Empat Pilar Refleksi Hijrah Rasulullah

0
42
Andi Hariyadi, Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya. (Pribadi/KLIKMU.CO)

Oleh: Andi Hariyadi, Ketua Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi PDM Surabaya

KLIKMU.CO

Tanggal 1 Muharam 1446 Hijriyah sebagai awal tahun baru Islam tanpa ada ingar bingar ataupun letusan petasan serta tarian kembang api menghiasi malam dengan konvoi kendaraan dan pesta penyambutan pergantian tahun seperti tahun baru Masehi.

Ada prinsip-prinsip dasar yang dipahami umat Islam atas momen hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW sebagai penanda awal kalender Islam sehingga dalam penyambutan tahun baru Islam justru digunakan untuk evaluasi dan refleksi.

Melakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana peran yang dilakukan selama setahun yang lalu. Apakah ada nilai lebih, stagnan, atau berkurang dalam mengimplementasikan keimanan dan ketaqwaan. Dengan evaluasi kita juga bisa mengukur kelebihan dan kekurangannya dan refleksi merupakan mengimplementasikan secara maksimal capaian capaian positif hasil evaluasi, sehingga ada kontinuitas, berkelanjutan, dan pengembangannya meraih kemenangan.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah At Taubah 20: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ayat ini begitu inspiratif untuk menggapai kemenangan di mana antara iman dan hijrah menjadi pijakan, di mana iman sebagai bentuk keyakinan dan kesadaran spiritual, yang selanjutnya diintegrasikan dengan hijrah sebagai bentuk ikhtiar yang istiqamah.

Hijrah Menurut Buya Hamka

Buya Hamka menjelaskan pengertian hijrah menyangkut tigal hal, yaitu: perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan perbuatan syirik menuju tauhid, dan meninggalkan perbuatan kasar menuju kelembutan yakni budi pekerti.

Jadi, hijrah menjadi media menuju kebaikan bukan kejelekan, menuju kemuliaan bukan kehinaan, meraih kemenangan bukan kekalahan.

Dilanjutkan firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-A’raaf 56: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan penuh harap, sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” Komitmen bersikap terbaik bukan perusakan, itulah misi kehidupan kita.

Hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Kota Makkah ke Kota Madinah sesungguhnya cermin dari spiritual yang tercerahkan untuk penguatan sosial dengan dengan segala aspeknya.

Empat Pilar

Ada empat pilar refleksi Hijrah Rasulullah Muhammad SAW yang bisa ambil hikmahnya.

Pertama, perjuangan. Usaha dakwah Rasulullah di Makkah saat itu mendapat perlawanan yang berat dari rezim yang berkuasa, berbagai bentuk teror, siksaan, dan pembunuhan. Perjuangan Rasulullah di tengah impitan hegemoni penguasa tidak menyurutkan api perjuangan, dan komitmen berjuang inilah yang harus ditanamkan dan dikuatkan di tengah badai perusakan dengan tetap tegar.

Kedua, perubahan. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk suksesnya dakwah sehingga harus ada solusi yang terintegrasi. Karena itu, perubahan tersebut begitu berarti. Maka Rasulullah melakukan perpindahan dari Makkah ke Madinah sebagai bagian dari upaya perubahan. Maka hal ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan yang lebih baik itu butuh strategi, metode, komitmen, kesadaran, dan akses jaringan serta kekuatan.

Perubahan tidak akan terwujudkan jika berkutat pada hal-hal yang tidak substantif dan strategis, bahkan disibukkan dengan kungkungan kedengkian dan permusuhan. Perubahan menuju yang terbaik tidak semudah membalikkan tangan, apalagi terjebak pada jargon, tetapi terus berproses dan ada progres. Dinamisasi inilah menjadikan konteks hijrah dengan perubahan memunculkan nilai lebih, keteladanan dan keunggulan.

Ketiga, persaudaraan. Dari keadaan belum saling mengenal akhirnya dipersaudarakan. Proses menjadi persaudaraan mampu menghilangkan kecurigaan dan permusuhan untuk dibangun kesadaran ukhuwah sehingga mampu ta’awun (saling membantu) atas hal-hal yang menjadi permasalahan.

Maka ketika Rasulullah SAW sudah sampai di Madinah menjalin persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Dan inilah yang membuka kesadaran kita untuk aktif berinteraksi dan membangun relasi secara konstruktif untuk saling menguatkan.

Keempat, kemenangan. Proses penguatan spiritual dan istiqamah ikhtiar tidaklah sia-sia. Justru dinamisasi ini akan meraih kemenangan.

Hal ini benar-benar membuka mata hati kita dan wawasan kita, bahwa berhijrahnya kita tidak sebatas pada aspek ritual spiritual, tetapi juga menguatkan aspek sosial dengan keragamannya. Berhijrah tidak menjadikannya eksklusif sibuk dengan urusan ritual, tetapi mampu mencerahkan dimensi sosial, ada keteladanan, pemberdayaan, dan kemanusiaan.

Selamat Tahun Baru Islam 1446 Hijriyah. Mari kita isi kehidupan dengan beragam amal saleh sebagai wujud berhijrah yang mencerahkan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini