Dakwah Kultural Muhammadiyah

0
10
Kiai Nurbani Yusuf, dosen UMM, pengasuh komunitas Padhang Makhsyar. (Foto Klikmu.co)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

Segala sesuatu yang kita bidahkan itulah kultur, yang kemudian dipadankan dengan adat, tradisi, norma, dan kebiasaan. Sebagian ada yang menyebutnya kearifan lokal yang kemudian didefinisikan dalam konsep rigid lagi kaku: sebagai segala sesuatu yang tidak ada dalil, tidak ada uswah atau Nabi saw tidak pernah melakukannya, itulah kultur.

Kultur dipahami sebagai pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat, yang mencakup cara berpikir, cara pandang, perilaku, sikap, dan nilai yang tecermin dalam bentuk fisik atau abstrak.

Kultural adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan.

Budaya adalah segala daya dari budi: cipta, rasa, dan karsa. Budaya juga dipahami sebagai pikiran, akal budi, hasil, adat istiadat, atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok.

Manusia adalah makhluk berbudaya karena manusia memiliki akal dan budi atau pikiran dan perasaan. Dengan akal dan budi manusia terus berikhtiar meraih kebahagiaan. Maka dokar dan cikar adalah budaya, pesawat terbang dan kapal selam adalah produk budaya. Gamis, bikini, sarung, dan jubah adalah budaya. Ngumpul bikin ormas adalah budaya. Sebutan gelar profesor atau kiai adalah produk budaya. Bikin rumah sakit, perguruan tinggi, dan sekolah adalah produk budaya semua tak ada uswah dan dalil dari Nabi saw.

Budaya baik untuk mensyiarkan Islam disebut sunah hasanah. Budaya buruk dan melawan syariat disebut sunah sayyiah.

Pada tahap ini lahir khilaf tentang ta’rif atau definisi.

Tapi saya tak yakin dakwah kultural di Muhammadiyah bisa berhasil. Sebab paham puritan akan melawan habis. Kenapa perlu ada dakwah kultural? Sebab ada sebagian warga Muhammadiyah yang merasakan paham struktural kian dominan, cara beragamanya kaku dan formalistik, sebab itu warganya kian susut karena tidak menarik.

Dakwah kultural diikhtiarkan untuk membangun keseimbangan agar tak ada lagi dominasi struktural atas yang kultural dan paham puritan mengooptasi paham tajdid. Sampai tahap ini saya mengerti, betapa benarnya hipotesis Sunan Kalijogo yang dipertahankan dan diuji kebenarannya di depan Kanjeng Sunan Ngampel tentang kultur atau budaya: bahwa manusia tak bisa dipisahkan dari kultur dan budayanya, lewat kultur dan budaya itulah pesan-pesan agama (Islam) disampaikan.

Realitasnya,  ada sebagian kecil warga Muhammadiyah itu anti budaya, anti-tradisi, anti-adat, dan segala sesuatu yang berbau tradisional sebagai lawan berkemajuan, bahkan menganggap Muhammadiyah dilahirkan dalam rangka membersihkan budaya dan tradisi yang dipersepsi sebagai sumber takhayul, bidah, dan kurafat yang dianggapnya tidak sehaluan dengan semangat Islam puritan.

Satu pemisalan, kumpul-kumpul adalah produk budaya. Pertanyaan berikutnya adalah ngumpul untuk apa?

Setiap orang punya selera dan kehendak masing-masing. Lantas dibuatlah kumpulan atau grup atau paguyuban atau majelis atau jamaah atau halakah sesuai kebutuhan.

Ngumpul-ngumpul baca tahlil disebut tahlilan, ngumpul-ngumpul baca surat yasin disebut yasinan, ngumpul ngaji bareng disebut pengajian, ngaji di setiap Ahad pagi disebut kajian Ahad pagi. Ngaji singkat disebut kultum. Ngaji pendhak hari Rebo disebut Reboan, ngaji pendhak sepasar disebut sepasaran, syukuran khatam Al-Qur’an disebut khataman. Mensyukuri kelahiran Nabi saw disebut maulidan. Kesemuanya tak ada uswah dan dalil, Nabi saw juga tidak pernah melakukannya.

Dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk menyampaikan pesan-pesan agama dalam kumpul-kumpul itu agar bernilai positif dan tidak menyelisihi syariat.

Sebagai closing, pada sahih Muslim disebutkan, statemen Nabi saw tentang dakwah kultural cukup mencerahkan:

“Barangsiapa yang membuat sunah hasanah (kebiasaan baik) dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya barangsiapa yang membuat sunah sayyiah (kebiasaan buruk) dalam Islam, maka dia akan memperoleh dosa dan dosa orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini