Ibrah Kehidupan #184: Shalahuddin al-Ayyubi, Terlahir dari Keluarga yang rReligious, amenjadi Pendekar yang Genius (-2)

0
190
Foto diambil dari Muslim Obsession

KLIKMU CO-   Nama lengkapnya adalah Shalahuddin, bin Najmuddin, al-Ayyubi, al-Tikritiy. Lebih popular dengan panggilan Shalahuddin al-Ayyubi. Dari keluarga Najmuddin Ayyub yang kehidupan sehari-harinya sangat religious.

Shalahuddin, lahir pada tahun 532 H/1137 M, di sebuah daerah bernama Tikrit, dari keluarga yang berasal dari etnis Kurdi. Beberapa santri Najmuddin mendo’akan agar kelak anak ini akan menjadi seorang raja yang agung, memiliki marwah serta kedudukan yang tinggi. Kelak, umat Islam mengenal sang anak sebagai panglima pembebas Baitul Maqdis: Shalahuddin Al Ayubi.

Damaskus dan Aleppo (dua kota) menjadi langkah awal Shalahuddin al-Ayyubi untuk menguasai ilmu agama. Tak hanya ilmu agama, kemahiran bertarung, berburu, memanah dan segala bentuk latihan laiknya seorang pahlawan ia peroleh dari sini.

Dan dari Nuruddin Mahmud Zanki-lah, sang guru yang sekaligus sultan Aleppo nan shalih, ia banyak belajar serta menghidupkan visi hebatnya untuk membebaskan serta mengembalikan Baitul Maqdis al Mubarak ke pangkuan kaum Muslimin. Dua kota pusat ilmu yang sempat menyemai kecerdasan Shalahuddin al-Ayyubi, yakni Damaskus dan Aleppo.

Tak diragukan ketaqwaan menjadi hal yang utama untuk membentuk pribadi-pribadi hebat. Taqwa adalah perisai sekaligus tameng untuk setiap keadaan. Kesemua itu tampak pada kesungguhan Shalahuddin al-Ayyubi untuk menanamkan aqidah yang kuat di dalam dirinya. Tak hanya bagi dia, juga bagi anak-anak keturunannya.

Shalahuddin al Ayyubi senantiasa melazimkan shalat berjamaah, shalat rawatib maupun shalat malam meskipun ia dalam keadaan berbaring karena sakit. Seorang pemimpin yang hebat dan pribadi nan agung akan selalu patuh menghadap sang Rabb dalam setiap shalatnya.
Dari sanalah Shalahuddin al-Ayyubi mendapatkan ketenangan serta mengadukan setiap masalah dan keluhan yang ia hadapi kepada Allah azza wa jalla. Seseorang yang mengagungkan Rabb-nya, niscaya menjadi pribadi yang hebat dan agung.

Shalahuddin al-Ayyubi termasuk murid Nuruddin Zanki ini, juga dikenal sebagai pribadi yang suka mendengar bacaan Al-Qur’an hingga ia sendiri yang suka memilih para imam-imam dalam pelaksanaan shalat. Shalahuddin al-Ayyubi juga merupakan sosok yang teramat lembut hatinya sehingga selalu menetes air matanya saat mendengar dibacakannya ayat-ayat Al Quran.

Suatu ketika, ia mendengar suara anak kecil yang melantunkan Al Quran dengan bagus. Hal tersebut membuatnya kagum dan memberikan hadiah pada sang anak makanan khusus yang biasa ia makan. Tak hanya itu, ia juga menghadiahkan satu lahan pertanian untuk ayah sang anak.
Sebagaimana kegemarannya mendengarkan bacaan Al-Qur’an, Shalahuddin al-Ayyubi juga sangat senang mendengar Hadist-hadist Rasulullah saw, rasul yang ia cintainya. Jika ia dengar ada seorang syaikh yang memiliki riwayat suatu hadist, ia akan datang padanya atau meminta didatangkan kepadanya.
Shalahuddin al-Ayyubi akan mengajak para penguasa beserta orang-orang di sekitarnya untuk ikut mendengarkan syaikh membaca hadits bersama-sama dengannya. Ia juga memerintahkan kepada rakyatnya untuk mendengarkan hadist Rasulullah saw.
Sifat Taqwa dalam diri Shalahuddin al-Ayyubi, Membentuknya menjadi pribadi yang kokoh, genius, menghidupkan jihad dalam dirinya sebelum ia mengendarai kudanya, memegang pedang serta berlari menuju medan pertempuran.

IBRAH DARI KISAH INI :

Shalahuddin al-Ayyubi, anak yang lahir dari keluarga religious Najmuddin Ayyub, sejak kecil sudah diiringkan do’a agar kelak menjadi seorang raja yang agung. Terbukti di kemudian hari Shalahuddin al-Ayyubi menjadi panglima perang, tokoh dan pimpinan panutan umat Islam waktu itu, serta dihormati kawan maupun lawan.
Shalahuddin al-Ayyubi, menjadi orang besar, bukan secara sim-salabim. Tetapi melalui proses “perkaderan” yang amat ketat, bukan hanya melalui keluarganya sendiri tetapi juga melalui para masyayikh, dan ilmuan terkenal. Dua kota pusat ilmu telah dimasukinya dan membesarkannya, yakni Damaskus dan Aleppo.
Dari kawah condrodimuko keluarga yang religious, ditambah “nyecep ilmu” di dua kota Damaskus dan Aleppo tersebut, jadilah ia sosok Pendekar yang genious. Menjadi panglima perang yang berwibawa, menjadi pemimpin yang cukup disegani.
Wahai aktifis dakwah islam berkemajuan, ketahuilah bahwa berjuang dan berdakwah amar makruf nahi munkar, hanya bisa dilakukan oleh para pelaku pejuang yang telah dibina melalui proses perkaderan yang matang dan militant. Munculnya kader harapan bangsa tidak “ujug-ujug” jadi. Tetapi harus melalui tahapan-tahapan yang terencana. Shalahuddin al-Ayyubi adalah contoh kader berkualitas.

Berita sebelumyaSurat Pemimpin Hamas untuk Jokowi
Berita berikutnyaMaklumat Muhammadiyah tentang Shalat Gerhana Bulan dan Tata Caranya
Ferry Yudi AS. Asli arek Suroboyo, gemar berpetualang dan mencari hal hal yang baru dan penuh tantangan. Pria yang suka makan sate dan gule ini selain menjadi Wapemred KLIKMU CO- juga sebagai Ketua Majelis pelayanan sosial Muhammadiyah Surabaya, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur, Ketua Ranting Muhammadiyah Jajartunggal, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung, Direktur KLIK JODOH MU dan juga Founder sekaligus Owner dari MUST B TRAINING

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here