Edaran Kemenag Terkait Shalat Idul Adha dan Kurban

0
331
Menag Yaqut Cholil Qoumas. (Dok Kemenag)

KLIKMU.CO – Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan edaran tentang penerapan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Shalat Idul Adha 1442 H/2021 M dan pelaksanaan kurban di masa pandemi Covid-19.

Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Menteri Agama SE No 15 Tahun 2021.  “Untuk memberikan rasa aman kepada umat Islam di tengah pandemi Covid-19 yang belum terkendali dan munculnya varian baru, perlu dilakukan penerapan protokol kesehatan secara ketat dalam penyelenggaraan shalat Idul Adha dan pelaksanaan kurban 1442 H,” terang Menag Yaqut Cholil Qoumas di Jakarta, Rabu (23/6/2021).

Menurut Menag, edaran ini dimaksudkan sebagai panduan dalam upaya pencegahan, pengendalian, dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 pada semua zona risiko penyebaran Covid- 19. “Ini diterapkan dalam rangka melindungi masyarakat,” jelasnya.

Dalam edaran SE No 15 tahun 2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan dalam Penyelenggaraan Shalat Hari Raya Idul Adha dan Pelaksanaan Qurban Tahun 1442 H/2021 M itu, ada tujuh poin yang disampaikan Kemenag.

Pertama, malam takbiran menyambut Hari Raya Idul Adha dapat dilaksanakan di semua masjid/musala. Namun ada sejumlah ketentuan. Di antaranya, dilaksanakan secara terbatas. Paling banyak 10% dari kapasitas masjid/musala. Lalu, memperhatikan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Kemenag juga melarang kegiatan takbir keliling untuk mengantisipasi keramaian
atau kerumunan. Sebagai gantinya, takbiran dapat disiarkan secara virtual dari masjid/musala sesuai ketersediaan perangkat telekomunikasi di masjid/musala.

Poin kedua, shalat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1442 H/2021 M di lapangan terbuka atau di masjid/musala pada daerah zona merah dan oranye ditiadakan. “Ketiga, shalat Idul Adha dapat diadakan di lapangan terbuka atau di masjid/musala hanya di daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19 atau di luar zona merah dan oranye, berdasarkan penetapan pemerintah daerah dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 setempat,” terang Menag.

Keempat, shalat Hari Raya Idul Adha yang dilaksanakan di lapangan
terbuka atau di masjid wajib menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat. Antara lain, khutbah Idul Adha secara singkat dan paling lama 15 menit.

Lalu, jamaah yang hadir paling banyak 50% dari kapasitas tempat agar memungkinkan untuk menjaga jarak antarshaf dan antarjamaah. Panitia diwajibkan menggunakan alat pengecek suhu tubuh dalam rangka memastikan kondisi sehat jamaah yang hadir.

Poin kelima, Kemenag juga mengatur pelaksanaan kurban. Misalnya, penyembelihan hewan kurban berlangsung dalam waktu tiga hari,
tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah untuk menghindari kerumunan warga di lokasi pelaksanaan kurban.

Lalu, penyembelihan, pengulitan, pencacahan daging, dan pendistribusian daging kurban kepada warga masyarakat yang berhak menerima wajib memperhatikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti penggunaan alat tidak boleh secara bergantian. Pemotongan hewan kurban hanya boleh dilakukan oleh panitia pemotongan hewan kurban dan disaksikan oleh orang yang berkurban. Pendistribusian dilakukan langsung oleh panitia kepada warga di ternpat tinggal masing-masing.

Poin keenam, Kemenag juga mengimbau kepada panitia  untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Satuan Tugas Penanganan Covid-19, dan unsur keamanan setempat untuk mengetahui informasi status zonasi dan menyiapkan tenaga pengawas agar standar protokol kesehatan Covid-19 dijalankan dengan baik, aman, dan terkendali.

“Ketujuh, jika terjadi perkembangan ekstrem Covid-19, seperti terdapat
peningkatan yang signifikan angka positif Covid-19, adanya mutasi varian baru Covid-19 di suatu daerah, surat edaran ini disesuaikan dengan kondisi setempat,” paparnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here