Cermin Diri #237: Diskusi Sufi Bersama Mahasiswa UM Surabaya

0
513
Foto diambil dari dokumen pribadi penulis

KLIKMU CO-

Oleh : Mushlihin*

Mahasiswa UM Surabaya memohon agar saya berkenan diwawancarai tentang tasawuf atau orang-orang sufi. Saya menjawab insyaallah siap, walaupun agak berat, karena saya masih berlumur maksiat. Lalu lulusan MA Muhammadiyah Takerharjo ini bersecepat ke rumah saya. Ia membawa alat tulis untuk mencatat dan gawai untuk memfoto diskusi.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam tersebut menanya. Ada berapa tasawuf itu? Saya menjawab. Sedikitnya ada tiga. Yakni akhlaki, amali, dan falsafi.

Pertanyaan kedua, tasawuf itu sudah ada sejak zaman siapa? Berdasarkan sumber yang saya peroleh, tasawuf muncul setelah zaman Nabi Muhammad. Mereka menganggap bahwa politik dan kekuasaan merupakan wilayah yang kotor dan busuk. Mereka melakukan gerakan ‘uzlah, yaitu menarik diri dari hingar-bingar masalah duniawi. Lalu munculah gerakan tasawuf yang di pelopori oleh Hasan Al-Bashri pada abad kedua Hijriyah. Adapun tokoh-tokoh yang memengaruhi tasawuf di Indonesia di antaranya Syamsuddin As-Sumatrani, Hamzah Al-Fansuri, Nuruddin Ar-Raniri, dan Syekh Abdurrauf As-Singkili.

Pertanyaan ketiga, bagaimana cara memanajemen diri kita agar berakhlak tasawuf dalam kehidupan sehari-hari? Caranya belajar dan berlatih mensucikan batin. Selain itu biasakan berakhlak terpuji. Contohnya ikhlas, rida, sabar, dan taubat.

Pertanyaan keempat, apa hikmah dari kita berstasawuf? Hikmahnya adalah memperoleh ilmu cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin.

Pertanyaan kelima, mengapa tasawuf penting untuk kehidupan sehari-hari? Sebab tasawuf berisi ajaran atau cara untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya. Tasawuf juga dapat membersihkan hati dari sifat sombong, iri, dendam, riya, angkuh dan tamak.

Selanjutnya saya menyarankan mahasiswa yang berinisial MNW membaca buku. Misalnya tokoh sufi oleh Abdul Mujib (1988), dan membuka tirai kegaiban oleh Jalaluddin Rakhmat (1994). Saya jua menghargai semangat belajarnya sehingga melecut saya bertukar pikiran. Secara otomatis saya harus membaca berulang-ulang.

Walhasil kami kudu mampu menyesuaikan diri dengan perintah Allah, menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah dan para imam yang suci. Selain itu kami berharap dapat saling menyayangi, membantah hawa nafsu, dan memerangi setan.

*Guru MA Muhammadiyah Takerharjo Solokuro Lamongan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here