Ibrah Kehidupan #186 : Salahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan Islam Pertama Pembebas Al-Aqsha, Tokoh Inspiratif dalam Sejarah Perjuangan Islam (Habis)

0
95
Bentrok polisi Israel dan warga Palestina kembali pecah di kompleks Masjid Al-Aqsa. (Reuters)

KLIKMU CO- Salahuddin al-Ayyubi, dikenal sebagai simbul kepahlawanan dan kebijaksanaan dalam sejarah perjuangan umat Islam. sosok pemimpin sangat kharismatik yang disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Salah satu nilai kepahlawanannya adalah keberaniannya melawan musuh dan tidak pernah kendur sedikitpun. Beliau seorang kesatria yang benar-benar bernyali. Salah satu nilai kebijaksanaannya adalah begitu pentingnya menghargai jiwa dan martabat manusia, sehingga salah satu wasiat menjelang akhir hidupnya yang disampaikan kepada putranya Az-Zahir : “Jangan tumpahkan darah, sebab darah yang tepercik tak akan tertidur.”

Itulah kalimat terakhir yang disampaikan Salahuddin al-Ayyubi kepada putranya, az-Zahir, sesaat menjelang kematiannya. Wasiat tersebut sejalan dengan pendirian dan tindakan Salahuddin al-Ayyubi selama hidup.

Ketika pasukan salib berhasil dikalahkan, yang dilakukan Salahuddin al-Ayyubi bukanlah menjadikan orang-orang Nasrani sebagai budak. Ia malah membebaskan sebagian besar orang-orang Nasrani yang ditawan tanpa dendam. Padahal pada tahun 1099, ketika pasukan salib dari Eropa merebut Yerusalem, 70 ribu orang muslim di kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

Diantara sekian banyak tokoh muslim terkemuka, Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193) yang di barat dikenal dengan nama “SALADIN” , memiliki tempat yang sangat terhormat di kalangan umat Islam, terutama karena Salahuddin al-Ayyubi adalah pejuang muslim yang berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem pada 1187 setelah dikuasai tantara salib selama 90 tahun.

Kiprah Salahuddin al-Ayyubi dalam perang salib tersebut menancapkan pengaruh yang dalam seiring dengan residu Perang Salib itu sendiri yang hingga kini terus membayangi pola relasi antara Islam dan kristiani, atau antara Timur dan Barat pada umumnya.

Selain dikagumi kalangan muslim, Salahuddin al-Ayyubi juga memiliki reputasi besar di kalangan Kristen Eropa. Ia dikenal dengan sifat-sifatnya yang mulia, sederhana, cinta ilmu, shaleh, taat beribadah, akrab, dan toleran terhadap orang lain, termasuk kepada kaum nonmuslim.

Salahuddin al-Ayyubi adalah seorang jendral dan mujahid muslim. Di dunia Islam dan Kristen ia dikenal karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang kesatria serta pengampun terhadap musuh-musuhnya.

Salahuddin al-Ayyubi adalah pahlawan paling mengagumkan yang pernah dipersembahkan oleh peradaban Islam sepanjang abad VI hingga VII Hijriah. Berkat Salahuddin al-Ayyubi, umat dan peradaban Islam terselamatkan dari kehancuran akibat serangan dari kaum salib. Umat Islam kembali memperoleh “marwah” nya yang mulia.

Sehingga tidak heran jika Carole Hillenbrand, guru besar studi Islam dan Bahasa Arab Universitas Edinburg, dalam buku The Crusade; Islamic Prespectives yang diterjemahkan Heryadi dengan judul Perang Salib Sudut Pandang Islam, menyebutkan, “Di antara para pemimpin kaum Muslim yang terlibat dalam Perang Salib, terlihatlah SALADIN (Shalahudin al-Ayyubi) mendapat posisi yang terhormat di dalam biografi ilmiah modern”.

Sosok sejarawan seperti Gibb, Ehrenkreutz, M.C. Lyons dan D.E.P. Jackson di antara sekian contoh orang Barat yang memujinya.

IBRAH DARI KISAH INI:

Shalahuddin al-Ayyubi, pahlawan mulia, kesatria yang cerdas, berintegritas serta loyalitas serta komitmen yang tinggi terhadap perjuangan umat Islam. dikenal sebagai tokoh penyelamat pamor dan harga diri umat islam lantaran berhasil menguasai kembali kota suci al-Quds Yerussalem setelah dikuasai kaum Nasrani selama 90 tahun.

Shalahuddin al-Ayyubi, akan selalu dikenang oleh sejarah baik di dunia timur maupun barat karena kesalehan dan keadilannya sebagai pemimpin. Dia dikagumi baik oleh kaum muslimin maupun kaum non muslim.

Kini Baitul Maqdis telah lepas kembali dari tangan umat Islam, berada di cengkeraman kaum zionis yahudi Israel. Kemulyaan tempat suci umat Islam ke tig aitu dalam bayang-bayang kehancuran.

Dan negara-negara Islam sampai saat ini dalam keadaan “Tak Berdaya” menghadapi aggressor dan pengecut Israel.
Wahai kader pejuang Islam berkemajuan, Umat Islam saat ini sedang menunggu kelahiran shalahuddin-shalahuddin (tokoh-tokoh, pejuang se kelas Shalahuddin al-Ayyubi) yang baru, yang mampu menyatukan visi Islam, meninggikan martabat agama Islam, sehingga mampu mengembalikan Al-Aqsha (rumah suci ke tiga umat Islam itu) ke pangkuan Kaum muslimin kembali.

Persatuan dan kesatuan, menjadi kata kunci, sebagaimana firman Allah :
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً –
Artinya : Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah Mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali Imron : 103).

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here