quran:

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS Al-Hujurat [49]: 6)

Kurasi algoritma, potongan-potongan kode yang berfungsi  seperti instruktur di belakang layar internet kita, mampu memeringkat preferensi dan memfilter konten secara online untuk ”kebutuhan” kita. Kurasi algoritma mesin yang mengarahkan pada kecenderengan yang kita sukai.

Kalau kita setiap hari biasa baca sepak bola di medsos, misalnya, tiap hari kita akan disajikan berita-berita tentang bola. Karena apa? “Ada mesin algoritma yang mengarahkan sesuai dengan kebiasaan dan kecenderungan orang,” jelas pria kelahiran Yogyakarta itu.

Edy menjelaskan, algoritma juga akan menggiring kita untuk bergaul dengan komunitas yang memiliki  kecenderungan sama. Ini berbahaya dalam membangun masyarakat inklusif. Masyarakat menjadi eksklusif tidak terbuka terhadap perspektif dan pandangan yang berbeda, menjadi seolah paling benar.

Ia lantas membeberkan hasil riset terbaru yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bertajuk “Media dan Tren Beragama di Indonesia”. Telah ditelusuri lebih jauh tentang tren pandangan keagamaan di meda sosial, khususnya dalam platform Twitter dan Youtube selama 10 tahun antara periode 2009-2019.

“Temuan riset adalah dominasi pandangan keagamaan konservatif menduduki urutan teratas sebagai konten yang memenuhi ruang-ruang publik media sosial kita. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa pandangan keagamaan konservatisme menguasai perbincangan di ranah maya dengan persentase (67,2%), disusul dengan moderat (22,2%), liberal (6,1%), dan Islamis (4,5%),” urainya.

“Sejak 2009-2019, penggunaan hashtag (tanda pagar, tagar) yang bersifat konservatif menjadi yang paling popular,” tegasnya.

Inilah tantangan bagi warga persyarikatan yang tengah menggerakkan  moderasi dalam beragama, membangun karakter Islam wasatiyah  sebagaimana sering disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir MSi.

Ciri Islam Tengahan

Membangun karakter Islam tengahan (washatiyah) mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin MA menyebutnya sebagai Al Sirat Al Mustaqim, yaitu pandangan keislaman tengahan. Ciri-cirinya antara lain tawassut (jalan tengah), tawazun (berkeseimbangan), tasamuh (toleransi), i’tidal (lurus dan tegak), musawah (egaliter), syura (mengedepankan musyawarah), islah (berjiwa reformasi), aulawiyah (mendahulukan prioritas), tafawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif), dan tahaddur (berkeadaban).

“Itulah sepuluh praktik amaliah Islam washatiyah dalam Taujihat Munas MUI di Surabaya 2015,” paparnya.

Di dalam al-Quran, kata ummat terulang sebanyak 51 kali dan 11 kali dalam bentuk ummam. Dan hanya satu frasa yang disandarkan pada kata wasatan, yaitu dalam al-Baqarah; 143:  Dan yang demikian ini Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian. Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Menurut Edy, frasa wasatan terdapat surat Al-Baqarah ayat ke 143, yang berada di tengah surat Al-Baqarah yang seluruhnya berjumlah 286 ayat. Ditinjau dari penempatannya sudah menunjukkan makna tengah-tengah.

“Inilah maksud workshop diselenggarakan agar kita menjadi agen kebaikan, gencar menyampaikan kebenaran di media sosial, tidak terprovokasi dengan berita-berita hoaks,” tegasnya lagi. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here