Cermin Diri #193: Meneladani Kartini di Bulan Suci

0
194
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU.CO-

Oleh: Mushlihin*

Puasa 9 Ramadan 1442 H bertepatan dengan tanggal 21 April 2021. Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai hari Kartini. Ibu kita kartini dikenal sebagai putri Indonesia sejati, pendekar bangsa, sungguh besar cita-cita dan jasanya serta harum namanya. Pemerintah pun menganjurkan pejabat atau staf pria memakai batik nasional lengan panjang dan bersongkok, sedang wanita memakai kebaya nasional. Berbusana yang rapi, bersih dan suci serta menutup aurat sejalan dengan firman Tuhan surat Al-Mudatsir ayat 4. “Dan pakaianmu sucikanlah.”

Menurut hemat saya, masih banyak hal yang dapat kita teladani dari Kartini di bulan suci ini. Kartini merupakan santri yang gemar mengaji. Akmal Nasery Basral (2010) mengungkapkan Kartini dan juga KHA Dahlan serta KH Hasyim Asyari kerap mengikuti pengajian Kiai Sholeh Darat Semarang. Ia tertarik pada kiai yang mengupas makna surah Al-Fatihah. Ia pun mengusulkan agar Alquran diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa. Sebab mengetahui artinya jauh lebih besar manfaatnya ketimbang cuma membaca dan atau menghafalnya.

Kiai yang merupakan putra KH Umar, ulama yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro lantas menyetujuinya, meskipun beresiko dipenjara kolonial Belanda yang melarang segala bentuk penerjemahan Alquran. Maka kiai Sholeh menerjemahkan Alquran dengan menggunakan huruf pegon atau Arab gundul sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir itu dinamai Faid Ar-Rahman. Tafsitr pertama dalam Bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab itu dihadiahkan kepada Kartini saat menikah dengan Bupati Rembang Joyodiningrat. Kartini berucap, “Selama ini surat Al-Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tak mengerti sedikit pun maknanya. Tetapi sejak hari ini, Al-Fatihah menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”

Berkat terjemahan itu pula, Kartini terpikat pada surat Al-Baqarah ayat 257 yang artinya, “Allah pelindung orang-orang beriman, Allah membimbing mereka dari gelap menuju cahaya.” Alhasil Kartini mulai terbiasa menulis. Oleh sastrawan Sanusi pane, buku kumpulan surat Kartini dalam bahasa Belanda door duesternis tot licht diterjemahkan menjadi habis gelap terbitlah terang. Berkat buku tersebut seolah ia masih hidup hingga kini. Padahal ia meninggal dalam umur 25 tahun.

Jadi banyak sekali yang dapat kita tuai dari Kartini selama bulan Ramadan ini. Pertama agar kita menutup aurat dengan berpakaian yang bersih. Kedua supaya kita gemar mengikuti pengajian, kultum, dan ceramah agama. Ketiga giat mempelajari, mengajarkan, membaca, menghafalkan, memahami dan mengamalkan Alquran. Keempat rajin menulis, seiring perintah surat Al-Qolam ayat 1 “Allah bersumpah dengan pena dan bersumpah dengan apa yang ditulis manusia dengan pena.” Kelima kita jangan tuli terhadap kebenaran, bisu untuk menyampaikan kebenaran dan buta melihat kebenaran. Akhirnya semoga puasa kita mampu mencapai derajat takwa dan dibimbing dari kegelapan menuju cahaya iman.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here