Cermin Diri #196: Zakat Fitrah di Takerharjo dipusatkan di Balai Desa oleh Muhammadiyah dan NU

0
205
Foto diambil dari dokumen pribadi

KLIKMU CO-

Oleh: Mushlihin

Desa Takerharjo Solokuro Lamongan terdiri dari dua dusun. Yakni Petiyin dan Takeran. Dusun Takeran berafiliasi dengan organisasi Muhammadiyah dan NU. Masing-masing mempunyai masjid dan madrasah. Hebatnya saat zakat fitrah mereka bersatu sejak dulu. Tempat pengumpulan zakat di Balai Desa. Panitia meliputi beberapa unsur. Misalnya perangkat desa, BPD, LPM, ketua RW, RT, Karang Taruna, Dewan syuro NU dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Sehingga penyelewengan dapat diminimalisir.

Rerata jumlah muzakki atau orang yang berzakat fitrah totalnya 856 kepala keluarga. Hasil zakat fitrah tahun 1442 mencapai 2500 gantang/12500 liter/1000 kg/10 ton/125 sak.

Seluruhnya disalurkan pada fakir miskin di kediamannya. Tepatnya Warga Takeran yang memperoleh 2180 gantang/10900 liter. Selain itu diserahkan Lazis Muhammadiyah dan NU sejumlah 320 gantang. Gunanya menghidupi penghuni panti asuhan, mengentaskan kemiskinan dan mencegah kekafiran. Utamanya wilayah Kabupaten Lamongan bagian selatan seperti Bluluk, Sukorame, Modo, Sambeng, Ngimbang, Mantup dan dan sekitarnya.

Pada umumnya kepala keluarga ketika berzakat sekaligus menyerahkan sejumlah uang secara sukarela kepada panitia. Mereka juga menyerahkan beras melebihi takaran. Uang dan beras tersebut dimasukan dana sosial. Besarnya mencapai 33.304.500 rupiah. Dana sosial diperuntukkan transport panitia 21.325.000, operasional 1,000,000 dan kas 10,979,500.

Menurut ketua panitia, Abdullah, Fakir miskin masih 462 KK dari 14 RT di Takeran. Menurut sekretaris PCM Solokuro ini, Takeran tergolong tinggi angka kemiskinannya. Walaupun tidak sedikit orang yang dipandang miskin oleh panitia, tetapi justru menolak menerima zakat fitrah.

Kemudian ketua dewan syuro zakat, H Thohari, berupaya merawat umat dengan bijak. Beliau yang juga dewan syuro NU ini menceritakan bahwa pernah mengelola zakat fitrah berupa jagung. Karena bersamaan musim paceklik. Lagian jagung merupakan makanan pokok masyarakat di samping beras.

Adapun kepala desa Mat Sutikno yang bertinggal di Petiyin berharap bahwa guyup rukun rakyatnya perlu dilestarikan. Makanya beliau bersedia mengangkat sejumlah panitia dari berbagai lapisan masyarakat. Tujuannya meminimalisir penyelewengan dan terciptanya kinerja panitia yang andal.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here