Cermin Diri #198: Hadiah Lebaran

0
123
Foto penulis bersama keluarga diambil dari dokumen pribadi

KLIKMU CO-

Oleh: Mushlihin*

Saya menerima bermacam-macam hadiah pada hari raya idul fitri. Hadiah berupa uang dan barang. Saling memberikan hadiah dapat menghilangkan sifat benci dalam dada. Saya tidak meremehkan pemberian tersebut walaupun receh.

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda. Hendaknya kalian saling memberikan hadiah. Karena hadiah dapat menghilangkan sifat benci dalam dada. Dan janganlah seseorang meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya secuil kaki kambing (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Hadiah uang berasal dari pemerintah daerah kepada rohaniawan atau imam, takmir, dan pengurus pesantren serta diniyah. Hadiah uang juga saya terima dari Pimpinan Ranting Muhammadiyah Bluri. Karena saya merupakan salah satu khotib dan imam masjidnya. Saya jua memperoleh hadiah uang dari MAM 8 Takerharjo selaku guru. Selain itu saya dan 83 GTK memperoleh hadiah uang dari komunitas Muhammadiyah Takerharjo di Malaysia. Lebih dari itu saya memperoleh uang sebagai Amil Zakat dari dana sosial panitia zakat Desa Takerharjo.

Sedangkan hadiah barang berupa baju, sarung, beras, gula, kopi, susu, kecap, sambal, mie, roti, minyak, jajan, soda dan sirup saya terima dari berbagai pihak. Misalnya SMPM 5 Karanggeneng, musala Al Jariyah, PRPM, PRNA, LPM, PRM, Masjid Al Jihad Takerharjo, dan KLIKMU CO-. Dikarenakan saya termasuk guru, imam, penceramah, pengurus, dan penulis.

Bahkan ada yang menghadiahi uang dan barang. Yakni SMPN 1 Karanggeneng. Lantaran saya sebagai pendidik sejak 2008. Hadiah tersebut dinamakan THR. Tunjangan Hari Raya. Atau gaji ke-13. Semoga hadiah itu bukan termasuk korupsi. Sebab yang termasuk korupsi adalah hadiah yang diterima para pejabat. Sebagaimana hadis riwayat Ahmad.

Saya amat takut mendapat siksa yang pedih. Bilamana saya menyimpan barang dan uang serta tidak menafkahkannya di jalan Allah. Maka hadiah itu saya berikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak yatim-piatu, orang miskin, dan orang yang membutuhkan. Ibu menanya. “Darimana hadiah ini?” Saya menjawab. “Salah satunya dari Surabaya.” Ibu heran. “Memangnya kamu bekerja di Surabaya?” Saya menanggapi. “Saya menjadi kontributor karya tulis di media online Klikmu milik PDM kota Surabaya.”

Sesudah itu malahan ibu kandung memberi kami 25 kg beras dan barang lainnya berlipat ganda. Kaum kerabat mengirim angpau untuk anak kami. Peminta juga mendoakan kami agar rezekinya berlimpah. Seolah-olah kami berdagang dengan saling bertukar barang alias barter, tanpa bermaksud memberi untuk memperoleh yang lebih banyak.

Hadiah memiliki beberapa hikmah. Ibadah yang berdimensi ganda, transendental dan horizontal. Hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan sosial kemasyarakatan. Hadiah juga mensucikan diri dari kotoran dosa, kikir, serakah, bakhil, iri dan kapitalisme.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here