HW Jadi Jembatan Nilai-Nilai Luhur Pancasila 

0
180
H. Ahmad Kanedi, SH MH menyampaikan paparan dalam dialog kebangsaan yang diselenggarakan Hizbul Wathan. (Ernam/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah sudah menjadi sistem nilai yang tak terpisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi warga Muhammadiyah.

Itulah salah satu poin penting dalam dialog kebangsaan pra-tanwir Hizbul Wathan (HW) yang disampaikan oleh Ramanda Endro Widyarsono Ahad (21/2/2021). Acara tersebut digelar lewat Zoom Meeting dan juga disiarkan melalui kanal  YouTube Kwartir Pusat Hizbul Wathan.

Endro menjelaskan, penguatan nilai Pancasila harus dilakukan secara simultan di HW. Mulai keluarga, sekolah, hingga masyarakat. “Semua harus saling bekerja sama menerapkan nilai-nilai Pancasila. tidak terpisah-pisah,” tegasnya.

Menurut Endro, nilai-nilai luhur Pancasila digali dari budaya adiluhung masyarakat Indonesia. Karena itu, hal ini harus menjadi titik tolak dalam pendidikan kepanduan Hizbul Wathan sehingga terpatri dalam diri peserta didik. Melalui metode kreatif dengan bermain, bercerita, bernyanyi, dan bertualang, peserta didik pandu HW akan bisa meresapi nilai-nilai Pancasila tanpa merasa dididik.

“Pendidikan dikatakan sukses jika peserta didik tidak merasa dididik, namun nilai-nilai yang diharapkan bisa melekat pada peserta didik,” papar Ramanda Endro.

Saat kondisi pandemi saat ini, banyak guru yang khawatir tidak bisa mentransfer pengetahuan. Padahal,  seharusnya lebih khawatir jika tidak bisa melakukan transfer nilai. “Kita harus keluar dari tekanan budaya global melalui penguatan budaya adiluhung yang terkandung dalam Pancasila,” ungkapnya.

Kontributor Klikmu.co Moh. Ernam (kanan atas) saat diskusi HW. (Ernam/Klikmu.co)

Harapan bagi Generasi Muda

Dialog bertema menguatkan nilai-nilai Pancasila bagi generasi bangsa ini juga menghadirkan H. Ahmad Kanedi SH MH, anggota DPD dapil Bengkulu. Dalam pandangan Ahmad Kanedi, Muhammadiyah sudah menerima Pancasila sebagai bagian yang utuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam perjalanan kekinian, ternyata nilai-nilai Pancasila mulai tergerus dan dianggap bukan menjadi nilai yang dibanggakan.

“Kondisi media yang bebas menyebabkan semua orang, termasuk para tokoh, menjadi narasumber dan memberikan ungkapan lepas yang tidak sesuai dengan tujuan Pancasila, bahkan ada yang menghujat,” tegas mantan wali kota Bengkulu itu (2007-2012).

Muhammadiyah dan tokoh-tokohnya sudah berusaha keras menyusun Pancasila pada awal kemerdekaan. Kini Muhammadiyah masih dituntut memberikan pendidikan agar kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi kondusif.

“Mengembalikan dalam frame kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai cita-cita pendiri bangsa,” lanjut ketua Kwarwil HW Bengkulu tersebut.

Partai-partai politik, lanjut dia, tidak membangun nilai-nilai kebangsaan sehingga demokrasi sudah sangat bebas nilai. Nilai-nilai yang dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat mulai luntur dan kehilangan harapan. “Generasi muda, khususnya HW, harus bisa menjadi jembatan untuk menghubungkan masyarakat agar berkemajuan serta menyelamatkan nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tandas pria yang akrab dipanggil Bang Ken ini. (Ernam/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here