Di Hadapan Negara Posisi Muhammadiyah Harus Jadi Muzaki, Bukan Mustahik

0
1653
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi. (Foto diambil dari FB pribadi)

KLIKMU.CO – Posisi Muhammadiyah dan ormas Islam lain di hadapan negara harus menjadi muzaki, bukan mustahik. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam penandatanganan program kerja sama kemitraan jangka panjang antara Lazismu dengan Baznas, Senin (20/9/2021).

Maksudnya, posisi ideal ormas dalam sebuah masyarakat madani (civil society) adalah meringankan tugas pemerintah, bukan malah menjadi beban negara.

“Di sinilah posisi kami berada. Muhammadiyah tentu dengan ormas yang lain seperti Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Dewan Dakwah, dan semuanya bisa kita sebut itu harus bisa menjadi kekuatan madaniyah yang seperti kita ini menjadi amil. Dan sebagai amil ke depan ormas-ormas itu harus menjadi muzaki,” tutur Haedar di laman resmi Muhammadiyah.

“Ke depan, Indonesia yang mayoritas muslimnya itu, ormas-ormas harus menjadi kekuatan madaniyah yang tidak tergantung pada anggaran negara. Misalkan tergantung pada kebijakan publik yang itu mungkin sifatnya karikatif insidental atau mungkin pada hal-hal lain yang tidak menggambarkan kita ini sebagai masyarakat madaniyah,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan bahwa negara pada posisi ini harus hadir secara imperatif dengan mengoptimalkan hasil pajak untuk memecahkan kemiskinan dan mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

“Kalau negara, ini kita dorong ke situ dan tidak direcoki oleh ormas dan kekuatan-kekuatan masyarakat yang tergantung pada kekuatan negara. Tetapi kita berpartner, bermitra dengan negara, apalagi seperti Muhammadiyah dengan ormas lain yang ikut mendirikan republik ini. Maka negara pun menjadi lebih ringan tugasnya untuk menjalankan konstitusi,” tuturnya.

Bagi Muhammadiyah, etos muzaki ini menurut Haedar telah menjadi filosofi bergerak. Kemandirian adalah aspek penting ormas Islam dalam posisinya sebagai unsur civil society.

“Pepatah Arab mengatakan faqidu syai’ laa yu’thi. Orang yang tidak punya apa-apa tidak mungkin bisa memberi apa-apa. Biarpun suara kita berkoar-koar di dunia internasional mau mengekspor Islam Indonesia misalkan, Islam Berkemajuan dan macam-macam. Tapi kalau diri kita tidak maju, tidak menjadi sumber rahmah, ya itu hanya slogan dan retorika,” pesannya.

“Atau, kita mengatakan Indonesia ini Islamnya terbaik di muka bumi. Tapi kalau kita belum bisa mengangkat kemiskinan, mengentaskan kemiskinan menjadi kesejahteraan, lalu kekuatan-kekuatan ormas itu juga belum menjadi kekuatan masyarakat madaniyah yang mandiri dan lain sebagainya dan tidak tergantung pada APBN negara atau kemurahan-kemurahan politik-politik kenegaraan yang sifatnya praktis, ya kita akan tetap belum bisa menjadi bangsa yang maju,” lanjut Haedar.

Lewat kerja sama yang dilakukan antara Lazismu bersama Baznas, Haedar percaya para pimpinan Baznas memiliki tekad kuat untuk menghadirkan peran imperatif negara sehingga semua ormas Islam pada akhirnya berposisi produktif dan maju.

“Kami percaya kerjasama ini dan pada anggota pimpinan yang lain dari Baznas akan mengkapitalisasi dua posisi itu, yaitu bagaimana Baznas semakin kuat, negara makin berperan secara konstutitusional dan imperatif, ormas-ormas menjadi semakin kuat dan mandiri dan ujungnya. Muaranya adalah memajukan, mensejahterakan, menciptakan keadilan dan memakmurkan seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here