Cermin Diri #215: Puasa Hari Asyura’ dan Tasu’a

0
397
Ilustrasi diambil dari islam.ru

KLIKMU CO-

Oleh : Mushlihin*

Saya menelpon ustaz Ibrahim pas matahari tenggelam. Saya memohon agar kuliah subuh pada Rabu Legi di masjid Jami. Namun ia minta maaf. Karena ia mengalami radang tenggorokan. Malahan ia mewakilkan kepada saya. Dengan ucapan
بسم الله الرّحمن الرّحيم
saya bersedia.

Setelah jamaah isya, saya memperoleh WA. Pengirimnya ustaz Muhammad Suud dari WAG Wal Ashr. Isinya fatwa tarjih tentang puasa hari Asyura dan tasu’a. Tanggalnya 9-10 Muharram atau Sura. Bertepatan dengan 18-19 Agustus 2021. Saya merangkumnya di gawai. Sesudah bangun tidur, saya membacanya berulang-ulang.

Azan subuh berkumandang. Saya mendirikan salat sunah fajar. Saya berjalan ke masjid dengan tenang. Muazin ikamah. Ia melakukan panggilan atau seruan segera berdiri untuk salat berjemaah. Saya membaca surat Al Lahab dan Al Ikhlas. Lantaran saya mengamati 500 jamaah mempunyai beragam keperluan. Adapula manula yang encoknya kambuh. Lagian saya terkesan pengajian Gus Baha. Salat yang panjang, rentan terhadap godaan setan.

Selanjutnya saya naik mimbar. Saya berucap segala puji bagi Allah, pada hari Rabu 9 Muharram 1443 kita masih diberi nikmat yang banyak. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. Beliau bersabda: Jika Saya panjang umur sampai tahun depan, niscaya saya akan berpuasa pada hari kesembilan, yakni hari, Asyura’. [HR. Ahmad dan Muslim]. Namun beliau belum sempat puasa sudah wafat.

Jadi Nabi menyilakan puasa saban 9 Muharram. Namanya puasa tasua. Asal usulnya adalah saat Nabi mengumumkan puasa Asyura, 10 Muharram, sahabat berkata. Wahai Rasulullah, hari Asyura itu diagungkan orang Yahudi dan Nasrani. Maka Rasulullah bersabda, insyaallah tahun depan saya puasa tanggal 9 Muharram.

Bagaimana jika kadung makan? Nabi memerintahkan seseorang dari Bani Aslam agar mengumumkan kepada masyarakat bahwa barang siapa yang sudah terlanjur makan hendaklah berpuasa pada sisa hari itu, dan barang siapa yang belum makan hendaklah berpuasa, karena hari ini adalah hari ‘Asyura’. [HR al-Bukhari]. Pendek kata yang kadung makan, boleh dimulai saat mengetahui pengumuman atau puasa 10 Muharram saja. Adapun yang belum makan, lebih diutamakan berpuasa.

Mengapa kudu puasa Asyura? Karena Rasulullah SAW memerintahkan berpuasa pada hari itu sebelum diwajibkannya puasa Ramadan, dan setelah diwajibkan puasa Ramadan. Orang-orang Quraisy pada zaman Jahiliah juga melakukan puasa ‘Asyura’, Rasulullah membiasakan berpuasa hari Asyura’. Alias puasa tersebut tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi.
والله اعلم بالصواب

Sepulang dari masjid, istri menghidangkan sarapan. Saya bimbang. Meneruskan atau membatalkan puasa. Jika meneruskan, saya belum sahur dan hendak bepergian. Sebaliknya jika saya tidak berpuasa, saya merasa berdosa. Sebab saya tidak mengerjakan apa yang saya ucapkan. Maka saya tetap berpuasa. Semoga diterima.

*Sekretaris PRM Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here