Dosa Jariyah Produsen dan Penyebar Hoaks

0
110
Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang. (Dok Pribadi)

Oleh: Dr Nurbani Yusuf MSi

KLIKMU.CO

Allah berfirman:
“Hai orang-orang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.”

Ayat ini, menurut banyak ulama, turun menyangkut kasus al-Walid Ibn Uqbah Ibn Abi Mu’ith yang ditugaskan Nabi saw., pergi menuju ke Bani al-Musthalaq untuk memungut zakat.

Ketika anggota masyarakat yang dituju mendengar kedatangan utusan Nabi, mereka keluar dari perkampungan untuk menyambutnya sambil membawa sedekah mereka. Tetapi al-Walid malah menduga bahwa mereka akan menyerangnya.

Karena itu, ia kembali dan melapor kepada Rasul bahwa Bani al-Mustalaq enggan membayar zakat dan bermaksud menyerang Nabi saw, dalam riwayat lain dinyatakan bahwa mereka telah murtad). Rasul marah dan memerintahkan Khalid Ibn Walid menyelidiki keadaan sebenarnya sambil berpesan agar tidak menyerang mereka sebelum duduk persoalan menjadi jelas.

Adalah dosa jariyah yang terus mengalir bagi produsen dan penyebar hoaks. Mungkin ada yang salah susun di otaknya, merendahkan dan mencela sesama muslim menjadi kebutuhan, ia suka sekali dengan berita bohong dusta kemudian menyebarkan tanpa pikir panjang.

Ada kebutuhan terhadap berita berita buruk seperti ketagihan dan lupa pada akibat bisa menjadi dosa yang terus mengalir mengikis semua kebaikan.

Saya miris dan prihatin ketika aib sesama muslim dibuka dan dipertontonkan di depan publik dan dengan ringan dan komen tanpa ada beban dosa jariyah. Seperti bersorak dan bergembira melihat aib sesama muslim
dibuka. Sungguh tercela!

Rasulullah saw mengancam para pencela: “Siapa yang menjelek-jelekkan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505)

Imam Ahmad bin Hanbal menunggu semua santri tertidur untuk bernasehat karena kawatir menjadi aib yang dibuka—nahi mungkar tidak harus dimaknai dengan cara merendahkan martabat dan harga diri seseorang. Apalagi dengan sesama muslim: haram darahnya, haram hartanya dan tidak merendahkan.

‘Aku maafkan salahmu asal kau bisa ambil kembali tepung-tepung yang ditiup angin—kata Syaikh Nashrudin kepada orang yang telah menyebar berita tidak benar tentang dirinya. Sungguh berat dan tak mungkin. Betapa besar dan ngeri akibat berita dusta ini, bukankah Sayidina Ustman bin Affan terbunuh karena berita issu cincin stempel?

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku dan keburukan air maniku.” (HR Abu Dawud no.1551, at-Tirmidzi n 3492). (*)

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here