Ciri dan Keutamaan Wali Allah Menurut Wakil Ketua PWM Jatim

0
26
Dr Syamsudin MAg saat menyampaikan kajian di Masjid Al Islam. (Fikri/KLIKMU.CO)

Surabaya, KLIKMU.CO – Orang yang makan makanan yang baik akan dimudahkan Allah dalam berbuat kebaikan. Begitu pun sebaliknya. Hal itu yang ditegaskan oleh Dr Syamsudin MAg saat mengisi Pengajian Keluarga Sakinah PCM Krembangan.

Dalam agenda bulanan itu, tema yang diusung adalah Konsep Penguatan Rohani dalam Islam. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur itu menyampaikannya di Masjid Al Islam, Tambak Asri 204, Surabaya, pada Ahad (3/12).

Kajian yang dimulai pada pukul 06.30 itu diawali dengan pemaparan tiga tugas kenabian. Pertama, membaca ayat-ayat Allah. Kedua, membawa kesucian jasmani dan rohani. Ketiga, mengajarkan kitab dan kebijaksanaan.

“Bila seorang muslim memiliki tiga ciri itu, dia akan dimuliakan Allah,” ucapnya.

Syamsudin melanjutkan, ketika Rasulullah menyendiri di Gua Hira, Malaikat Jibril meminta beliau untuk membaca. Tentu ketika itu Jibril mengetahui bahwa Muhammad tidak bisa membaca. Namun, saat itu Malaikat Jibril meminta beliau untuk membaca kondisi masyarakat sekitar.

“Ada perbedaan antara istilah tilawah dan qiraah. Tilawah berarti hanya membaca teks Al-Quran saja. Sedangkan qiraah berarti membaca teks beserta makna dan konteks dalam ayat tersebut,” imbuhnya.

Tugas nabi kedua adalah membawa kesucian jasmani dan rohani. Contoh kesucian jasmani adalah sucinya badan melalui mandi, wudhu, dan sebagainya. Sedangkan rohani berkenaan dengan ketauhidan.

Jika seorang muslim ingin sukses, kata Syamsudin, setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan. Hal tersebut adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ilmu amaliah memiliki makna ilmu yang dimiliki seorang hamba hendaknya bisa dipraktikkan.

“Jika beramal, seorang muslim haruslah memiliki dasar yang kuat agar amal tersebut benar dan diterima,” tambahnya.

Selanjutnya, dijelaskan tentang konsep wali Allah. Merujuk pada surah Yunus ayat ke-62 dan 63, wali Allah adalah orang yang tidak takut dan sedih terhadap hal yang buruk, beriman, dan senantiasa bertakwa.

“Iman tidak bisa diukur. Iman bisa diukur dari perwujudan dalam bentuk perbuatan. Misal kejujurannya, shalatnya, dan sebagainya,” jelasnya.

Ada sebuah hadits qudsi berkenaan dengan cintanya Allah kepada para wali Allah. Hadits itu memiliki arti “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya’.”

Masih dalam hadits qudsi tersebut, Allah akan menjaga wali-Nya dari perbuatan buruk.

“Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”.

Selain menjaganya dari perbuatan buruk, Allah juga akan mengabulkan permintaan wali Allah.

“Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.”

Pada akhir kajian, Syamsudin mengingatkan tiga hal kepada jamaah. Pertama, tidak sombong. Kedua, beribadah sesuai tuntunan. Ketiga, menjaga pergaulan dan makanan agar terhindar dari hal-hal yang haram.

(Fikri/AS)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini