Cermin Diri #205: Hikmah Meninggal Karena Wabah

0
224
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU CO-

Oleh,: Mushlihin*

Perbincangan tentang wabah korona masih membahana. Baik di tempat ibadah atau sekolah, RT atau RW, oleh pejabat atau rakyat, dunia nyata atau maya, kelas kakap atau teri, dalil aqli atau naqli, riset atau pengalaman, data maupun berita.

Kami mengikuti kuliah subuh tiap Rabu di masjid Jami. Pendakwah mengutip sebuah dalil dan dikaitkan dengan wabah korona. Menurutnya korona bukan pandemi, melainkan plandemi. Karenanya luruskan dan rapatkan barisan. Selain itu masker jangan menutupi hidung, supaya dapat menyentuh tempat sujud. Adapun yang sakit silakan salat di rumah.

Tujuh hari sebelumnya kami berdiskusi tentang rencana karya wisata dan wisuda madrasah bakda isyak. Keputusannya karya wisata ditunda hingga zona aman. Bahkan berdasarkan edaran pemerintah, keduanya kudu ditiadakan. Lagian ada pesan singkat bahwa seorang wali murid masuk UGD. Kami lantas mengkonfirmasi kebenaran berita itu kepada satgas covid. Sembari kami menganjurkan murid-murid bermasker. Lantaran sebagian sudah kendor.

Bakda subuh hari Selasa 08062021 kami dihampiri seorang jamaah. Ia mengabari bahwa ibu N meninggal dunia di rumah sakit Muhammadiyah akibat terpapar korona. Ia juga meminta agar diumumkan lewat corong masjid. Sebab jenazah telah dimandikan dan dikafani oleh nakes. Bahannya dari plastik yang tidak dapat tembus air dan tidak mudah tercemar. Keluarga tidak dipungut biaya. Seluruhnya ditanggung Kemenkes. Padahal jika opname biayanya jutaan rupiah.

Saat duha kami takziah. Satgas covid tingkat desa dan kecamatan berdatangan. Diantaranya kepala desa, bidan, dokter, polisi dan TNI serta kaum muslimin. Beberapa orang secara ikhlas menggali kuburan di makam kulon. Panjangnya 2,30 cm. Lebarnya 75 cm. Kedalamannya 1,50 cm. Lokasinya berjarak 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum.

Kami dibisiki seorang pria dewasa. Ia mempengaruhi kami. Menurutnya korona tidak ada dan cuma akal-akalan saja. Bahkan menyeru kami agar mengusir satgas. Sebagaimana yang dilakukan di daerah Pantura. Kami menghargai pendapatnya.

Selepas itu seorang pemuda menghampiri kami. Ia menyalurkan aspirasi rukun tetangga dan rukun warga. Mereka khawatir tertular wabah. Sehingga mereka menghimbau pemerintah desa melakukan penyemprotan disinfektan di sekitar pasien, tempat ibadah dan madrasah. Kami menyanggupinya. Dan Pemdes merealisasikannya.

Jam 09.00 ambulance tiba. Kami membawanya ke halaman masjid. Modin memberitahu warga yang berkenaan menyalatkan jenazah melalui speaker. Kaum muslimin berbondong-bondong dan berbaris untuk salat jenazah yang masih berada di ambulance.

Itulah kali kedua masyarakat kami salat jenazah di halaman masjid. Kali pertama yaitu pas meninggalnya bapak N lima bulan silam. Sembari berdiri di atas sandal atau sepatu. Kayaknya aneh sehingga banyak yang memfotonya. Konsekuensinya mereka tidak ikut salat. Padahal pahalanya sebesar bukit alias satu qirath.

Setelah itu pentakziah melawatnya sehingga dikubur. Peti jenazah dikeluarkan dari ambulance oleh petugas. Mereka memakai topi perawat medis, masker, sarung tangan karet, sepatu boot tanpa hazmat atau baju pelindung. Relawan membantu memasukkan peti ke makam dengan tampar dan bambu. Salah satunya Pak Solihin, dengan trengginas ia memakamkannya. Kaum wanita pun ikut menyaksikan dari kejauhan. Fotografer mengabadikan peristiwa ini menggunakan kamera merek kodak. Fenomena ini tidak akan terjadi pada jenazah yang bukan korona.

Selepas itu modin memanjatkan doa. Sekaligus berterima kasih kepada pentakziah. Prosedur penanganan jenazah pasien covid aman, sehingga masyarakat tidak perlu menolak pemakamannya. Sekalian berharap kita akan mendapat dua qirath. Sepadan dua bukit yang besar.

Selanjutnya sebagian kecil pelawat kembali ke rumah duka. Mereka membawa bantuan berupa uang dan barang serta sembako. Pihak keluarga bersedia mengisolasi diri dan swab test. Uji usap nasofaring dengan mengumpulkan cairan dari bagian belakang hidung dan tenggorokan atau dahak untuk diperiksa virusnya di laboratorium. Hasilnya seluruh keluarga dinyatakan negatif.

Oleh karena itu adapula yang berargumen bahwa meninggal karena korona bukan aib. Makanya jangan panik. Bahkan ada yang berfatwa dan memberi spirit. Pasien covid yang meninggal tergolong mati syahid. Sebagaimana Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah (Tajhiz Al-Janaiz) Muslim yang Terinfeksi COVID.

Fatwa tersebut mengutip hadis Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Rasulullah Saw. bertanya (kepada sahabatnya): “Siapakah orang yang mati syahid di antara kalian?” Mereka menjawab: “Orang yang gugur di medan perang itulah syahid ya Rasulullah’’. Rasulullah Saw. bersabda: “Kalau begitu, alangkah sedikit umatku yang mati syahid”. Para sahabat bertanya: “Mereka itu siapa ya Rasul?”
Rasulullah Saw. menjawab: “Orang yang gugur di medan perang itu syahid, orang yang mati di jalan Allah (bukan karena perang) juga syahid, orang yang tertimpa tha’un (wabah) pun syahid, dan orang yang mati karena sakit perut juga syahid”. (HR Muslim).

Wallahualam bissawab. Artinya dan Allah Yang Mahatahu sesungguhnya.

*PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

Berita sebelumyaWisuda Ke-37 Umsida Dihadiri Mendikbudristek hingga Anggota DPR
Berita berikutnyaPAN-PKS Usulkan Lockdown Total
Ferry Yudi AS. Asli arek Suroboyo, gemar berpetualang dan mencari hal hal yang baru dan penuh tantangan. Pria yang suka makan sate dan gule ini selain menjadi Wapemred KLIKMU CO- juga sebagai Ketua Majelis pelayanan sosial Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Ketua Ranting Muhammadiyah Jajartunggal, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung, Direktur KLIK JODOH MU dan juga Founder sekaligus Owner dari MUST B TRAINING

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here