Halalbihalal Sudah Jadi Budaya Muhammadiyah sejak 1924 lewat Dokumen Suara Muhammadiyah

0
160
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd saat menghadiri acara Halalbihalal dan Launching Unit Bisnis Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada Selasa (10/5). (Muhammadiyah.or.id)

KLIKMU.CO –  “Acara halalbihalal atau silaturahmi pasca Hari Raya Idul Fitri merupakan peristiwa kultural yang memiliki akar kuat bagi masyarakat muslim Indonesia. Halalbihalal juga sebagai budaya agama yang berakar kuat sejak lama di Muhammadiyah, setidaknya tercatat sudah ada sejak 1924.”

Demikian disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd saat menghadiri acara Halalbihalal dan Launching Unit Bisnis Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang digelar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada Selasa (10/5).

“Halalbihalal itu hanya ada dan kita temukan perayaannya di Indonesia. Dan ternyata saya membaca publikasi di Suara Muhammadiyah, tahun 1924 itu Muhammadiyah sudah menyelenggarakan acara yang disebutnya di situ Alal bi Alal,” imbuhnya.

Mu’ti menjelaskan, akar budaya halalbihalal sudah didokumentasikan dengan jelas di Suara Muhammadiyah (SM) tahun 1924 dengan istilah alal bi alal. Lalu pada 1926 ada iklan di SM yang sudah menyebutnya sebagai halalbihalal.

“Iklan di Suara Muhammadiyah itu dimaksudkan untuk mereka yang tidak sempat silaturahmi langsung dari rumah ke rumah itu bisa bersilaturahmi, berhalal bihalal melalui Suara Muhammadiyah,” terangnya.

Bukti sejarah berupa publikasi di SM tersebut, lanjut Mu’ti, adalah artefak otentik sejarah halalbihalal di Indonesia. Menurutnya, jika masih ada yang menyebut budaya-tradisi halalbihalal di Indonesia dimulai tahun 1948, orang itu perlu melakukan historical analysis yang mendalam.

Sebab, bukti otentik di SM itu berbentuk fisik, bukan keterangan oral saja. Guru Besar Pendidikan Islam ini menjelaskan, halalbihalal sebagai implementasi dan aktualisasi kreatif dari ajaran agama Islam karena ulama pada waktu itu mampu mengaktualisasikan ajaran agama Islam menjadi budaya, dan budaya tersebut diterima semua kalangan dengan berbagai latar belakang.

“Kalau kita ikuti berbagai analisis sejarah dan kebudayaan, kita melihat bahwa halalbihalal adalah salah satu bukti bertapa Islam adalah agama yang membentuk budaya dan membentuk khazanah, keadaban dan peradaban bangsa Indonesia”. Tuturnya.

Selanjutnya, Abdul Mu’ti juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang berhasil mengekspor tanaman hias ke Amerika Serikat. Hal ini disebut sebagai bukti bahwa universitas Muhammadiyah menjadi bagian pengembangan ekonomi masyarakat.

Mu’ti menyebut, keberadaan universitas Muhammadiyah termasuk Umsida di dalamnya sebagai bagian tidak terpisahkan dalam pengembangan ekonomi, penelitian atau riset dan pengembangan ilmu bagi masyarakat luas.

“Dengan ini Umsida sudah melakukan internasionalisasi ekspor keladi,” ungkapnya. (AS, diolah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here