Dahulukan Adab sebelum Ilmu

0
72
Dahulukan Adab sebelum Ilmu. (Ilustrasi internet)

Oleh: Fakhruddin Lubis

KLIKMU.CO

Kita perhatikan bahwa semakin hari moral generasi bangsa semakin rusak dan bobrok. Hari demi hari kasus degradasi moral semakin menjamur, mulai kasus bullying (korban sampai meninggal) di Sukabumi, siswa SD nantangin guru di Sumatera Barat, tawuran remaja bersenjata tajam di Jakarta Timur, tiga siswa SMP jadi bandar narkoba di Purwakarta, korupsi para pejabat di berbagai daerah, sampai kasus seorang ayah yang tega menyetubuhi anak perempuannya hingga melahirkan tujuh kali dan membunuh semua bayi yang telah dilahirkan di Purwokerto. Na’udzubillah mindzalik.

Dan baru-baru ini kita jumpai seorang ibu anggota DPRD DKI sedang bermain game (baca: slot) saat rapat paripurna berlangsung. Alasannya pun sangat lucu dan sangat tidak pantas bagi seorang wakil rakyat. Katanya, “Saya main game untuk hilangin rasa bosan ketika rapat”. Tentu,  ini sangat tidak etis dan tidak pantas bagi seorang pimpinan yang harusnya memberikan keteladanan yang baik, ini malah sebaliknya.

Di sisi lain, berdasarkan data, lembaga pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut laporan Badan Statistik Indonesia, ada 399.376 unit sekolah di Indonesia pada tahun ajaran 2022/2023. Jumlah itu naik dari tahun ajaran sebelumnya 2021/2022, 394.708 unit sekolah, dan 217.283 unit sekolah tahun ajaran 2020/2021.

Namun anehnya, kenapa negara yang lembaga pendidikannya semakin bertambah, mayoritas anak bangsanya berpendidikan, justru kasus degradasi moral semakin marak. Artinya, ada yang salah dalam proses pendidikan di negara kita. Setidaknya (minimal), seringkali kita dalam proses pendidikan hanya mengedepankan dan mementingkan nilai akademik semata, cenderung abai serta mengesampingkan nilai yang harusnya ada pada diri masing-masing peserta didik (baca: attitude-akhlak), lebih mementingkan-mendahulukan ilmu (kepintaran-kepandaian) daripada adab.

Orientasi dalam Belajar

Kita tahu bahwa tujuan menuntut ilmu dalam Islam adalah menambah kedekatan seorang hamba pada Allah swt. Artinya, dengan bertambahnya ilmu itu harusnya membuat kita semakin beradab dan semakin taat pada Allah swt, bukan sekadar pintar semata, namun minim akhlak dan adab bahkan cenderung amoral-amburadul dan jauh dari pada norma-aturan ajaran agama ini.

Dipertegas lagi dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang memberikan panduan yang jelas tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional: ‚ÄúPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembang- nya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Penyebab Kehancuran Bangsa

Ilmuwan besar muslim dunia Syed Naquib Al-Attas mengatakan bahwa hancur serta rusaknya negara bangsa bukan disebabkan kurang atau sedikitnya orang-orang pintar, tapi disebabkan sedikitnya orang-orang yang beradab “loss of adab“.

Adapun yang dimaksud dengan kata “adab” di atas bukanlah bermakna sopan santun semata, namun jauh lebih daripada itu, yakni: keselarasan serta kesatuan yang tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan antara iman, ilmu & amal. Iman yang harus ditopang dengan ilmu, ilmu yang harus diiringi dengan iman, ilmu yang harus diamalkan, dan amal yang harus didasari ilmu.

Adab sebagai Fondasi

Dari fenomena di atas, tidak salah apa yang dikatakan Buya Hamka: “Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi, dan ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri.” Hal senada juga dikatakan oleh Umar bin Al-Khattab: “Taaddabuu tsumma ta’allamu – beradablah kalian, kemudian raihlah ilmu.”

Singkatnya, dalam proses pendidikan hendaknya kita dahulukan adab sebelum ilmu. Tidak hanya sekadar mementingkan nilai di atas kertas semata, namun yang jauh tidak kalah penting adalah perlu kiranya kita memerhatikan nilai di dalam diri tiap-tiap individu (baca: attitude-akhlak-adab). Sehingga, harapannya adalah dengan semakin bertambahnya ilmu seseorang, bertambah pula kemanfaatan serta kemaslahatan buat sesama, bukan justru sebaliknya. Wallahua’lam bisshowab. (*)

Fakhruddin Lubis
Ketua Divisi Dakwah Marginal & 3T LDK PDM Kota Surabaya
Majelis Tabligh PCM Tegalsari