Cerita Dokter MCCC Surabaya Periksa Pasien Diduga Covid-19, Tapi Enggan Mengaku

0
6455
Foto dr.Zuhrotul Mar'ah diambil dari dokumen pribadi

KLIKMU.CO – Lonjakan kasus Covid-19 cukup signifikan akhir-akhir ini. Bahkan, ketika ada varian baru yang mulai menyebar di Jawa Timur, tentu membuat khawatir banyak pihak. Apalagi, per hari Selasa (22/6/2021) kemarin, angka pasien positif di Indonesia sudah tembus 2.000.000-an.

Tentu, ini membuat miris.
Belum lagi, penyekatan yang dilakukan di Suramadu masih banyak pertentangan dari sejumlah pihak. Tak heran jika ada beberapa dokter yang turut kebingungan apabila ada seorang warga yang datang ke tempat prakteknya hanya untuk meminta surat keterangan sehat.

Tanpa mengindahkan apakah dia benar-benar terkena Covid-19 atau tidak.
Dr Zuhrohtul Mar’ah, Koordinator Muhammadiyah Covid-19 Command Centre (MCCC) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya membagikan cerita pilu itu. Ia menceritakan bahwa pernah ada seorang pasien yang ingin meminta surat keterangan sehat untuk memasuki Kabupaten Bangkalan.

“Dengan tergopoh-gopoh, si Bapak ini bercerita bahwa pada hari Sabtu saat ke Surabaya sudah kena swab antigen di Suramadu, kemudian besok beliau harus ke Bangkalan karena sedang membangun ” wuwung”. Saya juga tidak mengerti dan tidak tanya apa itu wuwung, karena pasien yang menunggu di luar lumayan banyak,” kata Dr Zuhrohtul Mar’ah kepada Klikmu.co, Rabu (23/6/2021).

Akhirnya, dia pun mempersilahkan si Bapak ini untuk tidur di bad pemeriksaan. Alangkah terkejutnya ketika tahu bahwa pasien yang sedang diperiksanya itu diduga positif Covid-19.

“Awalnya, saya pegang lengannya dan ternyata terasa panas, spontan saya mengatakan kok panas Pak?, dia malah menjawab kalau dia tidak panas, mungkin Bu dokter tangannya yang panas,” ujarnya.
Selanjutnya, Dr Zuhrohtul Mar’ah pun mengukur tekanan darah si Bapak tersebut. Ternyata diketahui suhu tubuhnya 39,2 derajat celcius, dan itu berarti panas sekali.

“Tapi si Bapak ini tetap tidak mau jika dibilang panas. Bahkan, dia juga ngeyel memastikan bahwa dirinya tidak sakit,” imbuhnya.

Terakhir, diperiksalah saturasi oksigennya dan muncullah angka 92 persen, sehingga Dr Zuhrohtul Mar’ah fix menduga bahwa pasiennya tersebut terserang virus Covid-19. Akhirnya, saat itu fix beliau tidak menerbitkan surat sehat, apalagi setelah tahu bahwa tekanan darahnya 200/120 mmHg.

“Sudah gitu, si Bapak ini masih tetap kekeh bilang bahwa dirinya tidak sakit dan tidak mau diberikan terapi, karena niatnya dari awal ke dokter hanya untuk meminta surat keterangan sehat untuk dibuat perjalanan ke Bangkalan, tapi dia juga lupa bahwa dirinya memang sakit. Wah benar-benar kuat dan nekat si Bapak ini,” pungkasnya. (RF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here