Di Sela Muktamar, IMM Launching 10 Buku Karya Kader

0
250
Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPP IMM Periode 2018-2020, Ahmad Soleh (kiri) turut meluncurkan buku IMM Autentik di sela Muktamar. (Istimewa/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Muktamar Ke-19 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) digelar di Kendari, Kamis-Sabtu (21-23/10/2021). Di sela-sela muktamar, DPP IMM me-launching sekitar 10 buku karya kader IMM.

Buku tersebut adalah IMM Autentik, Sikap Intelektual IMM, Meretas Batas Pemikiran, Sukma Intelektualisme, Narasi Humanitas, Manifesto Cendekiawan Berpribadi, Manhaj Gerakan IMM, Pancasila Kompas Bangsa, Mempersatukan Indonesia, dan Merajut Asa Bangsa.

Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPP IMM Periode 2018-2020, Ahmad Soleh, mengatakan bahwa gerakan intelektual dengan melahirkan gagasan-gagasan menjadi mutlak didukung oleh DPP IMM. Sebab, menurut dia, gerakan intelektual akan kering tanpa gagasan dan wacana kritis.

“Buku-buku yang sebenarnya sudah beredar dan sebagian sudah di-launching ini menjadi bukti bahwa gerakan intelektual IMM masih hidup. Idealisme dan kajian-kajian kritis menjadi akar gerakan. Karena itu kita harus mengapresiasi karya kader ini,” ujarnya, Jumat (22/10/2021). Dia juga menegaskan, launching ini hanya simbolisasi sebagai upaya mengapresiasi karya kader yang tentu diharapkan di akar rumput girah menulis dan mengkajinya bisa lebih tinggi.

Selain itu, penulis buku IMM Autentik ini juga berharap, pengurus baru DPP IMM nanti tetap memberikan dukungan terhadap gerakan literasi. “Dukungan itu sangat penting, merawat pikiran, merawat peradaban. Kader-kader yang punya karya harus didukung penuh,” ujarnya.

Dukungan tersebut tentu saja dalam bentuk moril maupun materiil. “Kader butuh dukungan berupa akses. DPP IMM dan juga pimpinan IMM di tiap level perlu memberikan dukungan tersebut agar gerakan literasi dan tradisi intelektual IMM itu tetap terjaga,” ungkapnya.

Menurut Soleh, ke depan harus lebih banyak narasi dan wacana kritis yang bisa diterbitkan. Ini merupakan jalan dan ikhtiar kita memupuk dan merawat idealisme dalam tubuh IMM.

“Jangan sempit memaknai literasi. Menulis itu hanya ikhtiar menuang dan memviralkan gagasan. Selebihnya kita berharap itu jadi kesadaran kolektif yang menggugah dan menggerakkan,” kata penulis yang juga menulis karya-karya puisi itu. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here