Cermin Diri #209: Gowes ke Wisata Sendang Banyu Biru

0
494
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU CO-

Oleh : Mushlihin*

Salat jamaah subuh saya upayakan tidak telat. Sesungguhnya salat subuh disaksikan malaikat. Pun pahalanya 27 derajat. Lagian jamaah dapat bermusyawarah mufakat. Salah satu keputusannya gowes bareng agar sehat.

Setelah deal, saya berkemas. Petinggi Takerharjo periode 2007-2019, kepala sekolah dan manajer toko bumdes menjemput saya. Kami bersiap naik sepeda yang berbeda seraya berdoa. Maha Suci Dzat yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada Rabb kami.

Kami melewati jalan raya Takerharjo Solokuro Lamongan dan Sawo Dukun Gresik. Lalu kami masuk jalan poros desa Bulangan, Bangeran dan Lowayu. Menara masjid mencakar langit. Tambak ikan terhampar. Serumpun padi tumbuh di sawah. Pohon sukun di sepanjang pematang. Kuntul atau burung bangau berbulu putih memangsa ikan dan katak. Bermacam-macam jenisnya seperti kuntul kecil, Egretta garzetta; kuntul karang; kuntul kerbau; kuntul malam dan Nycticorax nycticorax.

Aduhai mur untuk menguatkan baut rem mengendur. Benang layangan pun melilit cakram. Akibatnya kami berhenti memperbaikinya. Pria dewasa menawarkan jasa. Senyampang kami minum segelas air mineral di atas jembatan kampung. Selain itu kami meminta gadis manisi memfoto kami.

Setelah itu kami menjejak pedal. Seperempat jam kemudian kami tiba di wisata Sendang Banyu Biru. Kami difoto remaja bertato, meminum teh panas, memakan kerupuk dan kacang. Bakul berujar harganya 13.000 rupiah. Kami menyodorkan uang dan menunggu susuk. Yakni uang kelebihan pembayaran. Adapula yang menamainya sisa uang pembayaran yang masih harus dikembalikan pada pembeli; uang penyongsong; alias uang kembali. Pedagang malahan bilang, “Uangnya masih kurang. Karena cuma duaribu.” Astaghfirullah kami mengira uang dua puluh ribuan.

Kami juga takjub sekaligus tergelitik dengan beberapa pamflet. Misalnya kalimat di pintu masuk, “Sak ikhlase kangge perawatan. Kanggo banyu biruku. Banyu birumu. Banyu biru ne wong akeh. Banyu biru milik semua. Maksudnya infakkan uang suai kemampuan untuk biaya perawatan obyek wisata. Pengunjung yang tidak berinfak disindir dengan tulisan, “Kesurupan wae sek ono sadare mosok awakmu seng waras gak sadar-sadar (kesurupan saja tersadar, masa kita yang waras tidak menyadari).” KKN Untag Surabaya pun menulis di pinggir kolam. Selamat datang di wisata Sendang Banyu biru Lowayu. Cukup Bani Israil zionis wae seng ngeyel awakmu gak usah. Sebagai teguran wisatawan agar mematuhi peraturan. Bahkan ada tulisan di musala Ki Ageng Banyu Biru. Nek gak gelem buang sampahe panganen sak bungkuse. Artinya jangan makan minum di musala. Apalagi sampai mengotori kesuciannya. Kalau anda tidak mau membuang sampahnya, silakan dimakan saja.

*LPM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here